Tampilkan postingan dengan label Marinir RI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marinir RI. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Januari 2014

Serah Terima 37 Unit Tank BMP-3F Rusia




Sebanyak 37 unit kendaraan tempur amfibi Tank BMP-3F buatan Rusia kembali memperkuat Alutsista TNI AL. Puluhan kendaraan lapis baja itu masuk jajaran Resimen Kavaleri Marinir, setelah diserahkan secara remi oleh Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro kepada jajaran Korps Marinir di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Minggu (27/01). 

Hadir dalam acara serah terima Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M.Hum, Dankorrmar Mayjend TNI (Mar) Faridz Washington, Duta Besar RI untuk Rusia Djauhari, Duta Besar Rusia untuk RI Mikhail Galuzin serta rombongan dari Komisi-1 DPR RI, pejabat teras Mabes TNI dan Kemhan.

Dalam acara serah terima dilaksanakan penandatanganan naskah penyerahan 37 unit BMP-3F dari pihak Rusia ke Dephan kemudian ke Mabes TNI dan terakhir ke pihak TNI AL. Dalam konferensi pers dengan media, Menhan didampingi Panglima TNI, Kasal, Dankormar serta anggota Komisi-1 DPR RI Mahfudz Sidiq.

Pada kesempatan itu Menhan mengatakan, selain kerjasama pembelian BMP-3F juga dilakukan transfer teknologi antara RI dan Rusia. Dalam hal ini untuk sistem dan senjata BMP-3F akan diproduksi di PT. Pindad. Menhan juga mengatakan Indonesia saat ini sedang menjajaki kerja sama untuk pembelian kapal selam Kelas Kilo. Jajaran Kemhan mengajukan spesifikasi untuk Alutsista tersebut diantaranya yaitu minimal Kapal selam tersebut mampu menembakkan misil  pada saat menyelam. Selain itu spesifikasi lain yang menjadi perioritas yakni jangkauan misil dari kapal selam tersebut minimal 200 sampai 300 kilo meter.


Mengutip dari konferensi pers tersebut Panglima TNI mengatakan akan meng-upgrade Panser Amfibi AMX-13 yang ada di jajaran Korps Marinir. Selain itu secara bertahap AMX-13 akan diganti dengan Alutsista yang baru. Selanjutnya Kasal juga menambahkan bahwa Panser Amfibi PT-76 akan diremajakan dengan Alutsista baru pada Rencana Setrategis dua periode tahun 2015 sampai dengan 2019.  Saat ini menurut Kasal, ada sebanyak 70 unit Tank PT-76 masih memperkuat jajaran Korps Marinir. Pada tahap awal sebagai pengganti PT-76 akan didatangkan sebanyak 55 unit Tank BTR-4. Dengan demikian Korps Marinir akan memilki satu Batalyon Ranpur BTR-4. “Pada Renstra dua dan tiga akan ditambah lagi satu Batalyon BTR-4”, kata Kasal.


Dalam klausal kesepakatan kontrak di antaranya tertulis bahwa selama proses pembuatan Tank Amfibi BMP–3F dapat diawasi oleh empat personil Tim Techrep (tim pengawasan produksi) dari Korps Marinir. Selain itu Korps Marinir juga mengirimkan enam prajuritnya dari Resimen Kavaleri untuk dapat mengikuti pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan tank terebut.

Pelaksanaan pelatihan dilaksanakan selama lima bulan di Pusat Pelatihan Pabrik Kendaraan Tempur Kurganmashzavod, Kurgan, Rusia. Para prajurit Korps Marinir tiba pada pertengahan bulan Juni 2013 lalu dan selesai melaksanakan pelatihan pada bulan November 2013. Semua materi pelajaran diajarkan oleh para instruktur yang memiliki pengalaman yang cukup tinggi dalam hal perkembangan dan teknologi kendaran tempur Rusia. Materi pelajaran yang diterimakan dalam bentuk teori di kelas, praktek lapangan di pabrik, serta praktek uji coba senjata, mengemudi di darat, laut, serta praktek melaksanakan evakuasi tank di Ground Test Facility yang berjarak sekitar 30 km di luar kota Kurgan, Rusia.

Materi pelajaran yang diterima, antara lain, pengetahuan tentang pengoperasian tata tembak senjata dan  pemeliharaan persenjataan canggih yang ada di tank. Pengetahuan tentang pengoperasian dan pemeliharaan sistem komunikasi. pengetahuan tentang pemeliharaan dan perbaikan sistem kelistrikan. pengetahuan tentang pemeliharaan dan perawatan mesin, serta sistem penggerak dan suspensi hidrolis tank.   pengetahuan tentang pengawakan dan mengoperasikan kendaraan tempur BREM-L sebagai kendaraan recovery dan kendaraan pendukung (supporting vehicle) untuk Tank Amfibi BMP-3F, yang memiliki peralatan mulai dari crane kapasitas 11 Ton, peralatan las aluminium, potong plat, dan peralatan perbengkelan lainnya guna mendukung perbaikan dan pemeliharaan Tank Amfibi BMP-3F, sampai dengan bongkar pasang mesin, transmisi, dan senjata utama (100 mm beserta turret-nya).


