From Strata-Sphere:
Something is definitely still brewing or boiling in the lawless regions of Pakistan along the Afghan border. It seems fighting has broken out in the Khyber Agency of the Federally Administered Tribal Areas (FATA) between Islamo Fascist militants and local tribes along a key transportation line between Afghanistan and Pakistan:
Read more ....
As for NATO and the West, indecision and a lack of direction are still plaguing our forces and allies in Afghanistan:
WASHINGTON (AFP) - More than six years after the September 11 attacks, the United States still does not have a coherent plan to destroy a key staging area for terrorist attacks into the country, according to an independent government watchdog.
There is "no comprehensive plan" to destroy the terrorist threat and close down the safe haven in Pakistan's Federally Administered Tribal Areas (FATA), said the Government Accountability Office (GAO).
The vast, impoverished, mountainous and unpoliced FATA belt shares a border with Afghanistan and is regarded by Washington as a key sanctuary for top terrorists who masterminded the Sept 11, 2001 attacks.
Read more ....
My Comment: This is where many of the leaders of Al Qaeda are probably hiding. As the war in Iraq starts to tone down, expect a shift in involvement and participation of Western governments and forces to this part of the world.
Update: “U.S. Lacks Comprehensive Plan to Destroy Terrorist Threat and Close Safe Haven in Pakistan’s Federally Administered Tribal Areas” - New Congressional report
Update 2: GAO: Terrorists operating freely on Pakistan border -- Yahoo News
Kamis, 17 April 2008
Unduh Bebas Buku-Buku dan Artikel Hukum karya Prof. Jimly
MEMBANGUN HUKUM INDONESIA DI ERA TEKNOLOGI
Oleh: Pan Mohamad Faiz
Oleh: Pan Mohamad Faiz
Kemajuan teknologi di Indonesia kini dirasakan telah memberikan manfaat bagi perkembangan hukum di tanah air, baik itu yang bersifat akademik maupun secara praktik. Setelah Mahkamah Konstitusi menjadi pionir dalam melakukan berbagai terobosan baru dalam hal penggunaan ITC (Information, technology and communication) pada proses peradilannya, yaitu dimulai dari pendaftaran perkara secara online, persidangan dengan menggunakan teleconference, hingga pemuatan setiap putusan di dalam layan (website) resminya tidak kurang dari 15 menit setelah dibacakannya, kini para akademisi hukum pun secara personal telah pula memanfaatkan keunggulan cyber dalam berkarya.Salah satu akademisi yang ikut ambil bagian dalam pemanfaatan IT yaitu Jimly Asshiddiqie, pakar hukum tata negara yang kini juga menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi RI. Tidak lama setelah meluncurkan website pribadinya, kini beragam buku dan artikel hukum karyanya telah "berpose" secara sempurna di website tersebut untuk dapat diunduh secara bebas bagi siapapun yang membutuhkannya. Entah apakah ini merupakan salah satu respon atas tulisan penulis terdahulu atau bukan (wallahualam bish shawab), tetapi satu hal yang pasti bahwa trend pembuatan free e-Book di tengah-tengah keringnya sumber bacaan online yang komprehensif tentang hukum Indonesia, ibarat menemukan oase di tengah gurun pasir yang tandus.
Sebelumnya penulis mendapat kabar bahwa buku-buku karyanya akan dibentuk sebatas format membaca secara online seperti yang dipergunakan oleh Googlebooks, namun ternyata buku-buku tersebut dibentuk dalam format PDF dan artikel-artikelnya disusun dalam format Microsoft Words yang keseluruhannya dapat diunduh (di-download) secara bulat-bulat.
Setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita jadikan catatan positif atas pembuatan free e-Book ini, yaitu:
Pertama, free e-Book dapat menjadi sumber bacaan bagi setiap lapisan masyarakat Indonesia dimanapun dan kapanpun mereka berada. Patut kita sadari bahwa tidak semua buku-buku hukum dalam format hard copy terdistribusi secara baik dan merata hingga sudut-sudut kota, ataupun seluruh pelosok tanah air.
Walaupun memerlukan fasilitas internet untuk memilikinya saat pertama kali, tetapi bagi para pembaca selanjutnya hanya dengan menggunakan CD, flash disk, email, ataupun media lainnya, e-book ini dapat dengan mudah dan cepat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lainnya. Untuk membacanya pun bisa dilakukan langsung melalui layar komputer atau dengan mencetak ulang file tersebut dalam lembaran-lembaran baru.
