Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2014

Mobil Milik Pindad Terguling, Ribuan Selongsong Mortir Berserakan di Jalan


Sleman Ribuan selongsong mortir berserakan di jalan. Setelah mobil box yang membawa selongsong mortir ini, terguling di Jalan Wates km 5, Bodeh, Ambar ketawang, Gamping, Sleman, Jumat (24/01/2014) sekitar pukul 01.00 WIB.


Mobil tersebut terguling, setelah ban belakangya meletus. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. Namun sopir dilarikan ke rumah sakit, untuk mendapatkan perawatan.
Kapolres Sleman, AKBP Ikhsan Amin mengatakan, barang-barang tersebut rencananya akan dibawa menuju devisi amunisi di Turen, Malang, Jawa Timur. Selongsong mortir yang berserakan di jalanan kemudian diidentifikasi dan diamankan.

Barang-barang tersebut dibawa ke Mapolres Sleman untuk identifikasi. Identifikasi dilakukan oleh tim Gegana dan dari TNI. Identifikasi ini untuk mengetahui tingkat kebahayaannya, dan mengecek material yang ada.

"Dari kepolisian melakukan identifikasi masalah kecelakaan lalulintasnya, memastikan tidak ada unsur sabotase, dan lain-lain," kata Ikhsan Amin di Mapolres Sleman.

Setelah itu, barang-barang berupa selongsong mortir dan granat ini diserahkan ke Dandim TNI, Denpal dan melanjutkan barang tersebut untuk dikirim ketujuan semula. Barang-barang yang diserahkan dipastikan berdasar fakta yang ada sesuai olah TKP.

Ribuan selongsong mortir ini diangkut oleh truk dengan nomor plat D-8817-VJ dari Pindad Bandung, yang dikemudikan oleh Teddy (32). Truk melaju dari arah barat dan mengalami pecah ban belakang bagian kiri. Mobil kemudian menabrak pagar dan kemudian terguling.

Setelah selesai dilakukan identifikasi di Polres Sleman, barang-barang tersebut diambil oleh TNI menggunakan truk milik TNI. Truk milik TNI sempat mogok saat di Mapolres Sleman. Sehingga harus didorong beramai-ramai oleh personel TNI dan Polisi agar bisa lebih dekat ke tempat selongsong mortir ditaruh.

  detik  

Kamis, 23 Januari 2014

Heli TNI AD yang Hilang Kontak Ternyata Mendarat Darurat




Di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Budiman, mengafirmasi soal kabar selamatnya pesawat heli tersebut.

“Kami mendapat informasi bahwa pesawat helikopter selamat, seluruh awak kondisi baik. Kami juga sudah melaporkan ke pimpinan bahwa seluruh awak selamat,” kata Budiman, Kamis.


Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Brigjen TNI Andika Perkasa mengatakan, pesawat Heli Bell 412 EP/HA 5166 milik TNI AD ternyata melakukan pendaratan darurat, Rabu (22/1/2014). Sebelumnya, pesawat berikut tujuh awaknya yang merupakan anggota Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Satgas Pamtas Indonesia-Malaysia dari Yonif 100/Raider dilaporkan tak diketahui keberadaannya hingga pukul 22.00 Wita, malam tadi.

"Pesawat Heli Bell 412 EP/HA 5166 milik TNI AD ternyata melakukan pendaratan darurat kemarin sekitar pukul 15.00 Wita di Desa Long Tulip, Kecamatan Karang Mentarang, Kabupaten Malinau karena cuaca buruk," demikian keterangan Andika yang diterima Kompas.com, Kamis (23/1/2014) pagi.

Andika mengatakan, seluruh penumpang dan crew dalam keadaan selamat. Jika cuaca memungkinkan, hari ini mereka akan terbang kembali ke Long Bawang. 

Sebelumnya, Heli dilaporkan membawa tujuh anggota Satgas Pamtas dan tiga orang kru heli. Rencananya, heli tersebut akan menuju Bandara Long Bawan, Kecamatan Krayan.