BMP, dalam bahasa Rusia Boyevaya Mashina Pyekhota, Sebelumnya TNI AL sudah memperoleh Tank BMP-3F pada tahun 2010 sebanyak 17 unit, jadi total semuanya sebanyak 54 unit. BMP-3F akan menjadi kekuatan utama marinir sebagai bagian dari komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL. Kontrak pembeliannya 37 unit BMP-3F resmi ditandatangi oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo bersama Kepala Perwakilan JSC Rosoboronexport (Rusia), Jumat, 11Mei 2012, di Kantor Kementrian pertahanan (Kemhan) RI. Selain kontrak pembelian dilakukan juga penandatanganan kerjasama Transfers of Technology (ToT) yang memungkinkan kedepanya indonesia bisa memproduksi sendiri Tank BMP 3F.

Rencananya TNI AL, akan melengkapi BMP-3F menjadi satu batalion. Menhan merencanakan kebutuhan ranpur untuk AL sebanyak 95 unit terdiri dari 81 unit BMP-3F, 10 unit BMP-3FK (versi komando), dan 4 unit BREM-L (versi bengkel). Dengan kehadiran ranpur tersebut Indonesia memasuki masa baru kendaraan tempur invantri amfibi. Indonesia menandatangani kontrak dengan Rusia untuk pengadaan 37 unit kendaraan tempur amfibi untuk Marinir TNI AL senilai lebih dari $ 100 juta. Pengadaan 37 unit tank amfibi BMP-3F dari Rusia ini merupakan program pengadaan 2012.

BMP-3 dirancang berkemampuan amfibi penuh, melaju di permukaan air memakai sistem hidrojet, bukan sistem penggerak rantai roda seperti pada BMP-1 dan BMP-2. Kecepatan berenang maksimal 10 km/jam, daya tahan berenang selama 7 jam. BMP-3F, varian BMP-3 yang dirancang untuk pendaratan amfibi Marinir AL terdapat tambahan snorkel di atas badan belakang dan alat pemecah ombak di depan badan kendaraan. Mampu berenang pada level sea state 3, akurasi tembakan sambil berenang masih akurat pada sea state level 2. Sea state adalah indikator kondisi gelombang laut menurut Badan Meteorologi Dunia, level 2 berarti tinggi gelombang berkisar hingga setengah meter, level 3 berarti tinggi gelombang berkisar hingga 1,25 meter.  BMP-3F mempunyai kecepatan di medan berlumpur 45 km, 70 km di jalan raya, 10 km di air dan mampu berjalan mundur dengan kecepatan 20 km.

Kemampuan kendaraan tempur (ranpur) ini selain bisa beroperasi di darat, dia juga bisa memusnahkan musuh dari air. Oleh sebab itu, ranpur ini disebut sebagai tank amphibi yang tangguh. Ranpur BMP-3F mampu melaju dengan kecepatan 70 Km/jam di darat ini juga dilengkapi dengan sistem sirkulasi udara (NBC) yang berguna untuk menanggulangi peperangan Nuklir, Biologi dan Kimia (Nubika). BMP 3F merupakan salah satu ranpur infanteri bersenjata berat yang disegani di seluruh dunia. Dilengkapi dengan alat komunikasi R 173 dengan jarak jangkau maksimum 12 km. Sementara Jika keluar malam, tank ini memiliki sinar inframerah dan teropong bidik sasaran. Sementara untuk sistem operasional persenjataan tank yang mampu menampung 10 orang personel yang terdiri dari 7 orang pasukan dan 3 orang awak ini menggunakan sistem manual dan elektrik.



Untuk pengerahan cepat, unit BMP-3 mudah diangkut dengan pesawat angkut taktis C-130 Hercules atau Antonov An-12. Pesawat kargo jumbo An-124 Ruslan mampu memuat 4 unit. Bahkan helikopter angkut berat Mi-26 bisa mendrop BMP-3 menggunakan platform parasut khusus. Fleksibilitas, ketangguhan di segala medan, kekuatan pemukulnya BMP-3 menjadikan senjata utama sebagai kendaraan tempur infantri andalan dalam angkatan bersenjata di berbagai negara termasuk Indonesia. Tercatat ada 10 negara yang menggunakan BMP-3 yaitu Rusia, UEA, Venezuela, Kuwait, Korsel, Sri Lanka, Cyprus, Indonesia, Ukraina, Azerbaijan, dan Yunani. Bahkan yang mengejutkan, Korea Selatan yang dikenal pengasup setia teknologi militer dari Amerika Serikat, nyatanya juga memiliki 70 unit BMP-3F.

BMP–3F yang diproduksi oleh Rusia adalah kendaraan tempur lapis baja yang bisa dikatakan sempurna dari segi teknologi dan kebutuhan pertempuran masa kini (Pertempuran Asimetris). Awalnya angkatan bersenjata Rusia mulai menggunakan Ranpur jenis BMP sejak tahun 1980 dengan type BMP–2 (sekelas BVP-2 Slovakia, seperti yang dimiliki Marinir TNI AL), pada akhir dasa warsa 1980-an. Hasil uji coba dalam iklim yang berbeda, baik di darat maupun di laut menegaskan efisiensi dan efektifitas yang tinggi pada BMP–3 F.

