Selasa, 31 Desember 2013

Bangun Kapal Selam dan Korvet Nasional






Presiden membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 42 Tahun 2010. Hal itu dilakukan dalam rangka mengkoordiansikan dan pengendalian revitalisasi Industri Pertahanan. Dengan telah diterbitkannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, maka pengaturan tentang organisasi, tata kerja, dan sekretariat KKIP telah diatur kembali melalui Perpres Nomor 59 Tahun 2013.

Sidang kesepuluh KKIP yang dipimpin Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, merupakan sidang terakhir berdasarkan Perpres Nomor 42 Tahun 2010.Sidang yang berlangsung pada pukul 10.00 -12.30 WIB, 6 Nopember tersebut, mengagendakan penyampaian program yang telah dilaksanakan sesuai Perpres No 42 Tahun 2010 dan program yang akan dilaksanakan sesuai Perpres No 59 Tahun 2013. Dalam sidang kesepuluh ini Kasal Laksamana TNI Marsetio memaparkan tentang rencana kebutuhan Kapal Selam, peluang bisnis dan investasi PT PAL dan BUMN lainnya serta terlaksananya program Kapal Selam dan Korvet Nasional (Perusak Kawal Rudal/PKR).

Sidang juga dihadiri Dirjen Pothan dan Dirjen Renhan Kemhan serta tim kelompok kerja (Pokja) KKIP, Tim Asistensi KKIP, Sekretaris Pokja KKIP dan beberapa pejabat perwakilan dari sejumlah instansi terkait lainnya serta pimpinan BUMNIP/BUMS.Dalam sidang kali ini juga disampaikan program yang telah dilaksanakan sesuai Perpres No 42 Tahun 2010 dan program yang akan dilaksanakan sesuai Perpres No 59 Tahun 2013 ditandatangani Presiden RI pada tanggal 30 Juli 2013.Sidang KKIP selanjutnya akan menggunakan UU No 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan yang akan dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan adanya Perpres Nomor 59 Tahun 2013,  maka Perpres Nomor 42 Tahun 2010 dinyatakan tidak berlaku lagi.

”Jadi KKIP yang lama kita selesaikan disini, kemudian yang akan datang akan ada KKIP baru berdasarkan amanat Undang-Undang No 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan,” ujar Menhan Purnomo Yusgiantoro.

Dimana bedanya? Bedanya ada dalam struktur organisasi, tata kerja dan sekretariat KKIP. Kalau KKIP lama dipimpin oleh Ketua KKIP Menteri Pertahanan, dengan anggota Menteri Pertahanan (Ketua merangkap anggota, Menteri BUMN (Ketua merangkap anggota) dengan anggota Menteri Perindustrian, Menteri Riset dan Teknologi, Panglima TNI, Kapolri, dan Wamenhan sebagai Sekretaris KKIP merangkap anggota. Sekarang, dalam KKIP baru ada tambahan empat anggota yakni Mendikbud, Menteri Keuangan, Bapennas, dan Menkominfo, dengan Ketua KKIP Presiden RI dan Ketua Harian Menteri Pertahanan serta Wakil Ketua Harian dijabat Meneg BUMN.

Sidang KKIP baru nantinya tetap rutin dilakukan setiap tiga bulan sekali, dan sidang kesepuluh ini merupakan sidang terakhir, sebelum nanti tahun 2014 akan diatur kembali yang akan dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hadir dalam sidang KKIP kesepuluh antara lain PT Pindad, PT PAL, PTDI, PT Dahana, PT Len, PT Inti, PT Krakatau Steel, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari dan PT Dok Perkapalan Surabaya.

Menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, membangun Kapal Selam adalah penting, karena dua pertiga wilayah kita adalah lautan dan dinegara kita ada yang dinamakan alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) dimana wilayah itu dilalui kapal-kapal atas air dan kapal bawah air maupun pesawat terbang. Alur laut ditetapkan sebagai hak alur untuk pelaksanaan lintas alur laut kepulauan berdasarkan konvensi hukum laut internasional. Ini merupakan alur-alur untuk pelayanan dan penerbangan yang dapat dimanfaatkan oleh kapal atau pesawat udara asing.

Penetapan ALKI dimaksudkan agar pelayaran dan penerbangan internasional dapat terselanggara secara terus-menerus, cepat dan dengan tidak terhalang oleh ruang dan udara perairan teritorial Indonesia. AlKI ditetapkan untuk mengubungkan dua periran bebas, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik meliputi ALKI I yang melintasi Laut Cina Selatan-Selat Karimata-Laut DKI-Selat Sunda.ALKI II melintasi Laut Sulawesi - Selat Makassar - Laut Flores - Selat Lombok. ALKI III melintas Sumadera Pasifik -Selat Maluku, Luat Seram - Laut Banda.

“Dalam hukum laut Internasional, United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) yang ditetapkan pada 1982, wilayah Indonesia kini menjadi salah satu jalur terpadat di dunia, dan wilayah ini perlu dijaga, untuk itu diperlukan Kapal Selam,” ujar Menhan Purnomo.


Komisaris Utama PT PAL Laksamana TNI Marsetio (Kasal),mengatakan,membangun kapal selam didalam negeri (PT PAL) adalah suatu kebanggan bagi bangsa Indonesia. Sebab indikator sebuah negara besar saat ini adalah bisa membangun kapal selam, kapal korvet, kapal fregat dan kapal-kapal perang lainnya. Dalam pembelian tiga kapal selam melalui Korea sudah disepakati bahwa dua kapal selam dibangun di Korea dan satu dibangun di Indonesia.

