Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Januari 2014

LAPAN Kembangkan Teknologi Alutsista bersama TNI



 TNI AD Anggarkan Rp 3,5 M Untuk Pembangunan Pesawat Tanpa Awak & Roket LAPAN
Prototipe Rudal Lapan (Kaskus)
JAKARTA TNI AD bakal memborong alutsista di akhir masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Paling lambat Agustus tahun ini, TNI AD menargetkan bisa mendatangkan 60 sampai 80 persen alutsista yang sudah masuk daftar pembelian. Selebihnya, akan dicicil hingga 2017.


Tahun ini, anggaran keseluruhan TNI AD mencapai Rp 15 Triliun. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman mengungkapkan, cukup banyak unit alutsista yang akan dibeli TNI AD tahun ini. Sebagian besar merupakan unit bergerak berupa tank dan helikopter taktis.

Salah satu pembelian terbesar tahun ini adalah main battle tank (MBT) Leopard 2A4 Revolution. Sedikitnya 52 unit Leopard anyar akan melengkapi kekuatan TNI AD.

"Masih ada sekitar 71 lagi Leopard dan Marder yang didatangkan setelah 2014," ujarnya usai penandatanganan MoU penelitian dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Mabes AD kemarin.

Selain itu, TNI AD juga membeli 81 rudal anti serangan udara, serta meriam Caesar 155 mm dan Multi Launcher Rocket System (MLLRS) masing-masing dua batalion. TNI AD juga membeli sejumlah helikopter, seperti Eurocopter Fennec 12 unit dan Bell Helicopter 16 unit. "Apache juga akan didatangkan tapi tahun 2017," lanjutnya.

Penandatanganan MoU dengan LAPAN sendiri bakal memperkuat TNI AD di bidang penelitian. Beberapa manfaat menggandeng LAPAN, TNI AD bisa lebih cepat dalam mengembangkan teknologi penerbangan, roket, penginderaan jarak jauh, hingga pemetaan wilayah.

Hasil kerjasama itu nantinya akan membuat teknologi pertahanan makin canggih. Teknologi satelit penginderaan jauh misalnya, bisa digunakan untuk memetakan setiap sudut wilayah NKRI, terutama perbatasan. Teknologi itu bisa juga digunakan untuk menanggulangi bencana.

Budiman mengatakan, pengembangan alutsista saat ini memberi porsi cukup besar pada penelitian. Kerjasama tidak hanya dilakukan dengan LAPAN, namun juga BPPT dan sejumlah Universitas. Untuk penelitian awal yang bekerjasama dengan LAPAN, telah disediakan anggaran Rp 3,5 miliar.

"Overall, termasuk kerjasama dengan BPPT dan lainnya telah dianggarkan hingga Rp 56 miliar," tambahnya. Bahkan, secara keseluruhan, Kementerian Pertahanan menganggarkan antara Rp 200-300 miliar untuk keperluan research and development.

Kepala LAPAN Bambang S Tedjasukmana mengungkapkan, pihaknya telah membuat sebuah konsorsium roket nasional. Anggotanya termasuk Pindad dan Kementerian Pertahanan. Konsorsium tersebut telah menghasilkan Roket dengan jangkauan 15 dan 23 kilometer.

"Saat ini, kami sedang mengembangkan yang jangkauan 36 kilometer, serta memulai pengembangan untuk daya jangkau 70 dan 100 kilometer," terangnya kemarin. Jika pengembangan tersebut selesai, barulah LAPAN mengembangkan roket dengan jangkauan hingga 300 kilometer seperti Yakhont milik Rusia.

Kerjasama dengan militer akan membuat LAPAN memiliki lebih banyak peran dalam industri pertahanan. Terutama, dalam hal pengembangan teknologi pertahanan dan persenjataan. "Hasil kerjasama nanti hanya akan berupa prototipe. Jika akan diproduksi masal, maka akan digarap oleh industri," ucapnya.


  JPNN 

Senin, 23 Desember 2013

Sukses Ekspedisi Morotai 2013



Pulau Morotai Ekspedisi Morotai yang dicanangkan sejak tahun lalu sukses dilaksanakan, Rabu (18/12). Sebanyak delapan roket hasil kerja sama Lapan dengan Konsorsium Roket Nasional berhasil diluncurkan dari Pulau Morotai, Maluku Utara.

Walaupun mulai dalam kondisi hujan, kegiatan yang dipimpin oleh Kepala Lapan dan didukung Pemerintah Daerah Kabupaten Pulau Morotai berlangsung dengan baik. Hingga penekanan tombol terakhir yang menandai berakhirnya ekspedisi ini, cuaca berangsur cerah. Roket-roket yang diluncurkan terdiri dari RHan 1210, 1220, dan 2020.

