Tampilkan postingan dengan label TNI AD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AD. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

Tank Tempur Leopard dan Marder akan Ditempatkan di Perbatasan Kalimantan





Sebagian tank tempur utama Leopard dan tank tempur medium Marder dari Jerman dijadwalkan tiba di Indonesia pada Oktober 2014, sementara sisanya dijadwalkan tiba secara bertahap pada tahun depan. Sebagian tank tersebut akan ditempatkan di dua divisi Kostrad dan di perbatasan Kalimantan.

“Akan ditempatkan di Kostrad, divisi 1 dan 2. Ada pemikiran memang sebagian akan ditempatkan di perbatasan Kalimantan,” kata Purnomo Yusgiantoro, Senin (27/1/2014).

Hal itu dikatakan Menhan Purnomo Yusgiantiro, saat meninjau kesiapan garasi tank Leopard dan Marder di Batalyon Kavaleri (Yonkav) 8/Tank, Beji, Pasuruan. Turut serta dalam kunjungan tersebut Panglima TNI Jendral Moeldoko, Pangdam V/Barwijaya Mayjed TNI R Ediwan Prabowo, Panglima Divisi 2 Kostrad Mayjed TNI Agus Kriswanto, Komandan Yonkav 8/Tank Letkol Otto Sollu, serta sejumlah pejabat Mabes TNI.

Purnomo menjelaskan, awalnya TNI sebenarnya hanya membeli 40 tank dari Jerman. Namun karena perubahan kebijakan di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya yang lebih mementingkan pembangunan kekuatan tempur udara, maka TNI mendapatkan sebanyak 105 Leopard dan 50 tank Marder.

“Mereka perkecil angkatan darat yang kemudian itu kita tangkap kemudian kita bisa dapat lebih banyak. Kita untung, dengan buget yang ada kita bisa dapat Leopard 105 dan Marder 50,” jelas Purnomo.

Panglima TNI Jendral Moeldoko dalam kesempatan itu mengatakan, Yonkav 8/Tank Beji yang masuk dalam Divisi 2 Kostrad sudah siap ditempati tank Leopard dan Marder. Garasi berkapasitas sekitar 40 tank sudah disiapkan jauh-jauh hari.

“Kami ke sini untuk meninjau kesiapan dan tadi sudah dipaparkan semua. Yonkav 8 sudah siap,” kata Moeldoko.

Moeldoko mengatakan, beberapa prajurit yang disiapkan sebagai kru Leopard dan Marder sudah dikirim ke Singapura untuk sharing sehingga bisa berdiskusi dengan calon kru lainnya.

“Kita juga pasti akan kirim ke Jerman untuk mempelajari. Setidaknya separuh dari kru akan kita kirimkan,” jelas Moedoko.

Moeldoko mengatakan pengembangan alutsista TNI harus terus dilakukan agar tidak kalah dengan negara tetangga. “Kalau di lingkungan kita (negara tetangga) belanjanya lebih tinggi ya nanti kita keok terus, kita juga harus di atas mereka. Ini (Leopard dan Marder) termasuk senjata paling canggih,” tandasnya.









Sumber : Detik

Jumat, 24 Januari 2014

Helikopter Apache AH-64E akan ditempatkan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman mengatakan, TNI AD akan diperkuat dengan delapan helikopter tempur AH-64 Apache yang akan didatangkan secara bertahap mulai tahun 2015. "Secara bertahap helikopter tersebut akan kita datangkan mulai 2015 hingga 2017. Helikopter canggih buatan Boeing ini akan dioperasikan oleh para penerbang Angkatan Darat (Penerbad)," katanya di Samarinda, Kamis (23/1).


Helikopter Apache AH-64E akan ditempatkan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur


Ia mengatakan, TNI AD tengah menyiapkan sejumlah titik untuk menjadi pangkalan senjata berawak ini. Menurut KSAD, salah satunya adalah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di kabupaten paling utara Provinsi Kaltim itu selain helikopter Apache, juga akan menjadi pangkalan heli tempur Agusta dan berbagai jenis pesawat lain.

"Indonesia membeli varian terbaru dari helikopter serbu tersebut, yaitu versi AH-64E. Sejak 2013, model ini oleh Amerika Serikat, negara pembuatnya, mulai dipakai untuk menggantikan AH-64D Longbow, yang di ASEAN dimiliki oleh Singapura.

Dia mengatakan, AH-64E memiliki mesin T700-GE-701D yang hemat bahan bakar dan lebih efisien sehingga dapat terbang lebih jauh, lebih lama, dan bisa membawa persenjataan lebih banyak. Rotornya terbuat dari bahan komposit yang lebih ringan namun lebih kuat yang membuat jenis heli ini terbang lebih cepat ketimbang seri D.

Jenderal Budiman mengatakan, harga delapan heli lengkap dengan persenjataan dan pelatihan pilot serta kru darat adalah 600 juta dolar AS. Selain Indonesia, katanya, Taiwan, India, dan Qatar juga sudah memesan AH-64E bersamaan dengan Korea Selatan dan Jepang. India bahkan bisa memaksa Boeing melakukan alih teknologi dengan membuat sebagian komponen untuk India di India.

Dia mengatakan, senjata utama Apache AH-64 adalah rudal AGM-114 Hellfire. Rudal ini dijuluki tank-killer atau penghancur tank, julukan yang didapatnya dari berbagai medan perang. Apache membawa 16 rudal Hellfire dibagi ke dalam 4 peluncur di sayapnya dengan jangkauan tembak hingga 12 km.