Heli tersebut berangkat dari Bandara Juata pada pukul 13.15 Wita dengan tujuan Bandara Long Bawan, Kecamatan Krayan. Pada pukul 13.53 Wita, dilaporkan heli masih terpantau di radar Bandara Malinau. Namun, pada pukul 14.00 Wita, kontak dengan kopilot Heli Bell 412 dilaporkan menghilang.


Sumber :  KOMPAS

Rabu, 20 November 2013

KRI Teluk Peleng (535) Karam Di Tanjung Priok

JAKARTA : Panglima TNI Jenderal Moeldoko membenarkan kabar soal adanya KRI milik TNI AL yang tenggelam. Namun Moeldoko lebih suka mengatakannya dengan bahasa yang berbeda.

"Itu bukan tenggelam, tapi nyungsep 90 derajat," katanya di kantor Badan Intelejen Strategis, Jl Pahlawan Kalibata, Jakarta, Rabu (20/11/2013).

Moeldoko menjelaskan KRI tersebut nyungsep karena keteledoran komandan kapal. Oleh karena itu sanksi sudah menanti bagi komandan kapal itu.

"Ada risikonya, biasanya komandan kapalnya akan di-grounded," katanya

 
Moeldoko mengatakan rusaknya KRI ini tidak akan berimbas besar pada kekuatan TNI AL. Peran KRI itu sudah tidak lagi signifikan.

"Itu KRI Eks Jerman. Kalau secara keseluruhan dia memang sudah tidak siginifikan lagi. Kapal untuk operasional latihan," katanya.




Sumber : Kompas

Jumat, 08 November 2013

Pesawat Latih Baru TNI AU Alami Masalah



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEib4a6hxqMo4pKTy9SYW74jJATieguOXqkPwfOiRkyVyMcxsuXyns6IX_hMGyt0umZuogy13YrvmKWyGtgCjuGUeE-X0CsPq2UiqdPFm-ywfuwq4MIGAObMqjhf3Wh0IL0Cwfg5Y-J1S-2R/s1600/Grob_Angkasa.jpg
LD 1204
Pendaratan darurat pesawat latih Sekbang Lanud Adisucipto Jogja kembali terjadi. Pesawat latih jenis Grob G120TP-A LD-1204 mengalami lock landing gear saat akan mendarat, Kamis (7/11/2013) sekitar pukul 09.30 WIB.


Sebelumnya peristiwa lock landing gear pesawat latih TNI AU Adisutjipto juga terjadi pada 23 Agustus 2013 lalu pada Charlie nomor LD3416.

Salah satu siswa bernama Marcel mengirim sinyal darurat bahwa roda bagian depan pesawat tidak bisa keluar. Kejadian serupa terulang kembali kemarin dengan pesawat yang justru lebih canggih dan diawaki langsung oleh anggota TNI AU.


Informasi yang dihimpun Harianjogja.com, pesawat latih G120TP-A nomor LD-1204 mendapat giliran terbang sebagai salah satu media latihan Sekbang TNI AU sekitar pukul 09.00 WIB.


Dua personel TNI AU menaiki pesawat tersebut, keduanya merupakan instruktur Sekbang. Dengan dipiloti Letkol Andi Wijanarko dan Pilot Pembantu Mayor Didik, pesawat pabrikan Jerman itu diterbangkan.


Tidak ada kecurigaan sebelumnya karena seluruh komponen pesawat dalam keadaan siap terbang.


Kendati demikian setelah sekitar 30 menit terbang tiba-tiba pilot mengirim sinyal darurat pada Bandara Adisutjipto.


Sinyal lock landing gear dikirim dari kokpit pilot pesawat latih tersebut. Sebagaimana diketahui landing gear merupakan salah satu komponen penting dalam pesawat yang akan membantu pendaratan.


Maka jika terkunci akan menyulitkan upaya pendaratan bahkan bisa menimbulkan kecelakaan.


“Terjadi masalah pada roda sempat tidak bisa keluar saat akan mendarat,” ungkap sumber Harian Jogja di Bandara Adisutjipto, kemarin.


Sinyal darurat yang dikirim sempat membuat geger kawasan Hanggar Skuadron Pendidikan Lanud Adisutjipto dan runway bandara.