Kepala Lapan, Bambang S. Tejasukmana, menekan tombol pemicu roket pertama yang diluncurkan. Meskipun hujan, roket tersebut meluncur dengan baik. Berikutnya, penekanan tombol roket dilakukan secara berurutan oleh Wakil Bupati Pulau Morotai, Ketua DPRD Kabupaten Morotai, Kasdam Pattimura, Wakil Bupati Halmahera Utara, perwakilan dari Balitbang Kementerian Pertahanan, tokoh masyarakat setempat, isteri Bupati Pulau Morotai, serta Komandan LANAL dan LANUD Pulau Morotai. Para penonton yang memadati area peluncuran selalu bertepuk tangan usai roket melesat ke udara.

Dalam sambutannya, Kepala Lapan mengatakan bahwa peluncuran roket pertama kali di Pulau Morotai ini menandai uji coba peluncuran roket di belahan utara bumi nusantara menuju samudera Pasifik. "Uji coba kali ini juga sekaligus menjajaki kemungkinan untuk meluncurkan roket-roket yang lebih besar seperti RX 550 dan pembangunan bandar antariksa di Pulau Morotai. Selama ini, Lapan sudah sering meluncurkan roket dari Pameungpeuk, Kabupaten Garut, belahan bumi selatan Indonesia, menuju samudera Hindia," ia berujar.

Sementara itu, Wakil Bupati Pulau Morotai dalam sambutannya mengungkapkan rasa bersyukur dan terima kasih karena telah memilih Pulau Morotai sebagai tempat uji coba peluncuran roket. Kegiatan ini diharapkan dapat berlanjut dan menjadi pemicu bagi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pulau Morotai.

Lokasi peluncuran di Tanjung Sangowo, Kecamatan Morotai Timur, dapat ditempuh selama satu jam perjalanan darat dari Kota Morotai. Pulau Morotai dapat diakses dari Ternate dengan menggunakan speed boat berkapasitas 12 orang menuju Pelabuhan Sofifi. Perjalanan tersebut ditempuh dalam waktu 30 menit. Dari pelabuhan Sofifi kemudian dilanjutkan dengan melintasi Kabupaten Halmahera Utara menuju kota Tobelo dengan waktu tempuh tiga jam. Pulau Morotai kemudian dicapai dalam waktu satu jam dari Tobelo dengan menggunakan speed boat berkapasitas 25 orang.

Sukses Ekpedisi Morotai 2013 ini merupakan hadiah akhir tahun yang manis untuk Lapan. Keberhasilan ini sekaligus menjadi kado spesial bagi Lapan yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 50 pada 27 November 2013.

  Lapan  

Jumat, 20 Desember 2013

Menjaga Marwah NKRI Dengan Roket


Hingga tahun 2015, Indonesia akan memiliki tiga jenis roket dengan berbagai daya jangkau, yakni R-Han 1220, R-Han 350, R-Han 450.
TNI terus memodernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) untuk pertahanan keamanan. Indonesia kini sudah mampu membuat beragam jenis roket untuk keperluan pertahanan demi marwah bangsa.


Kementerian Pertahanan (Kemhan) terus meningkatkan kualitas alutsista TNI dengan memanfaatkan inovasi teknologi buatan dalam negeri. Salah satu yang sudah siap hingga ke tahap produksi adalah roket. Setiap tahun, Kemhan menargetkan 1.000 roket bisa diproduksi oleh konsorsium industri roket nasional.

Dalam cetak biru Kemhan disebutkan hingga tahun 2015, Indonesia akan memiliki tiga jenis roket dengan berbagai daya jangkau, yakni R-Han 1220, R-Han 350, R-Han 450. R-Han 1220 merupakan roket pengembangan R-Han 122 yang Agustus lalu diluncurkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertepatan dengan puncak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) 2013.



R-Han 122 dimodifikasi menjadi R-Han 1220 karena R-Han 122 dianggap kurang cocok dengan pelontar roket milik TNI AL yang nantinya menjadi pengguna (end user). Masing-masing jenis, sedikitnya akan diproduksi 1.000 roket yang digunakan latihan prajurit TNI.

Dengan kemampuan tersebut, Indonesia akan menjadi satu di antara sedikit negara yang mampu memproduksi roket. Negara lainnya adalah Rusia, Amerika Serikat, Prancis, China, India, Jepang Korea Utara, Iran, dan Pakistan. 