BMP–3F memiliki beberapa fitur khusus antara lain Kontruksi (chasis) BMP–3F memungkinkan untuk dimodernisasi, mudah perawatannya dan minim pemeliharaan.  Dengan adanya beberapa penyempurnaan BMP–3F menjadi ranpur segala medan yang cukup berat, namun hal ini bisa diimbangi dengan manuver dan pertahanan diri yang lebih baik. BMP–3F mengaplikasi persenjataan baru (SKS Arteleri – Roket – Meriam) dengan sistem kontrol penembakan secara otomatis.

BMP-3F mampu menembak tepat dari segala jenis senjata saat bergerak karena BMP-3F sudah menggunkan skema balok pengontrol penembakan otomatis yang baru (pola stabilizer sistem baru). Kunstruksi persenjataan BMP–3F merupakan penggabungan dalam satu komponen (single-turet) yakni Meriam, peluncur roket berkaliber 100mm, kanon otomatis berkaliber 30 mm dan Mitraliur berkaliber 7,62 mm. Penggabungan ini memungkinkan awak ranpur dapat memilih dengan cepat keperluan penggunaan senjata dalam situasi tempur tergantung dari sasaran yang diinginkan baik darat, laut maupun udara.

Sistim pengontrol penembakan otomatis yang terdiri dari stabilisator senjata alat pembidik, kombinasi dengan stabilisasi pembidikan dalam 2 bidang : Azimut dan Elevasi (tinggi di atas permukaan laut) alat pengukur jarak/ lasser, alat pembidik komandan kendaraan, alat perhitungan lintasan tembakan, alat pengumpul data. Sistem pengontrol penembakan otomatis itu memberi kesempatan kepada satuan infantry melaksanakan tugas taktis yang mereka hadapi (KSIT), penggunaan senjata secara efisien dan memperlihatkan keunggulannya dibandingkan dengan system pengontrol penembakan yang tidak otomatis. Alat sistem pengontrol penembakan otomatis BMP–3F mampu mempertimbangkan berbagai data (diturunkannya atau dinaikannya alat pengontrol BMP-3F) untuk bidikan tepat, oleh karena itu penembakan dari segala jenis senjata akan selalu tepat.

Hasil penembakan yang tepat sama ketika BMP–3 digunakan di pegunungan atau menembaki sasaran udara seperti helikopter yang terbang hover/terbang diam. Untuk menembak dengan roket kendali atau peluru berkaliber 100 mm dan peluru berkaliber 30 mm hanya perlu ditekan satu kenop, fungsi pembidik tidak berubah sambil menembak dari segala jenis senjata, amunisi bagi meriam mesin berkaliber 30 mm dan mitaliur (kal 76,2mm) dimasukkan ke dalam "pitaban" peluru yang tidak putus-putusnya dan dapat digunakan lagi tanpa diisi kembali, peluru fragmentation/ asap dan brisan/pecah berkaliber 100 mm terletak di dalam otomat pengisian yang memungkinkan menembak 10 peluru/menit.

Jika dibandingkan dengan kendaraan berlapis baja, baik buatan Rusia maupun buatan negara Barat, maka  bisa dilihat kekhususan prinsipil yang utama BMP–3 F, yaitu bahwa seksi motor transmisi ditempatkan di bagian belakang badan BMP – 3 F dan di bagian depan badan BMP–3 F dipasang tiga mitraliur PKT dan PKTM serta ditempatkan seksi pasukan infantri pendarat karena itu efisiensi tembakan sepanjang arah gerakan BMP – 3 F jadi meningkat. Jika pasukan pendarat berada diluar BMP–3 F pengemudi sendiri mampu menembak dari mitraliur–mitraliur itu, persediaan amunisi untuk mitraliur berkaliber 7,62 mm berjumlah 6.000 peluru.

Berkat mitraliur itu kekuatan gempur BMP–3F meningkat, untuk dapat menghancurkan musuh yang berjarak dekat sedang. Data dari “Jane’s Soviet Intelligence Revier” menyatakan bahwa spesialis militer dari Negara-negara barat menilai tinggi kemampuan BMP–3F.

Sebagai perbandingan antara BMP–3 F dengan ranpur lain yakni Ranpur ini memungkinkan melaksanakan berbagai tugas yang dihadapi dan dapat digunakan sebagai bantuan tembak jarak jauh/ dekat dan sebagai Ranpur pengangkut personil berlapis baja penghancur Tank (Ranpur lain) dengan Roket. BMP–3 F dapat digunakan bersama Infanteri untuk meningkatkan kemampuan anti Tank dengan bantuan tembak jarak jauh atau dekat ketika jumlah Tank dikurangi. Pada saat ini di negara barat belum ada panser tempur yang mempunyai kekuatan menyerupai seperti BMP–3 F. Hasil perbandingan Ranpur BMP–3 F dengan Ranpur USA M2 "Bradley" menunjukkan bahwa BMP–3 F mengungguli M2 dalam daya gerak dan daya tembak.