Pasalnya, kawasan itu dijadikan sebagai tempat pendaratan darurat pesawat latih tersebut sudah dipenuhi dengan persiapan kedaruratan yang meluncur ke lokasi. Seperti mobil pemadam kebakaran, ambulans dan personel pengamanan darurat lainnya pun siaga penuh dengan situasi tegang.


Komunikasi radio Handy Talkie (HT) bersuara rapat bersahutan antarpersonel penyelamat. Kendati demikian berkat keberanian pilot dalam mengambil keputusan, akhirnya dapat mendarat dengan selamat meski sempat diwarnai ketegangan.



  Harian Jogja  

Rabu, 11 September 2013

Polisi tingkatkan kemampuan intelijen

Wakil Kepala Kepolisian Indonesia, Komisaris Jenderal Polisi Oegroseno, menegaskan, pihaknya meningkatkan kemampuan intelijen menyusul penembakan personel polisi beridentitas Brigadir Kepala Sukardi, di depan Gedung KPK, Jakarta, Selasa malam. 


Sukardi adalah korban kelima penembakan misterius oleh kawanan tidak teridentifikasi yang hampir seluruhnya terjadi di lingkungan Kepolisian Daerah Jakarta Raya.

Sukardi terkapar dan tewas di tempat dalam keadaan memakai seragam lengkap plus helm putih polisi di kepalanya, setelah luka pada dada dan perutnya tak bisa menyelamatkan nyawanya.


Oegroseno, dalam wawancara dengan satu stasiun televisi nasional, menyatakan, "Saya tidak bisa sembarang memberi pernyataan. Yang jelas kami telah memerintahkan personel jangan bergerak sendirian."

Sukardi diketahui bersepedamotor sendirian saat peristiwa yang merenggut nyawanya itu terjadi.

Sementara itu seorang pengamat terorisme Al Chaidar, kepada stasiun televisi Metro TV, mensinyalir kelompok terorisme berada di balik penembakan polisi ini. (Antara)

Kamis, 05 September 2013

Vonis Kasus Cebongan Diputuskan Hari Ini

SIDANG kasus penyeranagan terharap empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta hari ini memasuki pembacaan vonis. Sidang vonis terhadap oknum Kopassus itu akan dilakukan hari ini, Kamis (5/9) dan Jumat besok (6/9).

Terdakwa Kasus Penembakan Lapas Cobongan
Terdakwa Kasus Penembakan Lapas Cobongan | foto : Republika.co.id

Sidang berkas pertama hari ini menghadirkan Sersan Dua Ucok Tigor Simbolon, eksekutor penembakan empat tahanan. Sementara sidang untuk berkas kedua menghadirkan terdakwa Sertu Tri Juwanto, Anjar Rahmanto, Martinus Paulus Banani, Supraptro, dan Herman Siswoyo. Masing-masing terdakwa dituntut dua tahun penjara. Vonis Ucok cs ini akan dibacakan pukul 10 WIB dan dipimpin Ketua Majelis Hakim Letkol Joko Sasmito.


Dua berkas lagi dibacakan Jumat besok (6/9), yakni berkas ketiga dan keempat. Di berkas ketiga, terdakwa adalah Sertu Ihmawan Suprapto yang bertindak sebagai sopir Ucok Cs. Sedangkan dalam berkas keempat terdapat tiga terdakwa, yakni dua anggota Intel Kopassus, Serma Muhammad Zainuri dan Serma Rochmadi. Sedangkan satu terdakwa lainnya dari bagian Provos, yakni Serma Sutar.

Seperti diketahui, pada 23 Maret lalu, ke-12 oknum Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan Kartosura, melakukan penyerangan terhadap empat tahanan di Lapas Cebongan. Hendrik Angel Sahetapi alias Dicky, Yohanes Juan Manbait, Gameliel Yermianto Rohi Riwu alias Adi, dan Adrianus Candra Galaja alias Dedi tewas diberondong senjata. Penyerangan yang dipimpin Serda Ucok ini diduga bermotif balas dendam atas kematian anggota Kopassus Heru Santoso, beberapa hari sebelumnya.