Tentunya hal ini juga menjadi kabar gembira bagi para mahasiswa ataupun peneliti Indonesia yang kini sedang berada di luar negeri karena kini memperoleh sumber bacaan terbaru tentang perkembangan hukum di tanah air sebagai bahan-bahan pembuatan tugas ataupun penelitiannya. Bagi sebagian kalangan yang kebetulan pernah mengenyam pendidikan di luar negeri, hampir dapat dipastikan pernah merasakan kesulitan untuk memperoleh berbagai sumber dan buku hukum Indonesia ketika harus menjumpai analisa terkini mengenai status hukum di Indonesia, meskipun telah pula dibantu oleh Prof. Google, Ph.D. Sedangkan keterbatasan jumlah buku yang dibawa hanya sebatas pedoman umum yang tidak mampu menjadi pendukung berbagai penyelesaian tugas dan penelitianya. Kini bagi mereka yang bergelut di bidang Hukum Tata Negara, HAM, Kepemerintahan dan sejenisnya, kiranya telah memperoleh salah satu bacaan pokok yang dapat disimpan dan dibawa kemanapun mereka berpergian.
Kedua, penciptaan kreasi e-Book bagi masyarakat Indonesia sebenarnya bukanlah hal yang baru, sebagaimana misalnya kita mengenal Jennie S. Bev sebagai the Indonesian Princess of e-Book yang telah meluncurkan berbagai karya tulisnya dalam format e-Book. Namun, terobosan e-Book yang dilakukan di ranah hukum akan lebih mempunyai arti tersendiri, khususnya dalam memberikan inspirasi dan motivasi para penggiat hukum lainnya untuk mengembangkan ilmu dan berbagai gagasannya.
Banyak yang menilai bahwa budaya dan kesadaran membaca di kalangan peserta akademis Indonesia sangatlah minim apabila dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Hemat penulis, selain tidak ditumbuhkembangkannya "kampanye" budaya membaca sejak dini, baik dari tingkat keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, hingga tampuk kepemimpinan di pemerintahan kita sendiri, minimnya fasilitas pendukung pun juga memberikan andil terhadap rendahanya soft power bangsa ini. Misalnya, jurang pemisah antara harga buku-buku terhadap kemapuan dan daya beli masyarakat cukuplah besar; jumlah perpustakaan yang memilik koleksi buku lengkap masihlah sangat minimnya; tidak tersedianya akses internet untuk mencari sumber bacaan ataupun informasi terbaru; ataupun ketiadaan akses dan dana untuk berlangganan jurnal online dari para penerbit jurnal internasional ternama.
Penulis teringat dengan ucapan salah satu Ketua Pusat Penelitian dan Pengkajian di Jakarta yang mengatakan bahwa selama satu tahun beliau menempuh studi program pascasarjana S-2 di luar negeri, jumlah buku yang ia baca menjadi berkali-kali lipat lebih banyak dari buku yang sempat ia baca selama empat tahun menempuh program sarjana S-1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Alasannya sederhana, di tempat ia mengenyam pendidikan S-2 tersebut seutuhnya telah tercipta suasana dan atmosfer pendidikan yang menyebabkan terjadinya trasnformasi kearah peningkatan minat baca peserta didik, termasuk dengan tersedianya perpustakaan lengkap dan akses online journal dari manca negara.
Oleh karenanya, hadirnya free e-Book ataupun e-Article diharapkan juga menambah semangat membaca dan motivasi di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya dari para penggiat hukum itu sendiri. Penulis yakin hal ini dapat pula menjadi inspirasi jangka panjang bagi para Jimly-Jimly Jr. lainnya.
Ketiga, seiring dengan disahkannya UU Kebebesan Memperoleh Informasi Publik (KMIP), berbagai institusi kepemerintahan sudah seyogyanya pula lebih mempersiapkan diri dan bergerak cepat untuk memanfaatkan kemajuan ITC guna membuka diri seluas-luasnya terhadap berbagai kegiatan dan laporannya, khususnya terkait dengan karya-karya yang dapat menunjang pembangunan pendidikan bagi bangsa Indonesia. Terlebih lagi bagi Institusi yang terkait dengan bidang Ilmu Hukum dan Perundangan-undangan, sudah saatnya mulai menyediakan berbagai informasi utuh dan transparan untuk kebutuhan masyarakat hukum Indonesia. Alangkah disayangkan apabila untuk mencari suatu putusan atau produk perundang-undangan saja, hingga saat kini kita masih harus menggunakan jasa pihak lain guna memperolehnya.
Selain itu, Program Nasional dalam hal penyediaan Akses Gratis Jurnal (Online) Internasional bagi berbagai Institusi Pendidikan di Indonesia harus terus dikumandangkan dan dijalankan secara bertahap. Sehingga di masa yang akan datang, anak negeri ini senantiasa dapat bersaing dengan negara-negara lainnya di bidang kemajuan ilmu pengetahuan tanpa harus berpindah locus pendidikannya dari dalam negeri. Pun kita harus mulai menyadari kini bahwa "The World is Flat", ungkap Thomas L. Friedman.
Akhir kata penulis mengucapkan, selamat menghabiskan akhir pekan ditemani dengan buku-buku hasil unduh secara bebas karya Prof. Jimly. Terus Berkarya!