MP-3, tipe 3F dirancang dengan kemampuan tambahan untuk bisa berenang dengan lebih baik, yakni mampu menantang ombak laut di level 2, dan bisa beroperasi di laut selama 7 jam. Untuk menunjang kemampuan amfibinya, BMP-3F dapat dilengkapi snorkel.

Senjata andalan BMP-3F adalah kanon kaliber 100 mm. Kanon ini dirancang untuk menembakkan peluru/ roket non-kendali (shell). Kanon jenis ini masuk dalam kategori balistik sedang, dengan kecepatan tembak berkisar 250m/detik. Selain itu terdapat platform peluncur rudal kendali anti tank (ATGM), baik yang diluncurkan langsung melalui laras meriam (laser guided system) maupun yang terpasang pada badan panser. diri dari dua bidang stabilisator dari pembidik kaca utama dan sebuah sensor gyroscope.

Konstruksi persenjataan BMP-3F merupakan penggabungan dalam satu komponen (single-turet): meriam, peluncur roket berkaliber 100 mm, kanon otomatis berkaliber 30 mm dan mitraliur berkaliber 7,62 mm. Dengan penggabungan ini memungkinkan awak tank dapat memilih model keperluan penggunaan senjata yang tersedia dikaitkan dengan situasi, kondisi serta medan tempur, tergantung sasaran yang dipilih untuk dihancurkan baik sasaran di darat, laut maupun udara.

BMP-3F memiliki bobot kurang lebih 18,7 ton, panjang 8 meter, lebar 3,5 meter dan tinggi 2,5 meter, kapasitas awak 3 orang serta 7 personel pasukan bersenjata lengkap. Bila dipandang dari segi bobot, BMP-3F kini menduduki kendaraan tempur kavaleri terberat yang dimiliki Korps Marinir, bahkan menjadi arsenal ranpur kelas berat nomer satu dibanding beragam jenis tank yang dimiliki Marinir. 


Sumber : Koarmatim

37 BMP-3F dari Pemerintah Rusia Diserahterimakan di Situbondo



Situbondo • Upaya meningkatkan kecanggihan dan modernisasi peralatan tempur TNI terus dilakukan. Sebanyak 37 unit Tank Ampibi BMP-3F kembali akan diterima pemerintah dari Pemerintah Rusia. Penyerahan tank buatan Kurganmashzavod Rusia itu akan dilakukan di Titik Tinjau T-12 Puslatpur Marinir Karangtekok, Situbondo.


Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro akan memimpin langsung upacara penyerahan tank Ampibi BMP-3F dari Rusia. Berikutnya, tank modern produksi Rusia itu secara resmi akan diserahkan kepada Komandan Korps Marinir TNI AL Mayjen TNI (Mar) A. Faridz Washington.

"Dengan diserahkannya 37 unit Tank Ampibi BMP-3F ini, maka Korps Marinir memiliki 54 tank BMP-3F. Sebelumnya juga pernah menerima 17 unit, pada 11 Desember 2010 lalu," kata Kepala Dispenal Laksma TNI Untung Suropati dalam rilisnya, Senin (27/1/2014).


Dijadwalkan turut hadir dalam upacara penyerahan itu di antaranya Panglima TNI Jendral TNI Dr. Moeldoko, Kasal Laksamana TNI Dr. Masetio, Kasad Jendral TNI Budiman, Kasau Marsekal TNI I Putu Dunia, Dubes Rusia untuk Indonesia dan sejumlah pejabat Kemhan RI, Mabes TNI dan Mabes AL.


Usai upacara, Menhan Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Jendral TNI Dr Moeldoko dan sejumlah pejabat TNI lain akan diberi kesempatan untuk mengikuti pelaksanaan uji coba penembakan Tank Ampibi BMP-3F. Juga ada atraksi kesenjataan lain dari Korps Marinir dalam bentuk manuver lapangan.


"Tank Ampibi ini dibuat oleh pabrik Rusia sebagai realisasi dari pelaksanaan kontrak jual beli antara Kemhan RI dengan perusahaan Rusia Rosoboronexport," pungkas Untung Suropati.



  detik  

Selasa, 21 Januari 2014

Marinir Unjuk Gigi di Natuna

 
FINAL PLANNING CONFERENCE MULTILATERAL NAVAL EXERCISE KOMODO 2014 (photo: marinir.mil.id)
FINAL PLANNING CONFERENCE MULTILATERAL NAVAL EXERCISE KOMODO 2014 (photo: marinir.mil.id)
Marinir unjuk gigi di Natuna. Tak tanggung-tanggung dalam latihan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2014, Maret hingga April 2014, Korps Marinir TNI-AL akan menjadi tuan rumah dari pasukan 18 Negara yang berlatih di Laut Natuna, Kepulauan Riau.


18 negara yang terlibat adalah yang tergabung dalam organisasi ADMM (Asean Defense Miniters Meeting) plus, diantaranya Philippina, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, Kamboja, Amerika Serikat, Australia, China, Russia, Jepang, India, Korea Selatan, dan Selandia Baru.