Tim Oditur Militer II-11 Yogyakarta sebelumnya menuntut Sersan Dua Ucok Tigor Simbolon, eksekutor penembakan empat tahanan, dengan penjara 12 tahun serta pidana pemecatan dari kemiliteran. Tuntutan pemecatan juga dikenakan pada Sersan Dua Sugeng Sumaryanto dan Kopral Satu Kodik. Keduanya dituntut pidana penjara 10 tahun dan 8 tahun.  (Jurnas)

Sabtu, 31 Agustus 2013

Satu Anggota Kopassus Gugur dalam Baku Tembak TNI dan OPM di Puncak Jaya

Aksi baku tembak antara personil TNI dengan kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Goliat Tabuni kembali terjadi di Puncak Jaya, Papua, Sabtu, 31 Agustus 2013.


Satu Anggota Kopassus Gugur dalam Baku Tembak TNI dan OPM di Puncak Jaya

Baku tembak terjadi di Distrik Tingginambut sekitar pukul 14.00 WIT. Distrik Tingginambut selama ini dikenal sebagai markas OPM. Akibat insiden baku tembak itu satu anggota TNI tewas dan senjatanya dirampas.

Dari data yang berhasil dihimpun, kontak senjata terjadi secara sporadis, anggota sipil bersenjata itu menyerang Pos TNI Tingginambut secara tiba-tiba. Anggota TNI berupaya bertahan sehingga kontak senjata pun berlangsung.

Satu orang prajurit, Pratu Andry yang bertugas di Pos TNI tertembak di bagian perut dan meninggal dunia ditempat. Kelompok sipil bersenjata yang diperkirakan sekitar delapan hingga belasan orang dipimpin Goliat Tabuni dan Terius Tabuni berhasil merampas senjata Pratu Andry yang berasal dari kesatuan Kopassus. Kelompok sipil bersenjata itu lalu melarikan diri kembali masuk hutan.

Juru Bicara Kodam 17 Cenderawasih Kolonel Lismer Lumban Siantar saat dikonfirmasi membenarkan kejadian itu. "Benar satu anggota TNI dari batalyon Infantri 753 AVT Nabire tewas tertembak dalam insiden itu," kata Lismer.

Saat ini, kata dia, proses evakuasi terhadap Pratu Andry sedang berlangsung. "Korban langsung di evakuasi menuju RS Mulia. Namun karena cuaca buruk tidak bisa dievakuasi ke Jayapura dengan pesawat. Kemungkinan Minggu besok baru dilaksanakan proses evakuasi," ujarnya

Mengenai kronologis aksi baku tembak, Luman Sintar masih enggan membeberkannya. 

VivaNews

Selasa, 20 Agustus 2013

TNI AD Siap Bantu Pengamanan Lapas Labuhan Ruku

Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) Angkatan Darat siap membantu pengamanan pascakerusuhan dan kebakaran yang terjadi di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Labuhan Ruku, Batu Bara, Sumatera Utara, Minggu (18/8).

TNI AD Siap Bantu Pengamanan Lapas Labuhan Ruku

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispen AD) Brigjen TNI Rukman Ahmad, di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa pihakanya sudah mendapat laporan dari lapangan bahwa Komandan Kodim 0208 Asahan, Letkol Inf Ayub Akbar, sudah menginstruksikan kepada personelnya untuk membantu mengerahkan keamanan di Lapas Labuhan Ruku.

"Saya dapat laporan satu Satuan Setingkat Kompi (SSK), koramil, anggota kodim dan jajaran intelijen yang ada di situ ikut membantu, itu info yang saya terima dari lapangan, " kata Rukman.


Menurut dia, dengan adanya nota kesepahaman antara TNI dan Polri, bisa membantu mengatasi permasalahan di Indonesia.

"Memang kan sudah ada MoU antara TNI dan Polri dalam membantu masyarakat, juga sesuai amanat UU Tugas Pokok TNI nomor 34 tahun 2004. Setelah itu kita beri bantuan sesuai prosedur," ujarnya.