Selain roket, tahun 2015, Indonesia juga menargetkan bisa memproduksi peluru kendali. Untuk yang terakhir ini, Indonesia masih meloby pihak China untuk kerja sama alih teknologi. Kemhan akan memproduksi roket berhulu ledak tinggi dengan daya jangkau sekitar 14,5 km.

“Sebetulnya Roket R-Han 122 sudah dilengkapi dengan hulu ledak. Roket ini akan dimanfaatkan untuk menggantikan roket yang dibeli dari luar negeri,” ujar Staf Ahli Menristek Bidang Pertahanan dan Keamanan, Hari Purwanto.

Ia menjelaskan, roket yang akan diproduksi tersebut memiliki jangkauan 15-20 kilometer. Sedangkan R-Han 350 dan R-Han 450 didesain memiliki jangkauan hingga tiga digit alias ratusan hingga ribuan meter jauhnya.



Menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang Setiawan Tejasukmana, program pengembangan roket nasional sebetulnya bukan hanya untuk mendukung pengembangan alutsista TNI, namun juga untuk berbagai keperluan. Keperluan tersebut, antara lain roket yang dihasilkan mampu mengantarkan benda ke luar angkasa.

“Misalnya untuk meluncurkan satelit. Kami saat ini sedangkan meneliti dan mengembangkan kemampuan memproduksi satelit pemantau cuaca,” katanya.

Ahli Roket dari Lapan, Rika Andiarti mengatakan, teknologi roket perlu dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian bangsa. Terutama dalam bidang penyediaan persenjataan pertahanan negara dan pemanfaatan roket untuk kesejahteraan masyarakat.

“Pengembangan roket butuh investasi yang sangat besar dengan hasil yang penuh risiko dengan manfaat yang abstrak dan jangka panjang. Semua pihak terkait harus siap kerja sama terhadap hal yang penting dan strategis ini,” ungkapnya.

Komitmen pendanaan pun ditunjukkan pemerintah. Tahun 2011 dan 2012 alokasi anggaran untuk riset dan pengembangan roket tercatat Rp 10,5 miliar. Jumlah tersebut meningkat menjadi Rp 11 miliar pada tahun 2013 dan Rp 42 miliar pada tahun 2014.



Sumber : SainsIndonesia

Kamis, 19 Desember 2013

Delapan Roket Diluncurkan dari Morotai



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFA_UxZNj-TzouWc7ESM5cyI1UmO3OdU_FiVBOx0LFGGNVLTDpHGxoV0dtWhmVqjBIiTIp2yRuZB_7U12TDsnDUl1gaOVps73JLSapI5p9z2HZv-DKppOVrFPbowPVa7GxW5Id4aWQ-EtD/s640/Roket-RX2020-1-by-kenyot-10.jpg
Rx2020 Lapan
MOROTAI Sebanyak delapan buah roket pengorbit satelit (RPS) diluncurkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) RI dari Pulau Morotai, Maluku Utara, Rabu (18/12/2013).

Ini merupakan tahap uji coba peluncuran roket oleh Lapan atas nama Konsorsium Roket Nasional untuk yang kesekian kalinya. Delapan roket itu masing-masing roket jenis RX 2020 sebanyak dua buah, R-han 1220 sebanyak empat buah, dan R-han 1220 sebanyak dua buah.


Roket-roket ini merupakan roket ukuran kecil karena rata-rata memiliki diameter antara 12-20 sentimeter dengan jarang tempuh antara 14-32 kilometer. “Roket jenis RX 2020 ini memiliki panjang 3,2 meter, berdiameter 20 sentimeter dengan jarang tempuh 32 kilometer selama dua menit dengan berat 170 kilogram,” ujar Rika Andiarti, Ketua Panitia Peluncuran Roket.


Peluncuran roket dilakukan di Tanjung Sangowo, Kecamatan Morotai Timur. Titik koordinat peluncuran berada pada satu kilometer dari permukiman penduduk, yakni Desa Sangowo dan Desa Mira, Kecamatan Morotai Timur.



Ujicoba Roket di Pameungpeuk
Sasaran peluncuran dikerahkan menuju kawasan timur Pulau Morotai. Kepala Lapan RI, Bambang Setiawan Tejasukmana, mengatakan, roket-roket yang diuji coba tersebut sering kali dilakukan uji coba peluncuran oleh Lapan di berbagai tempat di Indonesia.