Senjata lapis kedua dari Apache adalah roket Hydra 70 mm yang dibawa dalam sepasang peluncur roket isi 19 roket. Untuk pertahanan udara, helikopter ini dilengkapi rudal AIM-9 Sidewinder dan AIM-92 Stinger. Heli ini juga bisa mengangkut rudal anti radiasi AGM-122 untuk menghancurkan instalasi radar musuh.

"Jadi kita tunggu saja," kata KSAD Jenderal Budiman. (ROL)

Kamis, 23 Januari 2014

Heli TNI AD yang Hilang Kontak Ternyata Mendarat Darurat




Di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Budiman, mengafirmasi soal kabar selamatnya pesawat heli tersebut.

“Kami mendapat informasi bahwa pesawat helikopter selamat, seluruh awak kondisi baik. Kami juga sudah melaporkan ke pimpinan bahwa seluruh awak selamat,” kata Budiman, Kamis.


Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Brigjen TNI Andika Perkasa mengatakan, pesawat Heli Bell 412 EP/HA 5166 milik TNI AD ternyata melakukan pendaratan darurat, Rabu (22/1/2014). Sebelumnya, pesawat berikut tujuh awaknya yang merupakan anggota Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Satgas Pamtas Indonesia-Malaysia dari Yonif 100/Raider dilaporkan tak diketahui keberadaannya hingga pukul 22.00 Wita, malam tadi.

"Pesawat Heli Bell 412 EP/HA 5166 milik TNI AD ternyata melakukan pendaratan darurat kemarin sekitar pukul 15.00 Wita di Desa Long Tulip, Kecamatan Karang Mentarang, Kabupaten Malinau karena cuaca buruk," demikian keterangan Andika yang diterima Kompas.com, Kamis (23/1/2014) pagi.

Andika mengatakan, seluruh penumpang dan crew dalam keadaan selamat. Jika cuaca memungkinkan, hari ini mereka akan terbang kembali ke Long Bawang. 

Sebelumnya, Heli dilaporkan membawa tujuh anggota Satgas Pamtas dan tiga orang kru heli. Rencananya, heli tersebut akan menuju Bandara Long Bawan, Kecamatan Krayan.

Heli tersebut berangkat dari Bandara Juata pada pukul 13.15 Wita dengan tujuan Bandara Long Bawan, Kecamatan Krayan. Pada pukul 13.53 Wita, dilaporkan heli masih terpantau di radar Bandara Malinau. Namun, pada pukul 14.00 Wita, kontak dengan kopilot Heli Bell 412 dilaporkan menghilang.


Sumber :  KOMPAS

Rabu, 22 Januari 2014

LAPAN Kembangkan Teknologi Alutsista bersama TNI



 TNI AD Anggarkan Rp 3,5 M Untuk Pembangunan Pesawat Tanpa Awak & Roket LAPAN
Prototipe Rudal Lapan (Kaskus)
JAKARTA TNI AD bakal memborong alutsista di akhir masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Paling lambat Agustus tahun ini, TNI AD menargetkan bisa mendatangkan 60 sampai 80 persen alutsista yang sudah masuk daftar pembelian. Selebihnya, akan dicicil hingga 2017.


Tahun ini, anggaran keseluruhan TNI AD mencapai Rp 15 Triliun. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman mengungkapkan, cukup banyak unit alutsista yang akan dibeli TNI AD tahun ini. Sebagian besar merupakan unit bergerak berupa tank dan helikopter taktis.

Salah satu pembelian terbesar tahun ini adalah main battle tank (MBT) Leopard 2A4 Revolution. Sedikitnya 52 unit Leopard anyar akan melengkapi kekuatan TNI AD.

"Masih ada sekitar 71 lagi Leopard dan Marder yang didatangkan setelah 2014," ujarnya usai penandatanganan MoU penelitian dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Mabes AD kemarin.

Selain itu, TNI AD juga membeli 81 rudal anti serangan udara, serta meriam Caesar 155 mm dan Multi Launcher Rocket System (MLLRS) masing-masing dua batalion. TNI AD juga membeli sejumlah helikopter, seperti Eurocopter Fennec 12 unit dan Bell Helicopter 16 unit. "Apache juga akan didatangkan tapi tahun 2017," lanjutnya.

Penandatanganan MoU dengan LAPAN sendiri bakal memperkuat TNI AD di bidang penelitian. Beberapa manfaat menggandeng LAPAN, TNI AD bisa lebih cepat dalam mengembangkan teknologi penerbangan, roket, penginderaan jarak jauh, hingga pemetaan wilayah.

Hasil kerjasama itu nantinya akan membuat teknologi pertahanan makin canggih. Teknologi satelit penginderaan jauh misalnya, bisa digunakan untuk memetakan setiap sudut wilayah NKRI, terutama perbatasan. Teknologi itu bisa juga digunakan untuk menanggulangi bencana.

Budiman mengatakan, pengembangan alutsista saat ini memberi porsi cukup besar pada penelitian. Kerjasama tidak hanya dilakukan dengan LAPAN, namun juga BPPT dan sejumlah Universitas. Untuk penelitian awal yang bekerjasama dengan LAPAN, telah disediakan anggaran Rp 3,5 miliar.

"Overall, termasuk kerjasama dengan BPPT dan lainnya telah dianggarkan hingga Rp 56 miliar," tambahnya. Bahkan, secara keseluruhan, Kementerian Pertahanan menganggarkan antara Rp 200-300 miliar untuk keperluan research and development.