Kerusuhan dan kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan Klas 2A Labuhan Ruku pada Minggu (18/8) sore diawali dengan pemukulan terhadap petugas jaga. (Antara)

Jumat, 16 Agustus 2013

Dua Polisi Pondok Aren Tewas Ditembak Orang Tak Dikenal

Aksi teror terhadap anggota kepolisian kembali terjadi, Jumat 16 Agustus 2013. Kali ini menimpa dua orang anggota Polsek Pondok Aren, Tanggerang Selatan.

Dua Polisi Pondok Aren Tewas Ditembak Orang Tak Dikenal

Peristiwa penembakan ini terjadi pada pukul 21.30 WIB di Jalan Graha Raya, Pondok Aren, Tangerang, dekat Masjid Bani Umar. "Dua anggota menjadi korban penembakan, keduanya tewas," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto kepada VIVAnews.

Dua korban atas nama Brigadir Kepala Maulana dan Aiptu Kus Hendratma. Keduanya merupakan anggota satuan pembinaan masyarakat dan satuan Reserse Kriminal.


Kedua jenazah korban, lanjut Rikwanto sedang menuju RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur untuk dilakukan autopsi. "Kami masih melakukan olah TKP," ujar Rikwanto.

Sebelumnya, dua polisi juga ditembak mati di tempat terpisah di Ciputat.

Kronologi Penembakan Dua Polisi Pondok Aren

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto menjelaskan kronologi penembakan dua anggota Polsek Pondok Aren, Tangerang Selatan, Jumat 16 Agustus 2013. Saat itu, kedua polisi, Bripka Maulana dan Aiptu Kus Hendratna, tengah menjalan tugas mereka.

Aiptu Kus Hendratna, kata Rikwanto, mendatangi Mapolsek saat akan apel pukul 22.00 WIB. Apel dilakukan dalam rangka persiapan operasi cipta kondisi usai Operasi Ketupat Jaya 2013 yang selesai, hari ini.

"Saat mau masuk ke Polsek, Aiptu Kus dipepet dua orang yang mengendarai Mio matic warna hitam dan langsung ditembak pada bagian belakang kepala. Korban langsung terjatuh dan meninggal di tempat," ujar Rikwanto kepada VIVAnews.

Melihat aksi tersebut, empat orang yang tergabung dalam tim buru sergap mengejar pelaku menggunakan mobil Avanza. "Anggota Buser kemudian menabrak motor pelaku."

Namun, mobil Polisi itu terperosok ke got tanggul jalan. Pelaku yang turun dari motor datang dan menembak supir Avanza, Bripka Maulana, yang baru keluar dari pintu. "Dia meninggal di tempat," jelas Rikwanto.

Kedua korban, saat ini sedang dibawa ke RS Polri Kramatjati untuk diautopsi. Petugas sendiri, kata Rikwanto, masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa saksi di lokasi kejadian.

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Putut Eko Bayuseno dan juga Kabareskrim Komisaris Jenderal Sutarman sudah berada di lokasi kejadian untuk melihat langsung peristiwa tersebut.


Pelaku Sempat Adu Tembak dengan Polisi

Aiptu Kus Hendratma dan Bripka Maulana tewas ditembak orang tak dikenal di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Jumat 16 Agustus 2013 malam. Para korban menjadi sasaran pelaku saat akan melakukan patroli operasi cipta kondisi menjelang HUT RI ke-68.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, menjelaskan, pelaku yang diketahui menggunakan sepeda motor itu bukan hanya menembakkan amunisinya pada dua korban, tetapi juga ke anggota kepolisian yang lain.

"Sempat terjadi baku tembak antara pelaku dengan tim buser. Pelaku melarikan diri dengan merampas motor masyarakat ke arah Pamulang," ujar Rikwanto kepada VIVAnews.

Rikwanto menambahkan, data yang diperoleh sementara di lapangan menyebutkan, pelaku juga terluka karena tertembak petugas. "Saksi dari masyakat melihat pelaku ada yang terluka dan ada yang memegang pistol. Kami belum mengetahui jenis senjata yang digunakan," jelas Rikwanto.

Ini merupakan teror yang kesekian kalinya terhadap anggota kepolisian. Sebelumnya, dua polisi pun tewas ditembak di tempat terpisah di Ciputat.