Mengkordinasikan pasukan dari belasan negara dalam sebuah latihan perang bersama, tentulah bukan perkara mudah. Semua pasukan harus bermanuver berdasarkan skenario yang ditentukan. Belum lagi unsur komunikasi, logistik, persenjataan, serta kendaraan tempur yang dibawa oleh masing-masing negara.

Marinir akan memimpin pasukan dari 18 negara dalam sebuah latihan perang. Jika latihan ini sukses, maka bisa dibilang kemampuan organisasi di tubuh Marinir, patut diacungi jempol. Profesional.


FINAL PLANNING CONFERENCE MULTILATERAL NAVAL EXERCISE KOMODO 2014 (photo: marinir.mil.id)
FINAL PLANNING CONFERENCE MULTILATERAL NAVAL EXERCISE KOMODO 2014 (photo: marinir.mil.id)


Hingga kini mungkin belum ada satuan lain di tubuh TNI yang melakukan latihan perang yang melibatkan perwakilan negara yang begitu banyak. Kurang lebih 18 negara. Blessing in disguise buat marinir adalah, semua negara-negara itu berkepentingan dengan keamanan Laut China Selatan.

Coba kalau latihannya pindah ke Situbondo atau Cilacap, mungkin banyak negara itu, tidak akan ikut serta. Jadi pilihan Marinir mengambil lokasi latihan di Natuna, sebuah terobosan yang brilian. China saja yang menjadi semacam “common enemy” dari negara-negara Asia Tenggara dan Timur dalam kasus Sengketa di Laut China Selatan dan Timur, memilih ikut dalam latihan ini.

Dengan demikian, faktor yang paling sulit adalah menentukan negara mana yang dianggap sebagai musuh bersama. Bisa ditebak musuh yang akan disimulasikan dalam latihan adalah kelompok teroris dari negara antah berantah.



marinir-3

Menjelang latihan bersama MNEK 2014 tersebut TNI Angkatan Laut menyelenggarakan rapat Final Planning Conference (FPC) yang berlangsung selama 2 hari pada tanggal 16-17 Januari 2014 di Swiss-bell hotel Batam. Kegiatan ini dihadiri oleh delegasi Indonesia sebagai tuan rumah dan 18 negara yang tergabung dalam organisasi ADMM (Asean Defense Miniters Meeting) plus, diantaranya Philippina, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, Kamboja, Amerika Serikat, Australia, China, Russia, Jepang, India, Korea Selatan, dan Selandia Baru.

Rapat FPC dibuka oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Marsetio  dilanjutkan dengan pembahasan materi diskusi yang dipimpin Komandan Gugus Tempur Laut Koarmabar (Danguspurlabar) Laksamana Pertama TNI Dr. A. Oktavian, sebagai Direktur Latihan.

Rapat dilanjutkan paparan dari masing-masing bidang serta session tanya-jawab. Paparan Encap disampaikan oleh Letda Marinir Suyudi. Usai paparan, masing-masing peserta delegasi negara sahabat menajamkan hasil Mid Planning Conference (MPC) MNEK 2014 yang telah dilaksanakan pada tanggal 13 November 2013 di Jakarta.


FINAL PLANNING CONFERENCE MULTILATERAL NAVAL EXERCISE KOMODO 2014 (photo: marinir.mil.id)
FINAL PLANNING CONFERENCE MULTILATERAL NAVAL EXERCISE KOMODO 2014 (photo: marinir.mil.id)

Tim Encap Korps Marinir yang diketuai oleh Komandan Resimen Bantuan Tempur-2 Marinir (Danmenbanpur-2 Mar) Kolonel Marinir Tri Subandiana sebagai Dansatgas memimpin jalannya diskusi dengan memberikan penjelasan rinci kepada tiap-tiap delegasi negara sahabat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penempatan personel negara peserta di dua kepulauan besar yaitu Anambas dan Natuna, serta asset yang akan digunakan, akomodasi, dukungan logistik dan jenis-jenis proyek yang akan dikerjakan.

Kegiatan rapat ditutup oleh Pangarmabar Laksmana Muda Arief Rudianto dilanjutkan hari kedua survey lapangan. Hadir dalam kegiatan ini Danpasmar-2 Brigjen TNI (Mar) Denny Kurniadi, Danpasmar-1 Brigjen TNI (Mar) Siswoyo Hari Santoso dan Asops Kormar Kolonel Marinir Purwadi. (sumber: marinir.mil.id).

Sabtu, 16 November 2013

15 Ribu Marinir Segera Ditempatkan di Papua

http://www.elshinta.com/v2003a/images/foto/TNI-AL%20copy.jpg



Jakarta, Sebanyak 15 ribu prajurit marinir segera ditempatkan di Sorong, Papua untuk mendukung keamanan dan pertahanan komando wilayah laut timur.

Kesatuan baru ini merupakan bagian yang nantinya akan menjadi Divisi III Marinir.
Demikian dikatakan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Marsetio saat menghadiri HUT Korps Marinir di Cilandak, Jakarta, Jumat (15/11) siang.