Personel dari PT PAL sudah dikirimkan ke Korea untuk belajar transfer of technology sebagai bentuk komitmen bersama kedua negara (Indonesia-Korea).Ratusan tenaga ahli yang dikirim ke Korea terdiri dari semua sektor, mulai dari tukang las sampai level engineer,sampai deasiner.

“Dalam membangun Kapal Selam sangatlah berbeda dengan kapal atas air.Kapal Selam harus dibangun dalam ruangan yang tertutup, harus rapih, harus bersih, karena memang pembuatannya dilakukan dengan sangat halus, dan hati-hati, sama dengan membuat kerajinan tangan, hand made,karena itu cukup lama,” ujar Marsetio.

Karena itulah pembangunan kapal selam memakan waktu yang lama, dimana bisa memakan waktu maksimum 54 bulan (kapal korvet 34 bulan) untuk membangun kapal selam yang mampu menyalam dikedalaman 400 meter dibawah permukaan laut. Pembangunan kapal selam ini memerlukan anggaran khusus dalam menyiapkan sarana dan prasarananya.Jumlah Kapal Selam yang ideal untuk menjamin wilayah NKRI ini aman dibutuhkan 12 Kapal Selam mengamankan chuck point dalam ALKI yang ada dinegara kita. Keduabelas Kapal Selam itu baru bisa terpenuhi pada 2020, karena itu sudah disiapkan dari sekarang, termasuk kapal-kapal korvet lainnya.

Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, KKIP melakukan enam kali observasi untuk mengetahui kesiapan PT PAL dalam pembangunan pesanan negara lain dan pembangunan Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) dan persiapan overhaul kapal selam.Dilaporkan bahwa semua pekerjaan meski mulai dari SDM dan anggaran masing-masing dilakukan terpisah tetap dipimpin KKIP dengan project officer dari matra laut. PT PAL dikhususkan untuk membangun kapal perang kombatan dan untuk kapal perang non kombatan bisa dibangun diluar PT PAL.

“Untuk menjamin kontinuitas atau hidup matinya Industri Pertahanan, maka harus ada konsitensi dimana Menteri Pertahanan mengeluarkan kebijakan pengadaan alutsista dan Meneg BUMN memberikan satu sinkronisasi penganggaran dan fasilitas,” ujar Sjafrie Sjamsoeddin.

Meneg BUMN Dahlan Iskan mengatakan, bahwa Kementerian Pertahanan porsinya jelas sekali untuk memaksimalkan pengadaan Industri Pertahanan dalam negeri dan BUMN akan mengimbangi dengan policy-policy yang mendukung. Meneg BUMN sudah mengijinkan BUMN untuk mengambil bridging loan sambil menunggu cairnya dana APBN.Bridging Loan adalah pinjaman jangka pendek untuk mengatasi kekurangan dana yang bersifat sementara sambil menunggu dana lain yang akan diperoleh. dengan bunga mulai dua persen perbulan.

”Jadi misalnya untuk pengadaan kapal perang, tentu pencairan dananya menggunakan prosedur yang berlaku. Nah,sebelum proses sesuai prosedural itu selesai, supaya pembuatan kapalnya tidak telat, dan bisa segera dikerjakan, itu silahkan mengambil briging loan dari bank BUMN yang berlaku,” ujar Dahlan Iskan.

Kemudian, kata Dahlan, dulu waktu PT PAL tenaga engineer-nya banyak keluar karena tidak diberikan penghasilan. Sekarang diijinkan, misalnya, bila ada perwira angkatan laut yang ahli dibidangnya untuk menjadi tenaga ahli di PT PAL dan nanti Kasal yang akan menentukan teknisnya.”Apakah BKO (bawah kendali operasi) atau dipinjam itu nanti soal teknis,supaya Industri Pertahanan kita bisa maju berkembang dengan pesat,” kata Dahlan.

Program–program bidang produk yang dilaksanakan KKIP meliputi Industri Kapal Selam dan PKR, Industri Rudal C-705, Turpedo, Roket dan Bom-100, Industri Medium Tank, Industri Panser Amphibi, Industri CMS/IWS, Industri Pesawat Angkut, Industri Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA/UAV), Industri Radar GCI, Industri Alkom dan MKB.

Indonesia telah memesan tiga unit Kapal Selam kelas Changbogo dari Korea Selatan dengan proses alih teknologi kepada Indonesia. Rencananya dua kapal selam ini akan diproduksi di galangan Daewoo Shipbuilding Marine Engineering Co.Ltd, dan kapal selam ke tiga akan dikerjakan oleh ahli Indonesia di galangan PT PAL.

Kini kedua negara sedang dalam tahap penyiapan desain, pengiriman personel ahli Indonesia ke Korea dan penyediaan fasilitas pembangunan kapal selam di galangan PT PAL Surabaya.Guna melaksanakan langkah awal proyek pembangunan Kapal Selam ketiga dari Korea Selatan, Pemerintah Indonesia mengirimkan sekitar 190 personel yang terdiri dari user (Pengguna), TNI AL, perwakilan SDM Riset dan Teknologi (Ristek), Tim Akademisi, serta pihak industri pertahanan dalam negeri yang terkait.

Selama personel Indonesia berada di Korsel akan mendapatkan Alih Teknologi (ToT) kapal selam yang tergolong kompleks dan rumit, serta harus dapat dipelajari baik melalui metode learning by seeing, maupun learning by doing sesuai dengan kesepakatan negara maupun peraturan-peraturan yang di berlakukan oleh Pemerintah Korsel.

Fasilitas galangan dijadwalkan akan selesai dibangun pada Desember 2014, dan Januari 2015, pembangunan Kapal Selam “steel cutting” tersebut dapat dilaksanakan. Pembangunan kapal selam ini membutuhkan waktu sekitar tiga tahun maka di perkirakan kapal selam ketiga dari hasil produksi Indonesia akan selesai pada tahun 2018.