Sebelumnya, Lapan juga melakukan uji coba peluncuran dengan jenis roket yang sama di wilayah selatan Indonesia. Tepatnya di Garut selatan. Kali ini, Lapan memilih Morotai sebagai pusat kegiatan uji coba peluncuran roket yang kesekian kalinya.

Pulau Morotai merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia yang terletak di kawasan utara Indonesia bagian timur. Pulau yang telah dimekarkan menjadi daerah otonom baru pada 2009 ini berada di Provinsi Maluku Utara.


Uji coba peluncuran roket ini karena Pulau Morotai berhadapan langsung dengan lautan Pasifik. “Sebelumnya kita uji coba di Garut selatan karena di sana berhadapan dengan Samudra Hindia, kita coba di Morotai ini karena Pasifik-nya,” ujar Bambang S Tejasukmana.

 

Menurut Bambang, roket-roket tersebut dibuat atas kerja sama konsorsium roket nasional yang melibatkan berbagai pihak, di antaranya Lapan RI, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementreian Pertahanan, dan beberapa lembaga lainnya, termasuk industri teknologi. “Dan roket-roket ini akan dimanfaatkan oleh TNI,” ujar Bambang lagi.


  Kompas  

Rabu, 27 November 2013

Uji Statis Roket 80 mm Hasil LITBANGBUAT DISLITBANGAU




Tim Peneliti Roket 80 mm Dislitbangau yang dipimpin Kasubdis Rudalsen Kol. Tek Adang Heri Raspati melaksanakan Uji Statis terhadap Roket 80 mm hasil penelitian pengembangan dan pembuatan Subdis Rudalsen Dislitbangau. Uji Statis ini dilaksanakan di Pustek Roket Lapan Rumpin Bogor, belum lama ini.

Pengujian berjalan dengan baik, aman dan lancar dengan melibatkan tim dari Pustek Roket Lapan. Kegiatan penelitian pengembangan dan pembuatan Roket 80 mm akan dilanjutkan pada tahap selanjutnya pada TA 2014 yang akan datang.





Sumber : TNI AU

Sabtu, 23 November 2013

Persiapan Peluncuran Roket Pertahanan Indonesia

Pengujian Roket RX-2020 di Pameungpeuk, Garut (26/8/2013)

MOROTAI : Morotai bukan sekedar pulau bersejarah di Maluku Utara yang menyimpan jejak Pasukan Sekutu di masa Perang Dunia II.  Pulau ini juga ideal sebagai lokasi peluncuran roket yang dibangun Indonesia. Penduduk yang belum padat dan lokasi yang menghadap ke Samudera Pasifik, ideal untuk memenuhi prasyarat sebuah lokasi peluncuran roket.

Pulau Morotai dinilai sebagai alternatif terbaik di antara dua lokasi pilihan lainnya, seperti Pulau Enggano – Bengkulu dan Pulau Biak – Papua, ujar Deputi bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr. Ing. Soewarto Hardhienata.

“Pada 6 November ini kami mulai mempersiapkan pengiriman perlengkapan peluncuran beserta roketnya melalui kapal ke Morotai, mungkin sekitar 20 hari perjalanan. Diharapkan awal Desember peluncuran roket sudah bisa dimulai, ini sebagai uji coba lokasi,” katanya.

Lapan sejak lama berencana mengembangkan roket pengorbit satelit (RPS) yang didesain dan dibuat mandiri di dalam negeri, untuk mengorbitkan satelit yang juga buatan sendiri. Namun Desember ini, roket-roket yang diluncurkan untuk uji terbang di Morotai, masih roket-roket ukuran kecil yakni: dua unit RX 1210 dan empat unit RX 1220 yang digunakan untuk misi pertahanan, ujar Dr. Ing. Soewarto.

Petugas Lapan pasang stiker roket RX1210 di lapangan Balai Produksi dan Pengujian Roket Pameungpeuk, Garut  (29/8/2013) (photo:kenyot10/kaskus.co.id)

RX-1210 adalah roket berdiamter 120mm dengan panjang propelan 1 meter. RX 1210 atau Rhan122 memiliki panjang 1.762 cm dan berat 38 kg, dengan jangkuan 14 km. Dengan ukurannya tidak begitu besar, roket ini bisa dibawa menggunakan mobil truk militer dan digunakan oleh Angkatan Laut serta Angkatan Darat.

Untuk mendapatkan jangkauan  20 km,  RX1210 diperpanjang propelannya dari satu menjadi 2 meter dan disebut RX-1220. Lapan telah mengembangkan roket D230 Type RX 1220 sejak 2010. Spesifikasi bahan bakarnya, propelan dengan panjang 200 cm menggunakan konfigurasi geometri propelan double, yaitu bintang dan hallow.