Kasal mengatakan, pembangunan markas komando sudah dilaksanakan sejak 2012 lalu, dan sesuai target pada tahun 2013 ini pembangunan sarana dan prasarana Divisi III telah selesai.

Selain pembangunan markas komando, di kompleks KM16 ini lanjut Kasal, juga akan dibangun barak-barak mariner, perumahan untuk anggota dan fasilitas penunjang lainnya.

Saat ini mabes TNI AL tinggal menunggu peraturan presiden turun, yang dijelaskan Kasal akan terbit pada awal 2014. Sambil menunggu perpres tersebut, TNI AL terus melengkapi kebutuhan alutsista terbaru.

Lebih lanjut, Kasal mengatakan, pembentukan Divisi III Marinir di Sorong Papua sudah menjadi kebutuhan pokok. Saat ini marinir baru memiliki setingkat tiga brigade, yaitu di Surabaya, Jakarta dan Lampung. Sementara tugas marinir sendiri menjangkau seluruh Indonesia, terlebih untuk pengamanan pulau terluar yang tidak berpenghuni, menjadi kewajiban marinir.

Untuk wilayah Indonesia bagian timur, kekuatan marinir masih dirasakan kurang karena baru ada kekuatan setingkat satu batalyon. Dengan kekuatan tersebut dinilai tidak cukup ideal untuk mengamankan wilayah Papua yang luas.



  Elshinta  

Kamis, 14 November 2013

HUT Marinir Ke-68.......Selamat..!!

 
Jakarta  KASAL Laksamana TNI Marsetio (kiri) selaku inspektur upacara melakukan pemeriksaan pasukan pada Upacara Peringatan HUT ke-68 Korps Marinir TNI Angkatan Laut di Lapangan Apel Hartono Kesatrian Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (15/11). Pada peringatan HUT ke-68 Korps Marinir tahun 2013 bertema "68 Tahun Marinir Untuk Indonesia" ini juga digelar demo atraksi seperti bela diri Marine Martial Arts, penampilan kombinasi panahan, penyergapan dan perkelahian di atas tank amfibi BMP-3F dan serbuan mekanis dengan menggunakan kendaraan tempur.


 
KASAL Laksamana TNI Marsetio (kanan) didampingi Dankormar Mayjen TNI (Mar) A. Faridz Washington (kiri) menghadiri Upacara Peringatan HUT ke-68 Korps Marinir TNI Angkatan Laut di Lapangan Apel Hartono Kesatrian Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (15/11). Pada peringatan HUT ke-68 Korps Marinir tahun 2013 bertema "68 Tahun Marinir Untuk Indonesia" ini juga digelar demo atraksi seperti bela diri Marine Martial Arts, penampilan kombinasi panahan, penyergapan dan perkelahian di atas tank amfibi BMP-3F dan serbuan mekanis dengan menggunakan kendaraan tempur.

 
KASAL Laksamana TNI Marsetio (kedua kiri) selaku inspektur upacara melakukan pemeriksaan pasukan pada Upacara Peringatan HUT ke-68 Korps Marinir TNI Angkatan Laut di Lapangan Apel Hartono Kesatrian Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (15/11). Pada peringatan HUT ke-68 Korps Marinir tahun 2013 bertema "68 Tahun Marinir Untuk Indonesia" ini juga digelar demo atraksi seperti bela diri Marine Martial Arts, penampilan kombinasi panahan, penyergapan dan perkelahian di atas tank amfibi BMP-3F dan serbuan mekanis dengan menggunakan kendaraan tempur.


 
KASAL Laksamana TNI Marsetio (kiri) selaku inspektur upacara melakukan pemeriksaan pasukan pada Upacara Peringatan HUT ke-68 Korps Marinir TNI Angkatan Laut di Lapangan Apel Hartono Kesatrian Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (15/11). Pada peringatan HUT ke-68 Korps Marinir tahun 2013 bertema "68 Tahun Marinir Untuk Indonesia" ini juga digelar demo atraksi seperti bela diri Marine Martial Arts, penampilan kombinasi panahan, penyergapan dan perkelahian di atas tank amfibi BMP-3F dan serbuan mekanis dengan menggunakan kendaraan tempur.


 
Prajurit Korps Marinir menunjukkan keahlian bertarung di atas tank ketika demo atraksi usai Upacara Peringatan HUT ke-68 Korps Marinir TNI Angkatan Laut di Lapangan Apel Hartono Kesatrian Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (15/11). Pada peringatan HUT ke-68 Korps Marinir tahun 2013 bertema "68 Tahun Marinir Untuk Indonesia" ini juga digelar demo atraksi seperti bela diri Marine Martial Arts, penampilan kombinasi panahan, penyergapan dan perkelahian di atas tank amfibi BMP-3F dan serbuan mekanis dengan menggunakan kendaraan tempur.
  Antara 

Senin, 04 November 2013

Tank BMP-3F dan baret kehormatan Korps Marinir TNI AL


BMP3F Marinir (Dispen Marinir)
Jakarta - Korps Marinir TNI AL memiliki seorang lagi warga kehormatan, yaitu Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko, yang diangkat dalam satu upacara kebesaran di Karang Pilang, Jawa Timur, beberapa hari lalu.