Salam,
Pan Mohamad Faiz
New Delhi, India
Rabu, 16 April 2008
Nuclear Attack On D.C. A Hypothetical Disaster
From The Washington Times:A nuclear device detonated near the White House would kill roughly 100,000 people and flatten downtown federal buildings, while the radioactive plume from the explosion would likely spread toward the Capitol and into Southeast D.C., contaminating thousands more.
The blast from the 10-kiloton bomb — similar to the bomb dropped over Hiroshima during World War II — would kill up to one in 10 tourists visiting the Washington Monument and send shards of glass flying the length of the National Mall, in a scenario that has become increasingly likely to occur in a major U.S. city in recent years, panel members told a Senate committee yesterday.
Read more ....
My Comment: The key word in this article is .... INEVITABLE.
Iran Says U.S. Aids Rebels At Its Borders
From the Los Angeles Times:BAGHDAD -- A series of conflicts with insurgent groups along Iran's borders may be impelling Tehran to back its own allies in Iraq in what it regards as a proxy war with the U.S., according to security experts and officials in the U.S., Iran and Iraq.
Dozens of Iranian officials, members of the security forces and insurgents belonging to Kurdish, Arab Iranian and Baluch groups have died in the fighting in recent years. It now appears to be heating up once again after an unusually cold and snowy winter.
Read more ...
My Comment: Iran has had problems with separatist groups long before the U.S. led invasion of Iraq. As Iran continues its crackdown of different ethnic groups, and with gas and refining shortages increasing (who in his or hers right mind would want to invest in such a country), economic and political strife can only increase. Saying the U.S. wants to undermine Iran is just another excuse to crack down on its opponents.
The Cost Of War
Military Releases High Casualty Figures -- CBS NewsThe Department of Defense has released its latest American military casualty numbers for those who have served in Iraq and Afghanistan, and the figures reveal non-fatal casualties that go well beyond the more than 4,000 U.S. troops who have died so far.
As of April 5, a total of 36,082 members of the U.S. military have been wounded in action and killed in Iraq, since the beginning of the war in March 2003, and in Afghanistan, where the war there began in October 2001. The 36,082 number breaks down to 4,492 deaths and 31,590 wounded. According to the same DoD "casualty" counts, an additional 38,631 U.S. military personnel have also been removed from the battlefields in Iraq and Afghanistan for "non-hostile-related medical air transports."
Read more ....
My Comment: Gateway Pundit provides a perspective to these figures. My own personal take .... when the Iraq war started pundits were talking about a Stalingrad at the Gates Of Baghdad that will result in 15,000 U.S. servicemen dead and untold thousands wounded. This fortunately never happened. But a long drawn affair that will result in the drip drip of American and Iraqi casualties for the next 5, 10, or 20 years is also in no one's interest.
Unfortunately, I can easily foresee a situation evolving in Iraq that will be similar to the long drawn affair of IRA terrorism and rebellion that lasted in Ireland for decades. At its peak the IRA had almost 300 men under arms .... but these 300 men were effective in holding down a good portion of the British Army for decades.
In Iraq, it is obvious that there are more than 300 men willing to fight against the Iraqi Government and coalition forces.
Selasa, 15 April 2008
War Updates In Afghanistan -- April 16, 2008
Attacks Kill 11 Afghan Cops, 2 NATO Troops -- CBS NewsVolunteer Is Oldest Serviceman To Die In Afghanistan -- Times Online
Afghan Prison Under Red Cross Scrutiny -- MSNBC
Afghan Opposition Says It's Been Talking To Taliban -- Yahoo News
Nato Making Mistake In Afghanistan, Warns Turkish Minister -- The Telegraph
My Comment: This war is going to go on for a long time.
The Crisis In Zimbabwe Continues
Victims Tell Of Torture And Murder In Robert Mugabe's 'Disloyal' Strongholds -- Times OnlineZimbabwe Doctors Say 157 Beaten In Post-Election Violence -- Yahoo News
Tsvangirai Sets Terms For Run-Off -- The Guardian
ANC Hits Out At 'Dire' Zimbabwe Situation -- The Guardian
ANC Breaks With Mbeki To Condemn 'Evident' Crisis In Zimbabwe -- The Independnet
Zimbabwe Opposition Lacks Leverage -- Time Magazine
Zimbabwe Court Rejects Petition For Vote Results -- MSNBC
Zimbabwe's Top Court Won't Release Results -- CBS News
Zimbabwe Strike Flops -- Swiss Info
Police Arrest 36 People In Troubled Zimbabwe -- ABC News
'Arrests' After Zimbabwe Strike -- BBC News
Robert Mugabe's Terror Victims Tell Of Beatings -- The Telegraph
Gordon Brown Ignores Mbeki Snub To Declare That Mugabe Has Lost Election -- Times Online
No One Thinks Mugabe Won Election, Brown Tells UN -- The Guardian
My Comment: I remember 10, 20, 25 years ago when many in the main stream media were talking about the new Africa and how leaders such as Mugabe would transform the continent into a golden age of freedom and prosperity.
I wonder where these reporters are now?
Langganan:
Postingan (Atom)