Sumber : Kompasiana

The Biggest Story of 2013

While the world chose to turn a blind eye, the biggest story of 2013 is the methane over the Arctic. As the year progressed, huge quantities of methane started to be released from the seabed of the Arctic Ocean.

Biggest story of 2013: Huge methane releases from the seafloor of the Arctic Ocean
Very high concentrations of methane have been recorded over the Arctic Ocean over the year and the high releases are still continuing (a peak of 2399 ppb was reached on December 29, 2013, p.m.). The methane appears to originate particularly from areas along the Gakkel Ridge fault line that continues as the Laptev Sea Ridge, as discussed in earlier posts.

The Naval Research Laboratory animation below shows that sea ice extent is growing and that thinner sea ice is getting thicker, which is normal for this time of year. At the same time, the multi-meters thick ice is not increasing in extent nor in thickness. In fact, much multi-meters thick sea ice is being pushed out of the Arctic Ocean. Methane looks to be moving underneath the sea ice along exit currents and entering the atmosphere at the edges of the sea ice, where the sea ice is fractured or thin enough to allow methane to rise.



What is causing the release of this much methane?

To answer this question, let's first examine why the Arctic is warming up more rapidly than other places.

Emissions are causing albedo changes in the Arctic, while emissions from North America are - due to the Coriolis effect - moving over areas off the North American coast in the path of the Gulf Stream (see animation on the right).

These impacts constitute a second kind of warming that is hitting the Arctic particularly hard, on top of global warming.

In addition, there are feedbacks that are further accelerating warming of the Arctic, in particular:
  • Snow and ice decline is causing more sunlight to be absorbed in the Arctic (feedback #1).
  • As warming in the Arctic accelerates, a weaker Jet Stream lets warmer air move from lower latitudes into the Arctic (feedback #10).
  • A weaker Jet Stream further elevates the chance of heat waves warming up the Gulf Stream and warming up rivers that end in the Arctic Ocean (feedback #11). This feedback looks to have caused a lot of seabed warming and subsequent methane releases from the sea floor of the Arctic Ocean.  
  • The high methane concentrations are in turn further warming up the air over the Arctic (feedback #2). 
The above is depicted in the diagram below.


The diagram below shows thirteen feedbacks that are accelerating warming in the Arctic.

Hover over each kind of warming and feedback to view more details, click to go to page with further background 
Image Mapemissions cause global warmingArctic warming accelerated by soot, etc.additional warming of Gulf Stream by emissions methane releases escalatePolar vortex and jet stream weaken as Arctic warmssnow and ice decline causing less sunlight to be reflected back into spacemethane releases warm Arctic airas sea ice decline weakens vertical currents, seabed warmsStorms cause vertical mixing of wateraccelerated Arctic warming causes storms that push cold air of the Arcticextreme weather causing storms that push away sea iceextreme weather causing storms that create higher waves, breaking up the sea icestorms creating more wavy waters that absorb more sunlightextreme weather causing fires, etc.weaker polar vortex and jet stream let cold air move out of Arcticextreme weather causing warmer waterssnow and ice decline cause seismic activity that destabilizes hydratesmethane releases prevent sea ice from forming
The image below shows that global warming is hitting the polar regions particularly hard. In a large area of the Arctic Ocean, surface temperature anomalies of more than 2.5 degrees Celsius were recorded during the year 2013.


Importantly, on specific days anomalies did reach much higher values. The image below shows how a large area of the Arctic was exposed to 20+ degrees Celsius surface temperature anomalies recently.

[ click on image to enlarge ]
The NOAA map below shows where sea surface temperatures in August 2013 were warmer (red) or cooler (blue) than the 1982-2006 average.


By September 2013, surface waters around the Barents Sea Opening were about 5°F (3°C) warmer than they were in 2012. Southern Barents Sea temperatures reached 52°F (11°C), which is 9°F (5°C) warmer than the 1977-2006 average. Warm water from rivers flowing into the Arctic Ocean was highlighted in the earlier post Arctic Ocean is turning red.

The danger is that an ever warmer seabed will result in release of ever larger quantities of methane, escalating into runaway global warming.

What makes this story even bigger is that the media have largely chosen to ignore the threat that methane releases from the Arctic Ocean will escalate into to runaway global warming.

While one can read many stories in the media that global warming was supposed to somehow have 'halted', little attention was given to a recent study that points out that the commonly-used United Kingdom temperature record is actually biased and underestimates warming in certain regions, in particular the Arctic.

And while the IPCC points out that most of the additional heat associated with global warming goes into oceans (image right), the IPCC fails to highlight the vulnerability of the Arctic Ocean.

Indeed, perhaps the biggest story of the year is the question why the IPCC has decided not to warn people about the looming Arctic methane threat, ignoring the need for comprehensive and effective action such as discussed at the Climate Plan Blog.