Lazimnya penganugerahan gelar kehormatan itu, baret Korps Marinir TNI AL bertatah empat bintang, pisau komando, dan brevet Detasemen Jala Mangkara dibawa ke dalam arena upacara dari udara: seiring dengan atraksi terjun payung militer.

Moeldoko, setelah dikenakan baret dan segenap atribut itu oleh Komandan Korps Marinir TNI AL, Mayor Jenderal TNI (Marinir) Faridz Washington, resmi menjadi warga kehormatan mereka, mengikuti Jenderal Besar TNI AH Nasution, Sultan Hassanal Bolkiah II, dan Jenderal Charles C Krulak (mantan komandan Korps Marinir Amerika Serikat), dan lain-lain.

Bukan cuma upacara penganugerahan baret yang juga disaksikan Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Marsetio, itu yang menarik; juga atraksi dan gelar kemampuan berbagai persenjataan yang dimiliki Korps Marinir TNI AL. Mesin perang yang dikerahkan --paling menonjol-- adalah tank veteran PT-76 bersi maritim dan yang terkini, tank amfibi BMP-3F.

Sampai saat ini, Indonesia memiliki 17 tank BMP-3F hasil kontrak pembelian dengan JSC Rosoboronexport, Rusia, yang kebanyakan ditaruh di Pasukan Marinir 1, Surabaya. 37 tambahan akan datang hingga akhir 2013 ini, sejalan kelanjutan kontrak pembelian pada Mei lalu.

Bicara tank, publik sangat paham soal tank utama 2A4/2A5 Leopard buatan Krauss‐Maffei Wegmann Maschinenbau, Kiel, Jerman, yang dibeli langsung TNI AD, namun sorotan pada BMP-3F cenderung sedikit. Membandingkan kedua tank ini hal yang kurang pas, karena fungsi dan asasinya sangat berbeda; apalagi sistem kesenjataan dan doktrin penggelarannya.

BP-3F buatan Kurganmashzavod, Rusia, masuk dalam kelas amphibious infantry fighting vehicle, yang proyek pengembangannya dimulai sejak 1987 setelah kedua kakaknya, BMP-1 dan BMP-2 dianggap kurang mumpuni lagi. Dari situlah, Obyekt 688M diluncurkan Rusia.

Sesuai "judul"-nya, BMP-3F dengan bobot kosong 18,5 ton dan dimensi 7,14 meter (panjang), 3,2 meter (lebar), dan 2,4 meter (tinggi) dan awak tiga orang (termasuk seorang komandan), mampu membawa tujuh personel bersenjata lengkap plus dua kursi tambahan.

Jadi, BMP-3F ibarat "kapal perang" yang memproyeksikan kekuatan militer dari lingkungan laut ke lingkungan darat; lengkap dengan kondisi di atas optimal untuk menggempur kekuatan lawan di darat.

Mesin dengan rasio 27 tenaga kuda/ton bobot mampu mendorong BMP-3F menuju kesepatan 72 kilometer perjam (jalan pedesaan/aspal biasa), 45 kilometer perjam (luar jalan), dan 10 kilometer perjam (perairan hingga gelombang skala Beauford II).

Persenjataan

 
Berbagai silabus mesin perang dunia memasukkan BMP-3F dalam kelas kendaraan perang infantri berat; ditandai sistem perlindungan persenjataan aktif walau bodi dan kubah meriamnya dari alumunium diperkeras (agar tahan karat). Tidak akan ada pengaruh besar jika dia disembur tembakan kaliber 30 milimeter dari jarak dekat, seumpama dari senapan mesin berat 2A42.

Perlindungan pasif juga menyentuh sistem perlindungan sirkulasi udara dan serangan biologis atau nuklir jika itu terjadi. Caranya dengan menerapkan sistem sensor dan penangkal agen kimia/biologis/nuklir dan filter ultraviolet, dan pemadam kebakaran, serta peredam benturan. Harap dipahami, BMP-3 dirancang saat Perang Dingin masih terjadi.

Tangki bahan bakarnya juga ditempatkan di atas lapisan baja lantainya, didukung sistem suspensi independen aktif dari roda-roda rantainya.

Untuk menambah perlindungan, kit penangkal serangan amunisi berat ERA juga diterapkan walau ini pilihan bagi pembeli atau pengguna. Pengacak sinyal komunikasi lawan berbasis elektronika-optikal, Shrota, yang bisa diakses komandan tank untuk berkomunikasi dengan sistem peluncuran peluru kendali anti tank SACLOS (semiautomatic command to line of sight).

Akhirnya, kemampuan renangnya hingga tujuh jam nonstop dan menundukkan (bahkan) rawa-paya yang tidak bisa diinjak manusia, tidak akan bermakna banyak jika musuh tidak bisa dibinasakan. Untuk itulah meriam 100 milimeter berkecepatan rendah 2A70 bicara, meluncurkan proyektil 9M117 ATGMs (AT-10 Stabber), yang bisa disimpan dalam rak-raknya sebanyak 40 unit.