Roket RX1220 telah digunakan Marinir. Roket tempur dengan berat 169,5 kg dan panjang 3230 mm ini menggunakan sistem sirip lipat yang secara otomatis terbuka vertikal ketika lepas landas dari peluncur.

Lapan juga telah membuat roket D230 Type RX 2020 yang kemampuannya lebih sempurna dari roket RX 1210. Roket dengan panjang 3.230 cm ini menggunakan bahan bakar komposite dengan struktur tabung aluminium sehingga mencapai titik serang semakin sempurna. Roket ini memiliki daya jangkau hingga mencapai 32 km dan telah digunakan TNI untuk latihan militer.



Roket Pengorbit

Roket Lapan (photo: Audrey)
Roket Lapan
Lapan juga melakukan  serangkaian uji coba  roket RX 450 dengan daya jangkau mencapai 150 km. Selain untuk pertahanan, RX-450 bisa dimanfaatkan untuk membawa alat pemantau radiasi atau keperluan penelitian lainnya. “Ini menunjukkan bahwa kita mampu membuat roket canggih berteknologi tinggi,” tukas Soewarto.


Roket RX 450 adalah tipe roket balistik, kaliber 450 mm, panjang total 6.110 mm, panjang motor 4.459 mm, berat total 1.500 kg, berat muatan 100 kg, gaya dorong 12895 kg, dan menggunakan bahan bakar propelan komposit.


Selain roket RX 450, Lapan mengembangkan roket RX 550 dengan panjang 8–10 meter dan memiliki daya dorong 25 ton dalam waktu 7 detik. Roket ini ditargetkan mampu terbang sejauh 300 km hingga mencapai titik yang ditentukan. “Selain untuk menunjang kepentingan pertahanan negara, RX-550 bisa digunakan untuk mengorbitkan statelit,” jelasnya. RX-550 dengan jangkauan 300 km yang masih dalam tahap uji statis, sementara RX-420 telah uji terbang pada tahun 2009.


“Roket pengorbit satelit yang berskala besar merupakan rencana jangka panjang Lapan untuk 2025, karena untuk sekarang ini Lapan masih menggunakan roket milik India untuk meluncurkan satelit. Lokasi peluncurannya pun dari negara itu,”  tambahnya.


Pengembangan roket Lapan, ditujukan baik untuk kepentingan ilmiah maupun kepentingan pertahanan, yang dalam jangka panjang juga mengarah pada peluncuran satelit. Untuk misi pertahanan, teknologi roket Lapan sudah diadopsi oleh Konsorsium Roket yang terdiri dari Kemhan, Kemristek, PT Pindad, PT Dahana, dan PT DI.


R Han 220 berdaya jangkau 40 km,  sedang dikembangkan konsorsium untuk kepentingan peningkatan kapasitas personel militer.

Fungsi Pamengpeuk Beda Dengan Morotai
 
morotai-4Menurut Kepala Pusat Teknologi Roket Lapan Dr Rika Andiarti, selama ini Lapan menggunakan Instalasi Peluncuran Roket di Pameungpeuk, Garut untuk melakukan uji terbang roket dengan ketinggian terbatas.


Instalasi di Garut, Jawa Barat dibangun khusus untuk riset penguasaan teknologi dasar roket, terutama pada kinerja motor roket, agar roket dapat meluncur dengan baik. Namun instalasi milik Lapan sudah tidak lagi ideal untuk melakukan uji coba roket berukuran besar berhubung saat ini kawasan di sekitar Pantai Santolo itu sudah semakin padat penduduk.


“Untuk meluncurkan roket yang berukuran besar diperlukan lokasi yang memenuhi zona aman, mengingat faktor resiko yang ditimbulkannya lebih besar, karena itu dicarilah lokasi baru yang memenuhi syarat, sekaligus syarat sebagai bandar antariksa nasional,” katanya.


Dari enam alternatif lokasi yang disurvai di Morotai, Tanjung Sangowo merupakan wilayah yang paling potensial, karena jika ditarik garis lurus, jarak tepi dua desa ini mencapai 6,5 km sehingga jika meletakkan posisi peluncur utama di tengah antara dua desa itu, maka jaraknya lebih dari 3 km dari masing-masing desa, jauh dari kawasan penduduk.

Berbeda dengan Pameungpeuk yang baru mengantisipasi uji terbang roket skala kecil, Morotai ditargetkan menampung uji terbang roket skala besar, bahkan termasuk peluncuran satelit yang jangkauannya minimal 350 km, misalnya untuk keperluan remote sensing, bahkan sampai ketinggian 36 ribu km untuk geostation, kata Rika.