Related

- Ocean heat: Four Hiroshima bombs a second: how we imagine climate change

- (Three kinds of) Warming in the Arctic

Feedbacks
  1. Albedo: snow and ice decline causing less sunlight to be reflected back into space
    http://arctic-news.blogspot.com/2012/07/albedo-change-in-arctic.html
  2. Methane releases warm Arctic air
    http://arctic-news.blogspot.com/2013/11/methane-levels-going-through-the-roof.html
  3. As sea ice decline weakens vertical currents, seabed warms
    http://arctic-news.blogspot.com/2012/09/arctic-sea-ice-loss-is-effectively-doubling-mankinds-contribution-to-global-warming.html
  4. Storms cause vertical mixing of water
    http://arctic-news.blogspot.com/2012/07/arctic-waters-are-heating-up.html
  5. Accelerated Arctic warming causes storms that push cold air of the Arctic
    http://arctic-news.blogspot.com/2012/08/diagram-of-doom.html
  6. Extreme weather causing storms that push away sea ice
    http://arctic-news.blogspot.com/2012/04/supplementary-evidence-by-prof-peter.html
  7. Extreme weather causing storms that create higher waves, breaking up the sea ice
    http://arctic-news.blogspot.com/2012/08/huge-cyclone-batters-arctic-sea-ice.html
  8. Storms creating more wavy waters that absorb more sunlight
    http://arctic-news.blogspot.com/2012/08/diagram-of-doom.html
  9. Extreme weather causing fires, etc." title="extreme weather causing fires, etc.
    http://arctic-news.blogspot.com/2012/07/how-extreme-will-it-get.html
  10. Weaker polar vortex and jet stream let cold air move out of Arctic
    http://arctic-news.blogspot.com/2012/08/opening-further-doorways-to-doom.html
  11. Extreme weather causing warmer waters
    http://arctic-news.blogspot.com/2013/12/the-biggest-story-of-2013.html
  12. Snow and ice decline cause seismic activity that destabilizes hydrates
    http://arctic-news.blogspot.com/2013/09/methane-release-caused-by-earthquakes.html
  13. Methane releases prevent sea ice from forming
    http://arctic-news.blogspot.com/2013/12/methane-emerges-from-warmer-areas.html


Senin, 30 Desember 2013

PTDI Jual 2 Pesawat Made in Bandung ke Militer Filipina



http://us.images.detik.com/content/2013/03/26/4/170149_ptdi2.jpg
 
Jakarta ☆ Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen pesawat, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), berhasil memenangkan tender pengadaan pesawat untuk militer Filipina.

Perusahaan pelat merah yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat, ini siap menjual 2 unit pesawat tipe NC212i dengan nilai US$ 18 juta atau setara 820 juta peso.


"Kita menang 2 unit NC212i di proyek Light Lift Aircraft nilai budget US$ 18 juta," kata Direktur Niaga dan Restrukturisasi PTDI Budiman Saleh dalam keterangan tertulisnya kepada, Senin (30/12/2013).

Tender pengadaan pesawat ini diadakan oleh Kementerian Pertahanan Filiphina untuk keperluan Angkatan Udara.

"Departemen of National Defense untuk keperluan Philippines Air Force," jelasnya.

Masa proses pengerjaan untuk 2 unit diproyeksi menelan waktu 18-20 bulan. NC212i sendiri merupakan pesawat generasi terbaru dari pesawat tipe NC212-200 atau NC212-400. Pesawat ini merupakan pesawat berukuran kecil.

Pesawat ini, bisa digunakan untuk keperluan komersial, angkut personil militer, kargo, misi khusus hingga transpotasi VIP. Untuk versi sipil penerbangan sipil, pesawat ini bisa dipasang 24 kursi penumpang.

Budiman menjelaskan, PTDI juga berencana mengikuti tender pesawat tipe medium di Kementerian Pertahanan Filiphina. PTDI siap menawarkan pesawat tipe CN235 Maritime Patrol Aircraft asli karya putra bangsa.

"Januari 2014 kita akan ikut tender berikutnya untuk 3-4 maritime patrol/military transport CN235," sebutnya.

  detik  

TNI Akan Datangkan Alutsiata Baru




 
MAKASSAR Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan membenahi alat utama sistem pertahanan negara (Alutsista) pada 2014 mendatang. Helikopter tempur Apache dan kapal selam Kiloklav adalah dua alat tempur yang akan menjadi pendatang baru penjaga NKRI, tahun depan.   


Sedikitnya delapan unit helikopter tempur jenis Apache akan menambah kekuatan TNI tahun depan. Helikopter yang dilengkapi dengan radar ini diperkirakan akan tiba pada pertengahan 2014 mendatang.

Selain apache, alutsista canggih yang juga akan datang ke Indonesia adalah kapal selam kiloklav buatan Rusia. Kapal selam yang juga bernama Kilo Class ini memiliki kemampuan menembakkan rudal sejauh 300 meter.


Kedua alutsista ini dianggap sebagai senjata paling canggih di kawasan negara-negara ASEAN. Helikopter Apache hanya dimiliki oleh Singapura dan Amerika Serikat.


Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko mengatakan, kedatangan alutsista ini akan dilakukan secara bertahap ke Indonesia. Selain Apache dan Kiloklav, TNI juga akan mendapatkan sistem pertahanan udara yang baru. Rudal Mistral dari Prancis dan Starstreak buatan Inggris juga akan didatangkan.


"Kita siapkan alutsista dengan ukuran balance of power yang setara dengan negara-negara di asean," jelas Moeldoko di Markas Yonif 700/Raider, Minggu 29 Desember, kemarin.


Selain itu, untuk pertahanan darat TNI AD memastikan akan mendatangkan tank leopard ke Indonesia untuk membela pertahanan NKRI. Menurutnya, tank ini adalah tank yang memiliki kemampuan tempur terbaik di Indonesia. Kendaran-kendaraan tempur ini akan dipamerkan pada 5 Oktober 2014 mendatang.


"Pada 2013 ini memang belum kelihatan semuanya. Oktober nanti, sudah akan kelihatan. Meskipun belum datang semuanya," jelas dia.


Jenderal dengan empat bintang di pundak ini juga mengaku telah melakukan komunikasi dengan Menteri Pertahanan, Pramono Sugiantoro terkait rencana mendatangkan pertahanan udara yang terbaru. Rencananya, pesawat Sukhoi SU 35 akan memperkuat pertahanan udara di Indonesia.