Catatan VIVAnews, aksi penembakan juga menewaskan anggota Satuan Lalu Lintas Wilayah Jakarta Pusat, Aipda Patah Saktiyono di Jalan Cirendeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan pada 27 Juli 2013, pukul 04.30.

Disusul kemudian insiden serupa kemudian melanda Anggota polisi satuan Binmas Polsek Metro Cilandak, Aiptu Dwiyatna, 7 Agustus lalu.

Lalu, 13 Agustus lalu, rumah anggota Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Tulam, di Perum Banjar Wijaya Blok B 49/6 RT 02/07 Cluster Yunani, Kelurahan Cipete Pinang, Kota Tangerang, ditembaki orang tak dikenal. 



Ada Pola Sama dari Aksi Penembakan Polisi

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Ronny F Sompie, mengatakan pelaku penembakan anggota Polsek Pondok Aren, Tangerang Selatan ada kemiripan dengan penembakan Aiptu Dwiyatna pada 7 Agustus lalu di Ciputat, Tangerang.

"Ada kemiripan dalam pola penembakan. Sama-sama ditembak dari belakang dan dari jarak dekat," katanya di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Ronny mengatakan, anggotanya yang gugur saat akan melakukan apel di tembak dari jarak dekat. "Dari olah TKP sementara, korban ditembak di bagian belakang dengan jarak antara 2-3 meter," katanya.

Pelaku diperkirakan dalam jumlah sama, yakni dua orang dengan menggunakan sepeda motor.

"Mereka ikuti anggota kami dari belakang, pas menembak dari arah belakang kena leher belakang. Seperti kejadian lalu, dibuntuti," komentarnya.

Ia enggan menjelaskan, apakah insiden penembakan ini ada keterkaitannya dengan kelompok teroris. "Kita masih lakukan pengejaran dan pengembangan. Nanti dari sana kita baru bisa simpulkan," ujarnya lagi.

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto menjelaskan kronologi penembakan dua anggota Polsek Pondok Aren, Tangerang Selatan, Jumat, 16 Agustus 2013. Saat itu, kedua polisi, Bripka Maulana dan Aiptu Kus Hendratna, tengah menjalankan tugas mereka.

Aiptu Kus Hendratna, kata Rikwanto, mendatangi Mapolsek saat akan apel pukul 22.00 WIB. Apel dilakukan dalam rangka persiapan operasi cipta kondisi usai Operasi Ketupat Jaya 2013 yang selesai, hari ini.

"Saat mau masuk ke Polsek, Aiptu Kus dipepet dua orang yang mengendarai Mio matic warna hitam dan langsung ditembak pada bagian belakang kepala. Korban langsung terjatuh, dan meninggal di tempat," ujar Rikwanto kepada VIVAnews.

Penembakan brutal juga terjadi 10 hari lalu, pada 7 Agustus. Aksi itu menewaskan Ajun Inspektur Satu Dwiyatna (50). Anggota satuan Pembinaan Masyarakat Polsek Metro Cilandak itu ditembak orang tak dikenal di Jalan Otista Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, pada pukul 05.00.

Saat ditembak, Aiptu Dwiyatna sedang mengendarai sepeda motor dinasnya, Suzuki Smash bernomor polisi 2643-31 VII. Ketika itu Dwiyatna akan menuju Lebak Bulus untuk memberikan ceramah subuh. Namun, di tengah jalan, dia dipepet oleh dua orang yang mengendarai sepeda motor, dan ditembak hingga tewas. (VivaNews)

Jumat, 09 Agustus 2013

Tiga Anggota Polisi Dibacok di Dalam Kereta

Tiga anggota Sabhara dari Kepolisian Daerah Sumatera Selatan menjadi korban pembacokan di dalam kereta api jurusan Empat Lawang-Palembang, Kamis (8/8/2013) pukul 03.30.

Tiga Anggota Polisi Dibacok di Dalam Kereta

Pembacokan terjadi saat kereta berada di wilayah Prabumulih. Selain tiga polisi, dua warga sipil juga jadi korban pembacokan. Semua korban kini sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Bunda Prabumulih.

Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Kombes R Djarot Padakova menjelaskan, peristiwa berawal ketika anggota polisi naik kereta api. Saat anggota sedang tidur, tiba-tiba pelaku datang.