Kepala LAPAN Bambang S Tedjasukmana mengungkapkan, pihaknya telah membuat sebuah konsorsium roket nasional. Anggotanya termasuk Pindad dan Kementerian Pertahanan. Konsorsium tersebut telah menghasilkan Roket dengan jangkauan 15 dan 23 kilometer.

"Saat ini, kami sedang mengembangkan yang jangkauan 36 kilometer, serta memulai pengembangan untuk daya jangkau 70 dan 100 kilometer," terangnya kemarin. Jika pengembangan tersebut selesai, barulah LAPAN mengembangkan roket dengan jangkauan hingga 300 kilometer seperti Yakhont milik Rusia.

Kerjasama dengan militer akan membuat LAPAN memiliki lebih banyak peran dalam industri pertahanan. Terutama, dalam hal pengembangan teknologi pertahanan dan persenjataan. "Hasil kerjasama nanti hanya akan berupa prototipe. Jika akan diproduksi masal, maka akan digarap oleh industri," ucapnya.


  JPNN 

Selasa, 21 Januari 2014

TNI dan Lapan akan Mengembangkan Rudal Jarak Jauh


Roket TNI Lapan (photo: Defense Studies)
Roket TNI Lapan (photo: Defense Studies)

TNI Angkatan Darat menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk pengembangan rudal dan pesawat tanpa awak. Penandatangan nota kesepahaman itu dilakukan antara Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Budiman dengan Kepala LAPAN Bambang S Tejasukma di Mabes AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Selasa, 21/1/2014.


MoU dibuat terkait perjanjian kerja sama antara Direktorat Topografi Angkatan Darat dengan LAPAN tentang pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan.

“Beberapa kemampuan LAPAN nanti akan kita manfaatkan untuk kepentingan TNI AD,” ujar Jenderal Budiman.

Hal itu meliputi teknologi penerbangan roket, satelit penginderaan jarak jauh, sains antariksa, sains atmosfir dan teknologi UAV (Unmanned Aerial Vehicle) / pesawat tanpa awak untuk melakukan pengintaian dan mendukung program pembangunan pertahanan negara.
Untuk kerja sama dengan LAPAN ini, TNI AD mengeluarkan anggaran Rp 3,5 miliar.
KSAD menjelaskan teknologi penginderaan jarak jauh yang dimiliki LAPAN dapat membantu TNI dalam kepentingan survei dan mapping, geospacial inteligent, monitoring pengamanan wilayah. “Kami akan melakukan pemantauan melalui satelit untuk menjaga wilayah perbatasan,” ucapnya.
Untuk teknologi roket, LAPAN membantu pengembangan missile jarak jauh.
Jenderal Budiman juga mengatakan keahlian LAPAN juga dapat mendukung TNI dalam tugas operasi seperti SAR, penanggulangan bencana alam, terorisme, dan sebagainya.

Pansus RUU Keantariksaan Kunjungi LAPAN. 18-Feb-2013 (photo: dpr.go.id)
Pansus RUU Keantariksaan Kunjungi LAPAN. 18-Feb-2013 (photo: dpr.go.id)

Menurut Kepala LAPAN, Bambang S Tejasukma, kerja sama dengan TNI AD akan fokus pada pengembangan metoda dan membuat prototipe, yang diproduksi oleh perusahaan yang bergerak di industri pertahanan.

“Lapan tetap bekerja sama dengan industri untuk membangun kompetensi industri tersebut dalam melayani Angkatan Darat,” katanya.

Ia mencontohkan, perusahaan di industri pertahanan yang biasa bekerja sama dengan TNI antara lain PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia.

Selain bekerja sama dengan TNI AD, LAPAN juga telah bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut. Bahkan, ke depan LAPAN tengah menyusun kerja sama dengan TNI Angkatan Udara dalam pengembangan teknologi kedirgantaraan. (republika.co.id)

Jumat, 17 Januari 2014

Indonesia Akuisisi Sistem Pertahanan Udara Thales ForceSHIELD


Indonesia Akuisisi Sistem Pertahanan Udara Thales ForceSHIELD


Thales Group, perusahaan multinasional dari Prancis yang bergerak di bisnis alat pertahaanan, dalam laman web-nya menginformasikan Kementerian Pertahanan Indonesia telah mengakuisisi sistem pertahanan udara jarak pendek Thales ForceSHIELD (integrated air defence system/IADS).
 

Perusahaan itu menyebutkan, berdasarkan kontrak senilai lebih dari US$ 163,4 juta (sekitar Rp 1,97 triliun), Thales akan melengkapi lima baterai TNI AD dengan sistem pertahanan udara ForceSHIELD. Sistem pertahanan ini terdiri dari rudal pertahanan udara jarak pendek STARStreak, sistem radar CONTROLMaster200 dan sistem koordinasi senjata, RAPIDRanger mobile weapon system, Lightweight Multiple Launcher (LML) system, STARStreakman-portable surface-to-air missile (SAM) system, serta perangkat komunikasi terkait, pelatihan, dan peralatan pendukung lainnya.
 
Kesepakatan yang diumumkan ini merupakan gabungan dari dua kontrak. Kontrak pertama terjadi pada November 2011. Dalam kontrak ini Indonesia mendapat lima baterai pertama.
Sistem pertahanan udara ForceSHIELD merupakan modifikasi dan gabungan berbagai peralatan, seperti radar, komunikasi, sistem kontrol tembak dan keterlibatan, serta peluncur dan rudal. Memberikan kemampuan efektif bagi operator, dalam hal ini TNI AD, untuk mengatasi ancaman udara asimetris dan konvensional.
 