"Saya sekarang sedang membayangkan pertahanan udara Sukhoi SU 30 yang selama ini kita miliki diperkuat dengan Sukhoi SU 35. Kita sudah diskusi dengan Menhan terkait rencana SU 35 ini," jelas dia.


Terkait dengan sistem keamanan cyber untuk mengantisipasi penyadapan dari negara tetangga, Moeldoko mengaku akan memperkuat sistem sumber daya manusia (SDM). Menurut dia, penyadapan sangat terkait dengan konteks teknologi. Pengembangan SDM lebih penting dari pada pembelian peralatan teknologi penyadapan.


"SDM yang memadai akan dapat menyetarakan perkembangan teknologi itu," jelas dia.

Terkait dengan remenurasi TNI, Moeldoko mengakui sudah melakukan pembicaraan dengan komisi I DPR RI. Menurutnya, renemurasi TNI juga akan dilakukan pada 2014 mendatang. Namun, jadwal penetapan remenurasi masih menunggu keputusan DPR RI.


"Kami sangat memahami kemampuan negara. Seperti apa, perekonomian menghadapi turbulensi jelang politik. Rencananya, remenurasi kita akan lakukan dengan kenaikan 20 persen secara bertahap," jelas dia.


Terkait dengan prajurit perbatasan, Moeldoko berjanji akan memperhatikan dukungan insentif mereka. Para prajurit perbatasan ini juga akan diberikan asuransi saat melakukan operasi militer di perbatasan.


Sementara itu, Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Bachtiar mengatakan, kedatangan Moeldoko ke Makassar dalam rangka mengikuti reuni akbar batalion infanteri (Yonif) 700/Raider. Batalion ini adalah tempat pertama kali Moeldoko menjajaki kariernya di TNI.


"Ini hanya reuni saja. Dia (Moeldoko) juga berkesempatan meresmikan barak dan memberikan kuliah umum di beberapa universitas di Makassar," jelas dia.(eka/pap)





  Fajar  

6 Hal Unik Di Fase Grup Piala Dunia 2014

6 Hal Unik Di Fase Grup Piala Dunia 2014


6 Hal Unik Di Fase Grup Piala Dunia 2014 - Undian grup Piala Dunia 2014 telah dilangsungkan di Costa do Sauipe, Bahia, Jumat (6/12/2013). Terdapat beberapa hal unik dari hasil pengundian grup tersebut.


Fernanda Lima

Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke, menunjukkan nama Spanyol kepada presenter Fernanda Lima (kiri) pada undian grup Piala Dunia 2014 di Costa do Sauipe, Bahia, Jumat (6/12/2013).



Berikut 6 Hal Unik Di Fase Grup Piala Dunia 2014:

1. Ada tiga negara yang pernah meraih gelar piala dunia tergabung dalam grup yang sama di piala dunia 2014. Grup D akan diisi Uruguay (juara Piala Dunia 1930 dan 1950), Inggris (1966), dan Italia (1934, 1938, 1982, 2006). Satu peserta lain adalah Kosta Rika.

2. Pelatih tim nasional Amerika Serikat, Juergen Klinsmann, harus berhadapan dengan negaranya, Jerman, di Grup G di piala dunia 2014. Sebelumnya, Klinsmann pernah menangani timnas Jerman pada 2004-2006. Prestasi terbaik Klinsmann adalah membawa Jerman menjadi peringkat ketiga pada Piala Dunia 2006.

3. Argentina dan Nigeria akan kembali bertemu di fase grup piala dunia 2014. Kedua negara itu tergabung ke dalam Grup F. Sebelumnya, Argentina dan Nigeria pernah berada satu grup pada Piala Dunia 2002 dan 2010.

4. Di Grup G, Jerman akan bertemu Ghana pada piala dunia 2014. Kemungkinan besar, pertandingan tersebut akan menjadi duel dua saudara, yakni Jerome Boateng (Jerman) dan Kevin-Prince Boateng (Ghana).

5. Spanyol dan Belanda akan berjumpa pada laga perdana Grup B, pada piala dunia 2014. Terakhir kali kedua negara bertemu terjadi pada final Piala Dunia 2010 yang berakhir untuk kemenangan Spanyol.

6. Satu-satunya negara yang akan menjalani debut pada piala dunia 2014 adalah Bosnia-Herzegovina. Pada partai perdana, Bosnia-Herzegovina akan mendapat tantangan dari juara piala dunia dua kali, Argentina, 15 Juni 2014.

Nah, itulah 6 Hal Unik Di Fase Grup Piala Dunia 2014 semoga menambah wawasan anda.

Baca Juga #12 Maskot Piala Dunia Sepanjang Sejarah.

Sumber Artikel

In The News:




Wary Of Rockets, IDF Beefs Up Security On Golan Heights



The IDF, bracing for an increased threat of rocket attacks along the border with Syria, has begun installing air raid sirens and fortified safe zones in all its bases on the Golan Heights.

“The goal we set for ourselves is to provide warning and physical protection to every soldier,” Maj. David Ben-Gigi, the deputy engineering officer for the Golan Heights division, told the IDF’s website.

Ben-Gigi said that the project stems from the military’s understanding that “in the future the enemy in the area will adopt the curved trajectory fire as part of his offensive tactics.”
He estimated that each base will be equipped with its own warning system, operated by the air force, within three months.

The Golan has come under fire on multiple occasions since the beginning of the civil war in Syria. Syrian tank shells, artillery rounds and bullets have crossed into Israel. Often the fire has been deemed accidental and Israel has not responded. But on at least five occasions, soldiers in the field felt the fire was directed at them and responded with direct fire.