Sumber : JKGR

Jumat, 15 November 2013

Roket Lapan diluncurkan di Morotai pada Desember

Roket Lapan



Tim Lapan kembali melakukan survei lokasi untuk memastikan peluncuran roket di Wilayah Kecamatan Morotai Timur (Mortim) Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara (Malut) pada Desember 2013 nanti.


Peluncuran roket dari tim Lapan yang sebelumnya akan dilakukan pada bulan November, dipastikan akan ditunda pada pekan kedua bulan Desember 2013, kata Wakil Bupati Pulau Morotai, Weni Paraisu ketika dihubungi dari Ternate, Kamis.

Ia mengatakan, dari tim Lapan kembali melakukan survei lokasi untuk peluncuran roket untuk memastikan tempat dan titik koordinat yang akan ditentukan untuk peluncuran nanti.

Menurutnya, selain melakukan penentuan titik koordinat tempat peluncuran roket dari Tim Lapan, rencananya dari tim Lapan juga akan meluncurkan pesawat tanpa awak yang akan dipantau melalui monitor.

Selain itu, pesawat tanpa awak sendiri rencana diluncurkan sebelum melakukan peluncuran roket yang berdiameter sekitar 50 mm guna memantau situasi dan keadaan sebelum dilakukan peluncuran roket.

Jadi bukan roket saja yang akan diluncurkan, tapi juga akan meluncurkan pesawat tanpa awak yang akan dipandu melalui monitor pengawas untuk memantau keadaan situasi sebelum dilakukan peluncuran, katanya.

Sekedar diketahui, untuk lokasi peluncuran roket lapan sendiri nantinya berjarak minimal 1,5 km dari pemukiman warga.

Bahkan atas peluncuran yang akan dilakukan, dari Lapan sendiri sebelumnya meminta dukungan dari Pemda Morotai untuk melakukan peluncuran roket yang dilokasikan di sangowo Mortim sebagai tempat peluncuran.

Wakil Bupati menyatakan, pemkab sendiri merespon kegiatan peluncuran roket dari Lapan, sementara untuk persiapan-persiapan yang akan dilakukan nanti dipastikan pada awal Desember sudah disiapkan, mulai dari bangunan untuk operator, VIP, dan beberapa tenda untuk para tim yang akan datang termasuk para pengunjung yang akan menyaksikan.

  Antara  

Rabu, 06 November 2013

Langkah Awal LAPAN Meluncurkan Roket Menuju Mars

Beberapa negara sudah memulai proyek penelitian untuk memungkinkan umat manusia menghuni planet tersebut. Selasa sore kemarin, India sudah meluncurkan roket yang membawa pengorbit pertama mereka ke Mars.

Langkah Awal LAPAN Meluncurkan Roket Menuju Mars

Lalu kapan Indonesia? Pertanyaan itu begitu menantang dan membayangkan saja tidak tega. Tapi pertengahan Oktober lalu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sudah mulai melangkah ke arah sana.

Setidaknya, diskusi ke arah itu sudah mulai digalakkan dalam momen penyelenggaraan Festival Sains Antariksa (FSA) di Pusat Sains Antariksa Lapan, Bandung, Sabtu (19/10).


Kegiatan ini merupakan wujud partisipasi Lapan dalam World Space Week 2013 dan rangkaian menyambut HUT Lapan ke-50 pada 27 November 2013. FSA yang diikuti 152 siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas tersebut bertema Exploring Mars, Discovering Earth.

"Sesuai dengan tema, dengan mengeksplorasi Mars, kita juga mempelajari Bumi kita sendiri. Belajar cara menciptakan lingkungan hidup yang kita inginkan, dan cara manusia bisa mengelola sumber daya yang ada," kata Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan Clara Yono Yatini dalam sambutannya dilansir dari laman Lapan,lapan.go.id.

Guru pendamping peserta FSA 2013 mengikuti sesi tanya jawab setelah presentasi Pengaruh Lingkungan Ruang Angkasa terhadap Pertumbuhan Tanaman serta misi Space Seeds for Asian Future (SSAF) pada acara FSA 2013 di Auditorium Lapan Bandung.

Perlukah Bangsa Indonesia ke Mars?

NKRI dibangun untuk berdiri selamanya. Jadi kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan di masa mendatang juga merupakan milik bangsa ini. Setidaknya Indonesia dari sekarang harus bersiap, jikalau suatu saat bumi yang dihuni umat manusia mengalami gangguan kosmologis. Ada banyak tujuan lain mengeksplorasi Planet Mars.