CONTROLMaster200 terdiri dari radarsolid-state generasi terbaru, yang mampu mendeteksi dan melacak 200 target secara simultan pada ketinggian hingga 25.000 meter di rentang hingga 250 kilometer. Dikombinasikan dengan CONTROLView engagement control system, yang akan mengevaluasi ancaman dan melakukan koordinasi manajemen tempur, untuk cepat mengambil keputusan yang kompleks dan kritis, dengan tingkat presisi dan keamanan yang lebih baik.
 
RAPIDRanger merupakan kendaraan peluncur ringan dan sistem kontrol tembak yang unik, dapat diintegrasikan dalam struktur jaringan dan dikoordinasikan dengan berbagai sistem kontrol dan komando. Kendaraan penampilannya mirip dengan Humvee Amerika Serikat. Dilengkapi dengan empat tabung rudal STARStreak jarak pendek berkecepatan tinggi, RAPIDRanger mampu mengatasi berbagai ancaman udara seperti pesawat serangan darat, helikopter serang, UAV dan rudal jelajah.
 
Rudal STARStreak mampu terbang di kecepatan Mach 3 (3.675 kilometer/jam) untuk mengatasi ancaman yang bergerak cepat dan waktu melintas yang pendek. Sekaligus menjadi rudal jarak pendek permukaan ke udara yang tercepat di dunia.
 
Konfigurasi three-dart pada rudal STARStreak menjadikan rudal ini sangat akurat dan mematikan dengan bimbingan laser. Juga memungkinkan terlibat dengan target yang minim terdeteksi radar dan yang kebal terhadap semua jenis usaha pertahanan udara umum saat ini.
 
Sebagai langkah lanjut dari kesepakatan ini, Thales akan meningkatkan kerja sama industri dengan pemerintah Indonesia. Thales juga telah menandatangani perjanjian dengan PT LEN Industri Indonesia, baik untuk program-program militer maupun sipil di masa depan.
 
Pembelian ini merupakan pembelian alat utama sistem pertahanan terbaru Kementerian Pertahanan untuk memodernisasi TNI AD. Yang beberapa di antaranya adalah membeli tank Leopaed, artileri 155 milimeter, kendaraan tempur infanteri, dan lainnya.
Sumber :  ASATUNEWS

Rabu, 15 Januari 2014

Indonesia Purchases Air Defense System From Thales




 
LONDON The Indonesian Army has turned to the British arm of Thales to plug a gap in its short-range air defenses with a deal to purchase its Forceshield integrated system of vehicle-mounted missiles and radars.


Under the deal, Thales operations in Britain and France will equip five Indonesian Army batteries with Starstreak missiles, ControlMaster200 radars and weapon coordination systems, lightweight multiple launchers and RapidRanger weapon launchers, said David Beatty, vice president for advanced weapon systems at Thales UK.

Beatty said that although there are no options in the contract for additional deliveries, “once we show we can deliver our solution and the customer likes it, we hope to develop good relations for follow-on orders from the Indonesian authorities.”

The purchase is the latest in a string of orders aimed at modernizing the Indonesian Army. The military is adding main battle tanks, 155mm artillery, infantry fighting vehicles, and other weapons to its inventory.

The Indonesians also purchased next-generation light anti-tank weapons developed by Saab for the British and Swedish armies. The missiles are built by Thales at the Northern Ireland weapon facilities that are also responsible for Starstreak work.

The air defense deal is worth more than £100 million (US $164 million), said Thales, and includes an agreement with Indonesian state-owned company PT LEN Industri to partner on integration of some of the systems involved in the contract as well as future collaboration in the military and civil sectors.

The deal being announced this week is a combination of two contracts, one going back to November 2011 with Indonesia to acquire the first of five required batteries.

No deliveries were made under the earlier arrangement and the delivery schedule being worked on by Thales combines the two contracts, Beatty said.

The Thales executive said the company hopes to get “deliveries of the man-portable elements of the weapon underway this year but that equipment with longer lead times like the ControlMaster200 medium-range air-defense radar would take longer and it would take several years to deliver the complete integrated system.”

Starstreak will provide air defense out to about 7 kilometers against ground attack aircraft, pop-up attack helicopters, drones and cruise missiles and is seen as a replacement for the longer range British Rapier missile systems previously a mainstay of Indonesian anti-air capabilities.

Operating at speeds in excess of Mach 3 and able to travel at more than a kilometer a second, Starstreak is the fastest short-range surface-to-air missile in the world.

Britain, South Africa and most recently Thailand are all operators of the laser beam-riding weapon.

Thales beat Saab with its RBS-70-based air defense system, although earlier several other weapons suppliers had shown an interest in the requirement, including Poland and China.
The RapidRanger launcher and fire control system equipped with four Starstreak missile tubes will be integrated into the Spanish-designed Vamtac vehicle for the Indonesians. The vehicle is similar in appearance to the Humvee.

A version of the LandRover Defender will be used to mount a lightweight multiple launcher version of Starstreak. The lightweight launcher can also be used dismounted for firing off a man-portable tripod.

It’s the first sale of an integrated turn-key air defense solution by Thales since the company relaunched its offerings in the sector under the ForceShield banner nearly two years ago.