On December 6, an explosive device was detonated alongside an IDF vehicle in the northern Golan Heights. An IDF investigation concluded that the blast was the first ambush laid for IDF soldiers on the Israeli side of the border since the beginning of the war. No organization took credit for the attack.
Defense Minister Moshe Ya’alon, touring the area in early December after a Syrian soldier opened fire on Israeli paratroopers, said, “Our sovereignty will not be violated. Whoever tries to violate our sovereignty will be harmed, whether it’s a soldier, a cannon position, a mortar or a machine gun. We’ll keep up with what we’ve been doing so far.”

The IDF is close to completing a deeply entrenched 15-foot-high border fence in the area equipped with a “multiple-sensor system” – a newly operational mechanism that synchronizes an array of radar and optical findings into one concrete warning. That, along with a sharp upgrade in the caliber of the troops posted to the region and the increased safety against rocket attack, is part of the IDF’s realignment in light of the war in Syria and the instability it has brought to the region.









Defense Minister Moshe Ya'alon on Monday said that if compromises in peace negotiations would lead to "rockets from Nablus, Ramallah and Jenin on to Ben-Gurion Airport, then I would rather have a European boycott" on Israel.

Ya'alon also addressed Sunday's rocket attack from Lebanon. Despite Prime Minister Binyamin Netanyahu's assigning responsibility to Lebanon and Hezbollah, the defense minister implied that preliminary information indicated that the attack was perpetrated by Sunnis fighting Hezbollah in Syria who hoped to fool Israel into retaliating against Hezbollah.

Elaborating on his comments about rockets and boycotts, he said that wide-eyed and naïve people in the West and even some Israelis constantly press the state that "peace must happen immediately" though he listed many life problems which take time to resolve and must be managed patiently.

Assailing the West as "paternalistic," Ya'alon said that instead of them explaining to him, with all of his experience on the ground, how he misunderstands the Israeli-Palestinian conflict, we need "to explain to Europe why they're wrong."

He also complained that some in the West were what he considered obsessed with solving the Israeli-Palestinian conflict as the solution to all problems in the Middle East when really he said that it is currently clear that "problems in Tunisia and Egypt have nothing to do with us." 








Just as you were wrapping your mind around the idea that under Obamacare and the accompanying changes in the health-care system, your medical records will be floating around in some online repository, available to far too many people, you’re being told you’ll soon have a National Identity Card and a Western Hemisphere-compliant travel document whether you want it or not, if you plan to drive in the United States.
The federal government says it soon will be enforcing its demands that state-issued driver’s licenses and ID cards comply with Department of Homeland Security standards.
DHS announced just before Christmas a final schedule for the full enforcement of the REAL ID Act of 2005.

For many Americans, the full implementation of the REAL ID act is certain to trigger unfortunate memories of World War II and the modus operandi of fascist, totalitarian states, where travelers and ordinary citizens on the street are stopped by authorities and demanded, “Your papers, please!”
In the U.S., the justification for the REAL ID Act of 2005 was the concern for enhanced travel security after the 9/11 Commission documented several of the 9/11 terrorists had valid state-issued driver’s licenses and were able to freely board airplanes even though they were terrorists who had entered the U.S. illegally.

Among the DHS requirements for a state-issued driver’s license to be DHS-compliant will be the presentation by the applicant of a valid birth certificate, verification of the applicant’s Social Security Number or documentation the person is not eligible for Social Security, and proof the applicant is either a U.S. citizen or lawfully admitted to the U.S. as a permanent or temporary resident.
Further, driver’s license and IDs issued by the states will have to meet stringent requirements as set by the federal government.

They also must have features that establish the individual’s identity, including but not limited to full facial digital photographs, plus machine readable coded information in the form of a bar code that captures the key printed information on the card, such as name of the applicant, address, gender, unique driver’s license or card-identification number, state of issuance, date of application, and date of expiration.





Also see:













Kilo Class: Sosok Kapal Selam dalam Kalender TNI AL



Kilo Class milik AL Iran
Kilo Class milik AL Iran

Setelah lebih dari dua dekade, kecanggihan alutisista Indonesia boleh dibilang lumayan tertinggal dari Singapura dan Malaysia. Baru pada program MEF (minimum essential force) 2014, militer Indonesia mulai merasakan angin segar dengan pencanangan pemerintah untuk mendatangkan alutsista yang ‘berkelas.’ Di matra udara, ada maskotnya yakni Sukhoi Su-27/30 Flanker, sementara di matra darat maskotnya MBT Leopard 2A4 buatan Jerman.


Bagaimana dengan matra laut, ujung tombak TNI AL ada di elemen kapal perang, yang sudah kelihatan wujudnya adalah 4 Korvet SIGMA, dan rencana kedatangan 3 unit Nakhoda Ragam Class, 1 PKR SIGMA 10514. Itu baru bicara kapal permukaan, bagaimana dengan kapal bawah air, alias kapal selam? Kenyataan, sebagian besar masyarakat Indonesia begitu mendambakan hadirnya kapal selam anyar untuk memperkuat TNI AL. Alasannya jelas, sejak tahun 1980 hingga kini, jumlah kapal selam yang dipunyai TNI AL hanya dua unit (KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402). Ditambah lagi, rasa jengkel akibat Negeri Jiran, Malaysia dan Singapura yang punya kualitas kapal selam lebih modern, dan jumlahnya pun lebih besar, padahal luas wilayah lautan kedua negara tersebut tidak ada apa-apanya dengan Indonesia.