Di luar turet, bertengger sepasang senapan mesin berat 30 milimeter 2A72 yang bisa meluncurkan 400 peluru permenit. Jika dia berhadapan dengan personel, senapan mesin 7,62 milimeter-nya yang bertugas secara koaksial hingga 2.000 peluru permenit. Bicara teknologi putaran koaksial ini, Rusia sangat ahli; lihatlah baling-baling pesawat bom berat Tupolev Tu-95 Bear.

Meriam 100 milimeter ini bisa digerakkan 360 derajad kiri-kanan dan minus lima hingga 60 derajad ke bawah dan ke atas. Meriam ini dirancang untuk tidak menimbulkan guncangan besar, yang semakin efektif dengan sistem penjejak dan optik khusus, sehingga peluru high explosive HE-Frag shell 3OF32 bisa "terbang" hingga 4.000 meter.

Jika sistem pertahanan lawan lebih tangguh, army technolgy mengulas, giliran peluru 3BM25 APFSDS yang dipergunakan. Semua operasionalisasi kesenjataan dan penginderaan berasal dari komputer 1V539, berkolaborasi dengan sensor angin, sistem stabilitas 2E52-2, sistem laser 1D16-3, dan lain-lain. Semua sistem inilah yang juga dikabarkan dimiliki Korps Marinir TNI AL.

Doktrin pertempuran tank mengajarkan, tank selalu bergerak dalam formasi tempur tertentu sesuai taktik dan strategi, informasi posisi dan kekuatan lawan, serta keadaan geografis saat itu. Dipadukan dengan konsep pendudukan marinir, maka pergerakan tank bisa dibilang menjadi "perintis" dan "pelindung" para personel marinir ini.

Seorang perwira menengah TNI AL yang ikut dalam upacara pengangkatan Moeldoko menjadi warga kehormatan Korps Marinir TNI AL, itu menggambarkan manuverabilitas BMP-3F sebagai luar biasa. BMP-3F yang digelar dan ditunjukkan kemampuannya cuma dua saja, namun ada yang unik: dia di-"terbang"-kan melalui parit lebar, mirip motocross jumping di atas sungai dan mendarat sempurna.

Sesaat setelah tank itu bisa mendarat, masih dalam keadaan cukup terguncang dan kecepatan masih mengembang, meriam meletus dan peluru 100 milimeter-nya meluncur dalam kecepatans sedang, relatif masih bisa diikuti mata. "Buuuummmm….!!!!," sasaran hancur, dari jarak sekitar 500 meter; masih sangat dekat untuk BMP-3F.(Ade P Marboen)

  Antara  

Jumat, 30 Agustus 2013

Pasukan Marinir Indonesia dan Amerika Serikat

Sejumlah prajurit Batalyon Taifib-1 Marinir dan prajurit US MARSOC dengan menggunakan perahu karet berlatih menembus gelombang di pantai Lampon, Pesanggaran, Banyuwangi, Jatim, Rabu, (28/8). 

Pasukan Marinir Indonesia dan Amerika Serikat



Menembus gelombang merupakan salah satu materi yang dilatihkan dalam Latihan Bersama Lantern Iron 13 – 1 antara prajurit Marinir Indonesia dan Marinir Amerika yang digelar hingga 6 September 2013 dengan tujuan meningkatkan profesionalisme prajurit Intai Amfibi Marinir sebagai pasukan khusus. (Marinir RI)

Rabu, 28 Agustus 2013

Pasukan Marinir Indonesia-Amerika Simulasi Latih Tempur di Baluran

Keberadaan pasukan marinir amerika (US Marsoc) di Indonesia di pantau langsung Komandan Satgas Latihan Letkol Marinir Edy Cahyanto, Perwira Sops Kormar Mayor Marinir Temmy dan Pasi Ops Kapten Marinir Imam Supriyanto.

Marinir Indonesia-Amerika Simulasi Latih Tempur

Kehadiran mereka dalah dalam rangka latihan menembak bersama prajurit marinir TNI AL. Target latihan tembak ini untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknik dan taktik prajurit Taifib dalam menggunakan senjata perorangan.

Penggelaran latihan ini berlangsung mulai 20 Agustus 2013 hingga 6 September 2013 di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Baluran.


Sedangkan untuk materi teori, dan praktek menembak, dan di Pusat Latihan Tempur Lampon Banyuwangi untuk materi operasi renang rintis (scout swimmer operation), raid amfibi, pengintaian pantai (beach landing technique), sea and jungle survival dan berganda (full mission profile) latihan menembak di lapangan Tembak Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Baluran, Karangtekok, Situbondo, Jatim, Minggu, (25/8/2013) kemarin.

Dalam latihan menembak yang digelar mulai 21 hingga 25 Agustus 2013 itu menggunakan beberapa jenis senjata, yaitu Pistol, senapan M4, senapan MP5, senapan SS-1, Steyr dan Sniper. Materi menembak diberikan oleh prajurit US Marsoc kepada prajurit Intai Amfibi Korps Marinir berupa teori di kelas dan praktek di lapangan. (POL)