  Defensenews  

Kasad Uji Coba Kapal Tempur Pesanan TNI AD

Kepla Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Budiman saat melaksanakan Kunjungan ke PT Tesco, di kampung Pasar Emas Desa Buni Bakti Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi, Selasa (14/1/2014). Kunjungan tersebut dalam rangka melihat hasil produksi pembuatan kapal Khusus TNI AD.  Turut hadir  Asops Kasad, Aslog Kasad,  Pangdam Jaya, dan para Pejabat Tinggi TNI AD.


Kasad Uji Coba Kapal Tempur Pesanan TNI AD


Pada kesempatan tersebut, Kasad Jenderal TNI Budiman bersama rombongan melakukan uji coba (test drive) kapal yang sudah dipesan TNI AD sebanyak 10 unit, salah satunya Kapal jenis KMC Komando, di Kali CBL. Kapal tersebut dirancang khusus untuk pengamanan wilayah teritorial perbatasan sungai dan laut di Indonesia, serta mencegah terjadinya penyelundupan antar pulau dan negara yang melalui perairam sungai dan laut.


Menurut PT Tesco, Kapal yang dipesan oleh TNI AD dengan jenis khusus yang tidak menyerupai kapal-kapal tempur lainnya yang dimiliki TNI AL. Karena jenis kapal ini bukan janis kapal tempur, melainkan kapal ini untuk pengamanan wilayah pulau.

“Dari 10 unit Kapal ini di design secara khusus dan dilengkapi dengan senjata otomatis serta mesin buatan Amerika, yang berkekuatan tinggi untuk melawan derasnya arus air serta berkecapeatan tinggi,” katanya.

Kasad Jenderal TNI Budiman usai  uji coba kapal KMC Komando menyampaikan rasa bangga dan puas dengan buatan negara sendiri yang begitu bagus, bahkan kualitasnya pun tidak kalah dengan buatan luar negeri.  “Kenapa kita harus pesan kapal atau perlengkapan lain ke negara luar, kalau dinegara sendiri bisa membuatnya dengan sesepurna ini,” katanya,

Sementara itu, selain mengunjungi PT Tesco, Kasad  beserta rombongan juga melaksanakan kunjungan ke kantor Koramil Babelan. Pada kesempatan tersebut,selain  melihat kondisi kantor koramil Kecamatan Babelan, Kasad juga berkesempatan Tatap Muka dengan Komandan Korem, Komandan Kodim dan Danramil Kabupaten Bekasi.

Kasad menekankan kepada aparat teroritorial untuk meningkatkan pengawasan setiap wilayah, sehingga  keamanan dapat terjaga dengan baik . Dan yang lebih utama TNI harus  cepat tanggap terhadap kondisi yang terjadi di wilayah. “Apalagi saat ini musim penghujan dan sering terjadi banjir dimana-mana, TNI AD harus cepat dan tanggap serta memiliki sikap yang peduli terhadap warga serta masyarakat yang sedang tertimpa musibah.”ujar Kasad. (POL)

Senin, 13 Januari 2014

Menyambut Kedatangan Alutsista 2014




Sebagai lembaga negara, Kementrian Pertahanan tentulah harus memenuhi standar akuntabilitas dan transparan. Mungkin karena semangat itulah, Kementrian Pertahanan mengirimkan hasil refleksi pertahanan negara 2013 serta proyeksi tahun 2014. Redaksi ARC pun menerima berkas yang dimaksud itu. Dan inti dari kegiatan 2014... hmm... boleh dibilang menunggu masa panen.



Dijelaskan bahwa pada periode MEF pertama di tahun 2010-2014, terdapat 21 kegiatan prioritas pengadaan Alutsista dan 3 kegiatan tambahan. 

Dari sekian banyak kegiatan tersebut, ARC menggaris bawahi beberapa diantaranya. Untuk helikopter serang jenis Fennec, diketahui ternyata Kemhan membeli 3 type. Yaitu 6 unit AS-555, 5 unit AS-550 serta 1 unit AS-350. Ke-12 heli ini akan tiba 2 unit pada bulan Juni 2014. Perbedaan mencolok antara ke-3 type tersebut adalah jumlah mesin, dimana AS-555 memiliki 2 mesin sementara AS-550 dan AS-350 memiliki satu mesin. Untuk heli Angkut-serbu Nbell-412 dibeli sebanyak total 22 unit dimana sebagian diantaranya telah diserah terimakan.  

Tank tempur kebanggaan TNI-AD, Leopard 2 juga akan dikirim pada tahun 2014. Tepatnya sebanyak 30 unit Leopard dan 21 Marder akan tiba sebelum bulan september 2014. Demikian pula dengan Meriam Caesar, dimana dari 37 unit, 4 diantaranya akan tiba sebelum Oktober 2014. Sementara untuk roket MLRS Astros II akan tiba 13 unit sebelum Oktober 2014. Masih dari TNI-AD, rudal pertahanan udara jenis Starstreak serta Mistral dijadwalkan juga tiba sebelum Oktober 2014. Khususnya Mistral, akan delivery sebanyak 9 unit pada Juni 2014.

Dari matra laut, seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, terdapat Upgrade Kapal perang korvet kelas Fatahillah, Kapal latih pengganti KRI Dewaruci, pengadaan 2 unit Kapal Hidro Oceanografi, dan lain lain. Untuk tank amfibi BMP-3F sebanyak 37 unit, beberapa diantaranya sedang dalam proses uji terima. Sementara panser amfibi BTR-4 sebanyak 5 unit, dimana 2 unit diantaranya akan tiba di tanah air pada September 2014.