Berangkat dari isu diatas, kabar seputar pengadaan kapal selam menjadi berita yang hangat, bahkan selalu menjadi trending topic pada setiap pembahasan alutsista. Para pengamat militer yang mengacu pada logika dan asumsi (bukan fakta), begitu meyakini bahwa ada kapal selam lain yang dioperasikan TNI AL, selain KRI Cakra dan KRI Nanggala. Logika yang dibangun tentu sah-sah saja, salah satunya dipicu berita bahwa TNI AL membangun pangkalan khusus kapal selam di Teluk Palu. Kedalaman Teluk Palu yang sampai 400 meter dan letaknya yang terlindung, memang cocok utuk dijadikan pangkalan kapal selam. Meski kemudian terbukti, yang transit mengisi perbekalan di pangkalan tersebut adalah Type 209.

pla_kilo_class_submarine-38553


Masih ada lagi analisa yang cukup menarik, Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Y. Galuzin melakukan kunjungan ke Menteri Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro, Selasa (23/7/2013) di Kementerrian Pertahanan, Jakarta. Tujuan kunjungan ini membicarakan beberapa hal menyangkut kerjasama teknik militer antara kedua negara, termasuk kerjasama Angkatan Laut kedua negara dalam penyediaan material dan renovasi untuk Kapal Selam. Duta besar Rusia juga menyampaikan bahwa pemerintahnya akan mengadakan pameran senjata “Rusian Arms Expo” bulan September mendatang di kota sebelah timur Moskow. Pameran itu merupakan pameran terbesar yang akan menampilkan persenjataan militer khususnya untuk Angkatan Darat. Dubes Rusia berharap Menteri Pertahanan Indonesia dapat menghadiri pameran persenjataan militer tersebut.

Yang menjadi pertanyaan dari kunjungan ini adalah soal kerjasama Angkatan Laut kedua negara dalam hal penyediaan material dan renovasi untuk Kapal Selam. Sejak kapan Indonesia memiliki kapal selam buatan Rusia. Yang diketahui saat ini Indonesia hanya memiliki dua kapal selam gaek yakni Type 209 Cakra dan Nanggala buatan Jerman. Jika demikian, penyediaan material dan renovasi kapal selam dari Rusia, untuk kapal selam yang mana ?

Kilo Class tipe 877
Kilo Class tipe 877
Pengiriman Kilo Class ke Cina
Pengiriman Kilo Class ke Cina


Pernyataan Dubes Rusia yang baru ini, seakan hendak memperkuat pengakuan dari Dubes Rusia untuk Indonesia yang terdahulu, Alexander A. Ivanov. Situs tempo.co edisi Rabu, 21 Desember 2011 menyampaikan hasil wawancara mereka dengan Ivanov, perihal pembelian alutsista Indonesia dari Rusia dan jaminan bebas embargo militer dari negeri beruang merah tersebut.

Kemudian ibarat ada ‘petir di siang hari bolong,’ muncul foto kapal selam jenis Kilo Class pada kalender 2012 internal TNI AL. Foto di kalender itu bukan sembarangan, pasalnya secara jelas diperlihatkan Kilo Class yang sedang melaju memecah gelombang dengan nomer identitas 412 pada menaranya. Sontak foto ini sempat membikin geger para military fanboy di Indonesia. Pasalnya 4xx adalah numbering yang dipersiapkan khusus untuk kapal selam TNI AL, dan memang dahulu pada era-60an, Indonesia memang punya kapal selam kelas Whiskey, mulai dari urutan 401 hingga 412. Dan kebetulan, 412 dahulu disematkan untuk KRI Trisula.

Ini dia, kalender 2012 TNI AL yang memuat foto Kilo Class
Ini dia, kalender 2012 TNI AL yang memuat foto Kilo Class


Dan berikut adalah foto aslinya
Dan berikut adalah foto aslinya


Nah, berdasarkan analisis dari berbagai sumber, diketahui foto di kalender tersebut amat kentara sebagai hasil rekayasa yang lumayan halus. Hal tersebut bisa dibandingkan dari foto aslinya yang kabarnya merupakan Kilo Class milik India. Meski demikian, keberadaan Kilo Class atau kapal selam buatan Rusia, memang misterius, apalagi kalau merujuk pada pernyataan Duta Besar Rusia.

Ada lagi pernyataan yang menarik dari mantan Dubes RI untuk Rusia, Hamid Awaludin dalam acara talk show “Apa Kabar Indonesia” di TVOne menjelang 5 Oktober 2013. Ia menyebutkan, proses pengadaan kapal selam dari Rusia mengalami beberapa tantangan, seperti TNI AL harus menyiapkan fasilitas dermaga kapal selam yang lebih besar, mengingat Kilo Class punya dimensi yang lebih besar ketimbang Type 209. Belum lagi penyiapan keperluan logistik dan pelatihan awak, yang kesemuanya mengakibatkan biaya membengkak. Lain halnya, dengan rencana kedatangan Changbogo Class dari Korea Selatan, dengan dimensi khas Type 209, TNI AL dipercaya tidak memerlukan modifikasi dan upgrade pada fasilitas pendukung.

Yang tak kalah menarik, dalam talk show tersebut juga dihadiri oleh Kapuspen TNI, Laksda Iskandar Sitompul. Menimpali pernyataan dari Hamid Awaludin, perwira berbintang dua ini punya pendapat yang berbeda, yakni TNI AL memang membutuhkan kapal selam dari Rusia tersebut.

Kilo Class Submarine
 
Kapal selam konvensional dengan mesin diesel listrik ini merupakan hasil dari program dengan kode Project 877 Paltus yang dicetuskan Tsentralnoye Konstruktorskoye Byuro (Central Design Bureau) Rubin. Kilo Class dirancang sebagai kapal selam yang mampu melaksanakan misi peperangan bawah, alias anti kapal selam (AKS) maupun peperangan atas permukaan air, atau yang dikenal dengan misi anti ship mission.