"Tersangka lalu mengamuk, membacok penumpang. Ada tiga anggota Sabhara Polda dan dua warga sipil penumpang umum jadi korban," jelas Djarot.

"Sekarang dua anggota polisi mengalami luka serius, akan dioperasi di RS Bunda Prabumulih," imbuh Djarot.

Pelaku pembacokan adalah warga sipil yang diduga mengalami depresi. Pelaku telah diamankan polisi. Pelaku bernama Muntalif (56), warga Jalan Kebun Lima RT 02 RW 05, Kelurahan Tanjung Senang, Kecamatan Kota Bumi Selatan, Lampung Utara, Lampung.

Berdasarkan pengakuan sementara, pembacokan dilakukan karena Muntalif khilaf ketika petugas kereta api menagih tiket. Muntalif kemudian marah dan membacok sang petugas tiket.

Pembacokan kemudian membabi buta dan mengenai Misdi (34), warga Cinta Tanjung Kayu Agung, OKI, serta seorang penumpang bernama Arifin bin Mukrin (59), warga Jalan Urip Sumoharjo, Kelurahan Pasar I Prabumulih Utara.

Muntalif kemudian membacok Bripda Hary yang terbangun ketika mendengar keributan. Bripda Rizky yang sedang tertidur juga terkena bacokan Muntalif. Mendengar kegaduhan itu, Bripda Tri Sutrisno yang tertidur di sebelahnya terbangun.

Melihat pelaku akan membacoknya, dengan sigap Tri menahan bacokan menggunakan tangan, dan terjadi perkelahian. Beruntung, Tri yang dibantu penumpang lain berhasil membekuk Muntalif dan membawanya ke Mapolsek Prabumulih Barat. (Kompas)

Tim Cyber Crime Polri Usut Pembunuhan Sadis Sisca

Tim Cyber Crime Mabes Polri tengah memeriksa telepon genggam yang ditemukan di lokasi tewasnya seorang perempuan cantik, Franciesca Yofie, di Jalan Cipedes RT 7 RW 1 Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. Franciesca atau Sisca ditemukan sekarat setelah diseret dua pelaku dengan sepeda motor, Senin malam, 5 Agustus lalu. 

Tim Cyber Crime Polri Usut Pembunuhan Sadis Sisca

Kepada wartawan, Jumat 9 Agustus 2013, Kabid Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Pol. Martinus Sitompul mengungkapkan Mabes Polri juga memeriksa dua telepon genggam lain yang ditemukan di kos Sisca. "Tim Cyber Crime Mabes Polri memeriksa handphone korban untuk mencari petunjuk lainnya," kata dia.

Nantinya, Martinus menambahkan, Tim Cyber Crime akan mengkloning barang bukti untuk kemudian dibedah. "Dari situ, kami akan tahu seluruh kontak dan interaksi korban sama siapa saja, baik itu percakapan, SMS, dan MMS. Semua akan diurai," tuturnya.

Polisi juga memeriksa CCTV yang merekam insiden tragis itu.

Diberitakan sebelumnya, Sisca--dia menjabat sebagai Branch Manager PT Venera Multi Finance--ditemukan tak bernyawa dengan luka di sekujur tubuh dan luka bacok di bagian kepala.

Menurut keterangan sejumlah saksi di lokasi, Sisca pulang bekerja pada hari Senin sekitar pukul 18.30 WIB. Dia kemudian memarkir mobil Nissan Livina X-Gear di halaman indekosnya di Jalan Setra Indah Utara No 11, Cipedes, Sukajadi.

Saat Sisca membuka pagar, tiba-tiba dua orang yang mengenakan helm full face menarik Sisca dan menganiayanya. Tak hanya itu, mereka kemudian menyeret tubuh perempuan tak berdaya ini selama 10 menit, menggunakan sepeda motor dengan kecepatan tinggi.
Ditemukan warga dalam kondisi sekarat, Sisca tewas dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Hingga kini, polisi masih memburu dua pelaku kejahatan sadistis tersebut. Polisi menduga pembunuhan ini direncanakan. (VivaNews)