Untuk TNI-AU, kebanyakan program pengadaan alutsista MEF-1 sudah tiba sebagian. Diantaranya pesawat latih T-50i, Su-30MK2 serta CN-295. Sementara heli combat SAR EC-725, dari 6 unit yang dipesan, 1 unit akan tiba pada Juni 2014.


Disisi industri pertahanan dalam negeri, pada tahun 2013 terjadi pertumbuhan signifikan sejak pembentukan KKIP. PT. Pindad tumbuh 67%, PT.DI tumbuh 70% sementara PT.PAL tumbuh 48%. Selain itu terdapat sejumlah rencana pembelian dari luar negeri, diantaranya 2 unit NC-212i oleh Filipina, Rencana pembelian 2 sampai 4 unit CN-235MPA oleh Malaysia serta upgrade 6 pesawat CN-235 menjadi Glass Cockipt. Rencana Pembelian juga ditunjukan oleh Thailand untuk CN-235 sementara Vietnam akan membeli CN-295. Untuk PT.Pindad, terdapat pembelian senjata dan munisi oleh Timor Leste serta Laos. Sementara rencana pembelian diajukan oleh Malaysia dan Brunei untuk Panser Anoa. Untuk PT.PAL, pemerintah Filipina sendiri telah memesan 2 unit Strategic Sea Lift Vessel (LPD). Nah, kini mari kita menunggu masa panen itu. Dan mari berdoa semoga semua perencanaan bisa berjalan sesuai yang dikehendaki.






  ● ARC  

Sabtu, 28 Desember 2013

YONKAV 8/2 KOSTRAD Lakukan Acara Tradisi Penerimaan Tank Leopard dan Marder


Pada hari Senin tanggal 23 Desember 2013 bertempat di pintu gerbang utama Yonkav 8/2 Kostrad, Komandan Batalyon Kavaleri 8/2 Kostrad Letkol Kav Otto Sollu, SE beserta Persit dan prajurit Narasinga menerima kedatangan Alutsista terbaru Kavaleri TNI AD jenis Tank Leopard 2A4 dan Tank Marder dalam suatu acara tradisi yang sederhana namun khidmat.



YONKAV 8/2 KOSTRAD Lakukan Acara Tradisi Penerimaan Tank Leopard dan Marder
 
Alutsista baru Tank Leopard 2A4 dan Tank Marder baru tiba di Asrama Yonkav 8/2 Kostrad, setelah sebelumnya dipamerkan dalam pameran Alutsista dalam rangka Hari Juang Kartika TA. 2013 di Makodam V/ BRW. Perjalanan dari Makodam V menuju Asrama Yonkav menggunakan Trailer khusus dan dikawal oleh petugas dari Pomdam V serta perwakilan dari Pussenkav.

Rangkaian acara tradisi meliputi penyerahan simbolis kunci Tank, penyiraman air bunga serta penyambutan oleh seluruh warga Yonkav 8 baik prajurit, Persit maupun anak-anak. Seluruh warga terlihat antusias menerima kedatangan Alutsista baru tersebut di Yonkav 8. Acara ini merupakan momen bersejarah bagi satuan Yonkav 8 karena diberikan kepercayaan oleh TNI AD dan Negara untuk mengawaki Alutsista terbaru Kavaleri TNI AD berupa Tank jenis  MBT (Main Battle Tank) yang merupakan salah satu tank “TERBAIK” di dunia saat ini. Dengan kedatangan Tank canggih tersebut, diharapkan semakin memperkuat kekuatan militer bangsa kita, dan meningkatkan “Bargaining Position” Negara kita di dunia Internasional.









 Sumber : Yonkav8

Selasa, 24 Desember 2013

BATALYON INFANTERI-3 MARINIR JUARA PERTAMA MENEMBAK



Batalyon Infanteri-3 Marinir berhasil menjadi juara pertama lomba menembak dalam rangka memperingati ulang tahun ke-51 Brigif-1 Marinir  yang digelar di lapangan tembak Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Senin, (23/12/2013).


Lomba yang disaksikan Komandan Brigif-1 Marinir Kolonel Marinir Markos, Pasops Brigif-1 Mar Letkol Mar Nurhidayat dan para Komandan Satlak dijajaran Brigif-1 Mar itu mempertandingkan tiga kategori yaitu menembak senapan, menembak sniper dan menembak pistol. Untuk menembak pistol, masing-masing tim/batalyon diwakili 10 petembak (5 perwira, 2 bintara dan 3 tamtama), untuk menembak senapan setiap tim/batalyon diwakili 50 petembak, sedangkan untuk menembak sniper tiap tim/batalyon diwakili 5 petembak (1 perwira, 1 bintara dan 3 tamtama).

 
Dalam cabang menembak tersebut Batalyon Infanter-3 Marinir dengan Komandan Batalyon Letkol Mar Agus Gunawan Wibisono tersebut berhasil menjadi juara pertama dengan total nilai 5.659, juara kedua diduduki oleh Batalyon Infanteri-5 Marinir dengan nilai 5.268, sedangkan Batalyon Infanteri-1 Marinir harus puas sebagai juara ketiga dengan total nilai 5.183.
Juara perorangan menembak senapan, juara pertama direbut Pratu Mar Lilik Agus  dari Yonif-3 Mar  dengan nilai 129, juara kedua Pratu Mar Alex Sandoyo dari Yonif-5 Mar dengan nilai 117 dan juara ketiga diduduki Praka Mar Fajar Eko dari Yonif-3 Mar dengan nilai 116.
Untuk juara perorangan menembak pistol, juara pertama direbut Praka Mar Tri Wiyoto dari Yonif-3 Mar dengan nilai 88, Sertu Mar Indra Darmawan dari Yonif-3 Mar sebagai juara kedua dengan nilai 81, sedangkan Praka Mar Kharofi dari Yonif-5 Mar harus puas sebagai juara ketiga dengan nilai 81.