Klub loading to Kilo

Loading torpedo
Loading torpedo


Kompartemen torpedo
Kompartemen torpedo


Umumnya misi yang diemban Kilo Class adalah pertahanan pangkalan, instalasi wilayah pantai, patrol, pengintaian, hingga penyebaran ranjau (mine laying). Berdasarkan analisis dari berbagai sumber, Kilo Class adalah kapal selam yang punya tingkat kebisingan amat rendah, sehingga monster bawah laut ini punya jejak akustik yang minim, alhasil keberadaan kapal selam ini bakalan susah untuk diendus oleh sonar pasif dari kapal perusak. Jejak akustik pada kapal selam biasanya terdeteksi dari sistem propulsi. Meminimalisir jejak akustrik nampak menjadi tujuan utama dari dirancangnya Kilo Class, hal ini dibuktikan dari kecanggihan teknologi propulsi, desain lambung, dan pemakaian anehoic tiles di beberapa bagian lambung termasuk di sirip kendali depan yang dapat dilipat (foreplanes).

Bicara seputar lambung, Kilo Class mengusung sistem lambung ganda dan tersusun dari enam bagian utama, dan dibuat bersekat yang mampu menahan tekanan air. Antar kompartemen dipisahkan oleh transverse bulkheads. Sirip kendali depan diposisikan di sisi lambung bagian atas, di depan menara kapal (conning tower). Untuk dapur pacu, Kilo Class ditenagai sebuah mesin diesel listrik yang terintegrasi dengan baterai penyimpanan listrik, seperti umumnya kapal selam diesel modern. Saat melaju di permukaan, mesin diesel diaktifkan sembari mengambil ‘udara.’ Dan, saat menyelam yang menjadi tenaga adalah baterai yang menghasilkan listrik.Karena saat menyelam mengandalkan baterai, maka kapal selam diesel listrik terbilang lebih ‘silent’ ketimbang kapal selam nuklir. Untuk keadaaan darurat, ada suplai tenaga cadangan yang tersedia dari dua generator (diesel) meski dengan daya lebih randah ketimbang mesin utama. Energi dari mesin kemudian disalurkan ke baling-baling tunggal yang terdiri dari 7 bilah pada bagian belakang.

Foto rekayasa Kilo Class dengan bendera Merah Putih ini juga sempat bikin heboh
Foto rekayasa Kilo Class dengan bendera Merah Putih ini juga sempat bikin heboh


Persenjataan Si Kilo
 
Persenjataan utama yang bisa dibawa adalah 18 torpedo atau 24 unit ranjau laut yang dapat dilepaskan dari enam lubang peluncur torpedo kaliber 533mm. Berbeda dengan Wishkey Class yang dahulu dioperasikan TNI AL, keseluruhan lubang peluncur torpedo ada di bagian depan Yang terbilang unik, Kilo Class menjadi kapal selam diesel listrik pertama yang dilenkapi sista hanud berupa rudal permukaan ke udara jarak pendek (SHORAD), yakni dengan mengambil 8 pucuk Strela-3, varian khusus untuk AL.


Kilo Class terdiri dari dua tipe, yakni Project 877 dan Project 636. Kelas yang terakhir merupakan penyempurnaan dari Project 877. Project 636 mulai diperkenalkan pada pertengahan tahun 1980. Dibanding tipe sebelumnya, Project 636 menghadirkan sisi kenyamanan lebih pada awaknya, ditambah tingkat kebisingan di ruang kabin sudah berkurang.

kilo877_4

kilo877_5

Kilo Class Project 636 punya bobot 2.350 ton pada posisi kapal berada di permukaan laut, dan 2.126 ton (saat menyelam) dengan kecepatan maksimum 12 knot (di permukaan laut) dan 20 knot (saat menyelam). Dari sisi performa kecepatan, Kilo Class masih kalah cepat jika dibandingkan dengan kapal selam diesel listrik besutan Jerman, Type 209 yang juga digunakan oleh TNI AL.

Type 209 punya bobot 1.100 ton (di permukaan) dan 1.395 ton (saat menyelam, kapal selam ini mampu melaju pada kecepatan maksimum 11,5 knot (di permukaan) dan 22 knot (saat menyelam). Soal kemampuan menyelam, Kilo Class yang punya panjang 73,8 meter ini bisa menyelam pada kedalaman maksimum 300 meter. 

Untuk soal kedalaman, lagi-lagi Type 209 bisa mencapai kedalaman 320 – 500 meter. Hanya saja untuk urusan persenjataan, si Kilo nampak lebih unggul dari Type 209, ini lantaran Kilo Class dapat mengusung 18 torpedo, sementara Type 209 hanya dapat membawa 14 torpedo. Sebenarnya ini adalah hal yang lumrah, mengingat ukuran bodi Kilo Class lebih besar ketimbang Type 209. Kilo Class Project 636 berdimensi 73,8 x 9,9 x 6,6 meter, sementara Type 209 dimensinya 59,5 x 6,3 x 5,5 meter.

SHIP_SSK_Kilo_Class_Cutaway_lg

Yang perlu jadi catatan, baik kilo Class dan Type 209 terbilang produk kapal selam diesel listrik yang paling laris dipasaran. Selain menjadi andalan Satkasel (Satuan Kapal Selam) TNI AL, Type 209 dalam berbagai varian juga digunakan oleh Argentina, Brazil, Chile, Kolombia, Equador, Yunani, India, Turki, Afrika Selatan, dan Korea Selatan. 

Khusus untuk Korea Selatan , kemudian memproduksi Type 209 secara lisensi dari Jerman yang diberi label Changbogo Class, tiga unit Changbogo akan memperkuat TNI AL di tahun 2015. Kilo Class dalam berbagai varian juga cukup laris, selain tentunya digunakan Rusia, pengguna lainnya adalah Cina, India, Polandia, Rumania, Aljazair, Iran, dan Vietnam. 

(Sastra Wijaya|IM)