"Berjaga-jaga terhadap tumbukan Bumi dengan asteroid di kemudian hari, mengurangi kepadatan penduduk di Bumi, serta mengembangkan berbagai bentuk teknologi baru," ujar Gunawan Edmiranto Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN dalam presentasinya.

Di FSA ini juga ditampilkan presentasi misi Space Seeds for Asian Future (SSAF) oleh tim SSAF Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB). Mereka memberikan gambaran tentang biji yang dibawa dan ditumbuhkembangkan di ruang angkasa.

"Kesimpulan yang didapat dari eksperimen tersebut yaitu biji ruang angkasa mengalami kerusakan kulit biji dan aberasi kromosom," ujar Chunaeni Latief dari SITH ITB. Ia menambahkan, meskipun ada perbedaan pada pertumbuhan dan produktivitasnya, penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan. (ROL)

Menjajaki Alternatif Lokasi Peluncuran Roket Indonesia

Morotai bukan sekedar pulau di Maluku Utara yang bersejarah dan menyimpan jejak pasukan sekutu di masa Perang Dunia II, karena pulau ini juga dinilai ideal dipilih sebagai lokasi peluncuran roket yang sudah seharusnya dimiliki Indonesia.

Menjajaki Alternatif  Lokasi Peluncuran Roket Indonesia

Jarangnya penduduk (54 ribu jiwa untuk daerah seluas 2.315 km2) dan lokasinya yang menghadap langsung ke Samudera Pasifik sesuai untuk memenuhi prasyarat sebuah lokasi peluncuran roket yang harus menghadap ke laut bebas dan jauh dari wilayah berpenduduk padat.

Pulau Morotai juga dinilai sebagai alternatif terbaik di antara dua lokasi pilihan lainnya, seperti Pulau Enggano, Bengkulu dan Pulau Biak, Papua, kata Deputi bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr. Ing. Soewarto Hardhienata.


"Pada 6 November ini kami mulai mempersiapkan pengiriman perlengkapan peluncuran beserta roketnya melalui kapal ke Morotai, mungkin sekitar 20 hari perjalanan. Diharapkan awal Desember peluncuran roket sudah bisa dimulai, ini sebagai uji coba lokasi," katanya.

Lapan, ujarnya, sejak lama telah berencana mengembangkan roket pengorbit satelit (RPS) yang didesain dan dibuat secara mandiri di dalam negeri untuk mengorbitkan satelit yang juga buatan sendiri.

Namun Desember ini roket-roket yang diluncurkan untuk uji terbang di Morotai memang masih roket-roket ukuran kecil yakni dua unit RX 1210 dan empat unit RX 1220 yang digunakan untuk misi pertahanan, ujarnya.

"Roket pengorbit satelit yang berskala besar merupakan rencana jangka panjang Lapan untuk 2025, karena untuk sekarang ini Lapan masih menggunakan roket milik India untuk meluncurkan satelit. Lokasi peluncurannya pun dari negara itu," katanya.

Satelit Lapan-Tubsat (Lapan A1) seberat 57 kg buatan Lapan telah diluncurkan sejak Januari 2007 dari Pusat Antariksa Satish Dhawan, India untuk keperluan memantau kondisi bumi dan pemantauan lalu lintas kapal.

Satelit berikutnya yang sudah siap adalah Lapan A2 yang dijadwalkan akan diluncurkan pada 2013, namun ditunda hingga 2014 karena kesiapan roket India yang belum selesai. Lapan A2 ini akan disusul satelit Lapan A3 di tahun berikutnya.

"Indonesia adalah negara kepulauan yang luas. Satelit adalah alat yang tak bisa ditawar lagi di zaman modern ini, terkait pentingnya komunikasi antarwilayah dan optimasi sumber daya alam melalui pengamatan penginderaan jauh serta untuk kepentingan keamanan wilayah," katanya.

Pengembangan roket Lapan, lanjut dia, ditujukan baik untuk kepentingan ilmiah maupun kepentingan pertahanan, yang dalam jangka panjang juga mengarah pada peluncuran satelit.

Dimulai dengan RX 320 yang diluncurkan pada 2008, disusul RX 420 pada 2009 dan terakhir mempersiapkan roket RX-550 (Kaliber 550mm) dengan jangkauan 300 km yang masih dalam tahap uji statis.