 
Sementara itu untuk juara perorangan sniper juara pertama direbut Praka Mar Arif dari Yonif-1 Mar dengan nilai 40, juara kedua diduduki Lettu Mar Wachit H dari Yonif-5 Mar dengan nilai 40.
Dalam memperingati HUT ke-51 Brigif-1 Marinir, olahraga militer yang dipertandingkan yaitu menembak, renang laut, cross country dan halang rintang.






Sumber : MARINIR

Jumat, 20 Desember 2013

TNI AD Bakal Mendapatkan 50 Tank Ringan Marder Tahun 2014


TNI AD Bakal  Tambah 50 Jenis Tank Ringan  Marder


TNI Angkatan Darat (AD) rencananya akan mendapatkan 50 alat utama sistem senjata (Alutsista) berupa tank ringan Marder buatan Jerman pada 2014 mendatang. Alat tersebut rencananya akan dilaunching sekaligus diperkenalkan di Hari Jadi TNI ke-69 pada 5 Oktober 2014 di Surabaya.
Demikian dikatakan Danpussenif Mayjen TNI I Made Agra Sudiantara kepada wartawan seusai acara peringatan ulang tahun ke-65 Infanteri di Lapangan Tembak Gunung Bohong, Kota Cimahi, Kamis (19/12).
Dengan adanya penambahan kendaraan bersenjata tersebut, kata Agra, selain akan menambah kekuatan pengamanan nagara kedaulatan RI juga memberikan semangat tinggi bagi seluruh jajaran TNI AD.
"Kami akan mendapatkan 50 alutsista berupa marder buatan negara Jerman di tahun 2014 nanti. Ini akan menambah semangat juang kami sekaligus sebagai pertanggungjawaban kami sebagai militer khususnya infanteri," katanya.
Melalui peringatan Hari Jadi Infanteri ini, lanjut Agra, pihaknya juga bertekad kuat untuk berjuang dan menjaga wilayah kedaulatan negeri agar tetap utuh sebagai negara kesatuan Republik Indonesia. Selain itu dia juga tetap mengharapkan agar kerjasama dengan masyarakat bisa terus terjaga, karena semua perjuangan TNI akan berhasil jika tidak terlepas dari kerjasama dan bantuan masyarakat.
"TNI akan terus bersama rakyat untuk membangun bangsa ini," tegasnya.
Perjuangan yang akan dilakukan oleh Infanteri, ditambahkan Agra, pihaknya juga bertekad untuk tetap bersikap profesional. "Kami akan terus melakukan sikap profesional secara nyata sesuai dengan peran dan fungsi dalam mendukung tugas pokok TNI. Bahkan, sikap disiplin pun bakal dijungjung tinggi oleh TNI," ungkapnya. 




Sumber : TRIBUNNEWS

Rabu, 18 Desember 2013

Kado Akhir Tahun Untuk Pengawal Republik




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmpsFW5szcXXQcArJNBseSFUVuqu9znTDr4qhvcrMyAUPLRpv5NFGjWiWOUQvLbTXJbCrq3ZdobyQdVLaWazbTT1SvOjVM3QDS85C1cH5HFTPxRSfqg0l_gmsLmgoEo4jOOPyM88smTak/s1600/qv90.jpg
BMP3F Marinir (Dispen Marinir)
Lagu Maju Tak Gentar layak dilantunkan untuk memberikan semangat suasana hati yang gembira, bangga dan senang, utamanya untuk pengawal republik yang sedang digagahperkasakan. Sejumlah kado akhir tahun memeriahkan bahasa tubuh tentara dengan kedatangan berbagai alutsista baru untuk disandangkan di satuan tempur TNI segala matra. 

Selasa tanggal 17 Desember 2013 PT Dirgantara Indonesia menyerahkan 3 pesawat angkut militer CN295 kepada TNI AU dari jumlah pesanan 9 unit. Dengan penyerahan ini TNI AU sudah memiliki 5 unit CN 295. Kemudian TNI AD mendapat tambahan 6 heli serbu Bell 412 EP. Matra darat ini memesan sedikitnya 24 Heli jenis ini bersama 16 Heli jenis Fennec yang akan datang tahun 2014. Minggu ini juga TNI AL mendapat kekuatan tambahan dengan datangnya 37 unit tank amfibi maut BMP3F dari Rusia.

Kado terbesar dari semua keceriaan yang mewarnai “jalan-jalan” bersama tentara tentu dengan diumumkannya rencana pembelian kapal selam Rusia secara besar-besaran oleh Menhan Purnomo Jumat siang tanggal 6 Desember 2013. Rencana ini juga bersinergi dengan pembangunan infrastruktur kapal selam di tanah air untuk pembuatan kapal selam Changbogo. Kapal selam yang mau dibeli itu adalah dari jenis Kilo dan Amur, dua jenis kapal selam yang paling ditakuti di seluruh dunia. Kapal selam ini mampu menembakkan peluru kendali dari bawah laut menuju daratan dari jarak 300 km.
  
Dipastikan kehadiran dua jenis kapal selam paling senyap di dunia ini akan memberikan efek gentar dan getar dalam perkuatan otot militer TNI yang sesungguhnya. Dengan lugas dinyatakan Menhan Purnomo bahwa kehadiran kapal selam ini untuk menjaga ALKI di laut Selatan. Maksud tersiratnya jelas pada tetangga Selatan yang lagi galau karena dicuekin SBY. Galau dan panik karena gelombang laut Selatan mengirim manusia perahu makin deras. Tetapi tidak hanya laut Selatan saja dong, juga untuk memagari Laut Cina Selatan atau Ambalat, atau membatasi gerak kapal selam negeri pulau sebelah Batam itu yang suka nyelonong ke perairan kita.

Sebenarnya berbagai alutsista lain sudah menjelang masuk gudang arsenal TNI. Misalnya Kapal Cepat Rudal (KCR) 40m yang ke empat buatan Palindo Batam. Kemudian Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 m buatan PT PAL. Sementara 16 jet tempur T50 Golden Eagle seluruhnya akan tiba akhir Desember ini. Juga pesawat Super Tucano dari Brasil yang kecepatan datangnya dikalahkan Golden Eagle Korsel. 

Panen raya alutsista digambarkan dengan jelas akan terjadi sepanjang tahun 2014 dengan kedatangan beragam alutsista seperti kapal perang jenis Light Fregat dari Inggris, kapal cepat rudal 60m, kapal angkut tank, kapal BCM (Bantu Cair Minyak), tank berat Leopard, tank Marder, panser Anoa, MLRS Astross, artileri Caesar Nexter, artileri KH179, rudal Starstreak, rudal Mistral, jet tempur F16 dan lain-lain.

Itu yang mau datang Pak Cik. Yang mau dipesan juga masih banyak utamanya untuk kebutuhan MEF 2 periode 2015-2019. Dengan prediksi anggaran belanja alutsista sebesar US$20 milyar untuk MEF 2 maka asumsi kita minimal akan ada tambahan untuk TNI AU 1 Skuadron Sukhoi Family, 1 skuadron f16 batch2 dan 1 skuadron Typhoon. Sedangkan untuk TNI AL akan ada pemesanan 3-5 fregat dari Rusia, tambahan 3-5 kapal PKR10514 Sigma Belanda, atau bisa saja mengambil 2 Destroyer. 

TNI AD akan memperkuat satuan Kavaleri dan Armed dengan mendatangkan MBT dan MLRS serta Heli tempur. Heli Apache dan Blackhawk sudah diambang pintu termasuk peluru kendali pertahanan udara jarak sedang (SAM) yang akan memayungi Jakarta dan sejumlah pangkalan militer.

Untuk pembangunan kapal selam, jika proyek “Sekilo Semur” berjalan lancar maka prediksi kita pada tahun 2019 saat MEF 2 selesai Indonesia akan memiliki sedikitnya 12 kapal selam dengan rincian 4 Kilo, 4 Amur dan 4 Changbogo. Dua kapal selam Cakra Class buatan tahun 1980 tidak lagi dioperasikan. Sementara teknologi Changbogo yang sudah didapatkan akan menjadi loncatan prestasi dan sekaligus awal pengembangan teknologi kapal selam sehingga RI mampu memproduksi kapal selam secara berkesinambungan mulai tahun 2020.

Sebuah kado sejatinya adalah sebuah momentum. Meski bukan hanya kado akhir tahun saja yang telah diterima pengawal republik. Sepanjang tahun 2013 ini sudah banyak kado yang dipersembahkan untuk tentara rakyat ini. Demikian juga tahun 2014 dan seterusnya, tentara benteng NKRI akan terus mendapatkan berbagai alutsista berteknologi terkini sebagai kewajiban dan tugas pemerintah dan rakyat Indonesia. 

Wajar dong kita mendandani prajurit kita karena mereka kita tugaskan untuk mengawal dan mewibawakan teritori NKRI. Tentara berteknologi tempur adalah visi dan misi yang harus disandangkan kepada siapapun yang akan memimpin republik kebanggaan ini. Ke depan ini adalah sebuah era dimana perebutan sumber daya energi tak terbarukan menjadi tema utama. Negara yang kaya ini harus dijaga dengan kekuatan militer yang setara dalam teknologi.

Ke depan ini kekuatan Asia Pasifik akan dibelah menjadi dua kekuatan besar. Cina Rusia Korut dimungkinkan menjadi kekuatan militer gabungan melawan AS, Australia, Jepang dan Korsel. Meski tanpa Rusia kekuatan Cina pun sudah mulai diperhitungkan. Insiden pencegatan kapal perang AS USS Cowpens oleh kapal pengawal kapal induk Cina di Laut Cina Selatan 5 Desember 2013 merupakan embrio dari liga pertarungan gengsi militer dan klaim teritori. 

Indonesia mau tak mau harus ikut kompetisi itu dalam kapasitas membela teritori, menjaga kualitas kewibawaan wilayah negara dan eksistensi NKRI. Maka kado demi kado alutsista harus terus dipersembahkan kepada pengawal republik agar kemampuan jaga wibawa dan jago berotot dapat diperlihatkan. Jika tentara petarung militan dan tentara berteknologi disinergikan dengan jiwa nasionalis sejati. Maka perhatikan apa yang akan terjadi. Super sekali.

****

Jagvane / 18 Des 2013




  Analisis