Teknologi roket, urai Soewarto, bisa digunakan untuk berbagai kepentingan, baik sipil maupun militer, tergantung dari muatannya, apakah berupa sensor ilmiah untuk kepentingan pengamatan bumi atau satelit untuk keperluan komunikasi, atau berupa hulu ledak.

Untuk misi pertahanan, teknologi roket Lapan sudah diadopsi oleh Konsorsium Roket yang terdiri dari Kemhan, Kemristek, PT Pindad, PT Dahana, dan PT DI yang ditandai dengan diproduksi sebanyak 200 unit roket dinamai R Han-122 dengan daya jangkaunya 20 km pada 2012 dan 2013.

Roket R Han 122 ini akan disusul R Han 220 berdaya jangkau 40 km yang sedang dikembangkan konsorsium untuk kepentingan peningkatan kapasitas personel militer.

Pengganti Pamengpeuk

Menurut Kepala Pusat Teknologi Roket Lapan Dr Rika Andiarti, selama ini Lapan menggunakan Instalasi Peluncuran Roket di Pameungpeuk, Garut untuk melakukan uji terbang roket dengan ketinggian terbatas.

Instalasi yang berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat ini dibangun khusus untuk riset penguasaan teknologi dasar roket, terutama pada kinerja motor roket, agar roket dapat meluncur dengan baik, ujarnya.

Namun instalasi milik Lapan ini sudah tak lagi ideal untuk melakukan uji coba roket berukuran besar berhubung saat ini kawasan di sekitar Pantai Santolo itu sudah semakin padat penduduk, dan makin berkembang menjadi kawasan wisata.

"Untuk meluncurkan roket yang berukuran besar diperlukan lokasi yang memenuhi zona aman, mengingat faktor resiko yang ditimbulkannya lebih besar, karena itu dicarilah lokasi baru yang memenuhi syarat, sekaligus syarat sebagai bandar antariksa nasional," katanya.

Dari hasil ekspedisi di Morotai, ada enam alternatif lokasi, yakni di Tanjung Gurango, Desa Gorua, Kecamatan Morotai Utara yang jaraknya dari pemukiman penduduk 2 km, Pulau Tabailenge di depan kota Berebere dengan jarak 2,5 km, Kecamatan Morotai Utara, di Desa Bido, Kecamatan Morotai Utara yang jaraknya 2 km dari pemukiman penduduk.

Selain itu Desa Mira, Kecamatan Morotai Timur dengan jarak 1 km dari pemukiman penduduk, lokasi antara Desa Sangowo dan Desa Daeo Kecamatan Morotai Timur serta Tanjung Sangowo yang letaknya berada di antara Desa Sangowo dan Desa Mira, Kecamatan Morotai Timur.

Dari enam alternatif lokasi itu, urainya, Tanjung Sangowo merupakan wilayah yang paling potensial, karena jika ditarik garis lurus, jarak tepi dua desa ini mencapai 6,5 km sehingga jika meletakkan posisi peluncur utama di tengah antara dua desa itu, maka jaraknya lebih dari 3 km dari masing-masing desa, jauh dari kawasan penduduk.

Kontur daerah tersebut juga merupakan bukit yang sebagian besar memiliki sudut kemiringan yang tak curam, sementara di selatan kontur tanahnya datar dengan tepi pantai yang landai dan bagian utara pegunungan yang langsung bersinggungan dengan pantai dengan kemiringan cukup curam.

Kontur yang relatif datar dapat digunakan untuk daerah perakitan, penyimpanan serta pekerjaan dengan mobilitas tinggi, sedangkan peluncur yang memerlukan standar keamanan dan keselamatan tinggi dapat diletakkan di daerah yang mempunyai ketinggian cukup dari muka laut.

"Daerah terbang roket di sini bisa ke arah utara dan bisa ke timur, bebas ke laut dan juga tak melewati jarak jangkau ke pemukiman penduduk maupun ke batas negara lain," katanya.

Berbeda dengan Pameungpeuk yang baru mengantisipasi uji terbang roket skala kecil, Morotai ditargetkan menampung uji terbang roket skala besar, bahkan termasuk peluncuran satelit yang jangkauannya minimal 350 km, misalnya untuk keperluan remote sensing, bahkan sampai ketinggian 36 ribu km untuk geostation, kata Rika.

Sebelumnya Asisten Deputi Penyedia Jaringan Kemristek Goenawan Wibisana mengatakan, pihaknya sangat mendukung misi ini, khususnya karena roket berdaya jangkau hingga ratusan kilometer seperti yang ditargetkan memerlukan lokasi pengujian dan peluncuran yang representatif.

"Ini sangat penting untuk bangsa," tambahnya. (ROL)