Tampilkan postingan dengan label Iran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iran. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 21 Maret 2015
An Iranian Nuclear Deal Will Mean More Oil (And Lower Prices) On The Open Markets Within Months
Fuel Fix/Bloomberg: More Iran oil may flow within months of deal, officials say
World powers have offered to suspend U.S. and European oil sanctions against Iran within months of signing an agreement if the Islamic Republic adopts strict limits verified by intrusive inspections of its nuclear program for at least a decade, according to U.S. and European officials.
Limits on Iran’s oil exports would be suspended after Iran complies with an initial set of restrictions, such as disconnecting the majority of its centrifuges and submitting them for verification, according to the officials who spoke to Bloomberg News on condition of anonymity to describe the private negotiations under way in Lausanne, Switzerland.
WNU Editor: For Iran .... the prospect of billions in additional revenues for their coffers must be tempting .... they will be able to support popular domestic programs as well as continuing to fund their allies in Yemen, Syria, and to pay off their supporters and militias in Iraq. On the downside .... there is already a global oil glut .... millions of more barrels of oil will only depress prices further impacting everyone .... Iran included. For countries that are dependent on oil revenues ....Venezuela comes to mind .... even more hard times are coming. For countries like Russia and Saudi Arabia .... this is a development that they must view as troubling.
Kamis, 12 Maret 2015
With Reports Continuing To Circulate That Iran's Supreme Leader Ali Khamenei Is Dying From Cancer, Here Are His Probable Replacements
The Supreme Leader made the comments blasting America immediately after prostate surgery, perhaps in a bid to use a show of force to convince supporters he hadn't lost his revolutionary zeal.
Business Insider: Here are the most likely candidates to replace Iran's ailing Supreme Leader
Iran's Supreme Leader Ali Khamenei is reportedly dying.
The ayatollah, the final arbiter of all of Tehran's internal and external policies since 1989, is thought to have terminal cancer and his death could be imminent.
Once Khamenei dies, Iran will undergo an important political shift. Since the Islamic Revolution installed a clerical theocracy in 1979, the country has only had two supreme leaders, meaning there's only been a single power transition in 35 years. Khamenei has ruled as Iran's supreme leader since 1989 after the death of the first supreme leader, Ruhollah Khomeini.
WNU Editor: He has appeared in public to show that he is still in good health, but the Iranian government is getting ready for the day when he is gone .... Iran selects new head of ‘Assembly’ in charge of ‘Supreme Leader’ position (World Tribune).
Jumat, 13 Februari 2015
A Look At Iran's Unit 190 Responsible For Secret Arms Shipments
FOX News: Secret Iranian unit fueling Mideast bloodshed with illicit arms shipments
As conflicts and civil wars rage across the Middle East and North Africa, a shadowy covert cell operating under the Iranian government is fueling the bloodshed.
Unit 190, a secret arm of the Iranian Revolutionary Guard's Quds Force made up of about two-dozen employees, has for years smuggled arms to these conflict zones.
WNU Editor: It would not surprise me if all the countries in this region have operations of this sort (arms shipments) underway right now .... but Iran has been at this game for a long time .... and as the unrest and conflicts throughout the Middle East escalate .... it appears that they are also escalating their involvement.
More News On Iran's Unit 190
Secret Iranian Unit Ships Illegal Weapons Throughout Middle East -- Arutz Sheva
Covert Iranian IRGC unit smuggles weapons across Middle East, Fox News reveals -- NCRI
Report: Covert Iranian Cell Delivers Weapons to Terrorist Groups -- Breitbart
Minggu, 04 Januari 2015
Iran's President Says He Wants To End His Country's Isolation
Iran's President Hassan Rouhani prepares to depart after the end of a press conference on the sidelines of the 69th United Nations General Assembly in New York September 26, 2014. Credit: Reuters/Adrees Latif/Files
Voice of America: Iran's Rouhani Urges End to Country's Isolation
WNU Editor: Iranian President Hassan Rouhani is threatening to put an Iranian nuclear agreement to a referendum .... Rouhani threatens to hold Iran referendum (Financial Times) .... something that I am sure that the person with the real power in Iran (Ayatollah Ali Khamenei) will not like, and will do everything in his power to make sure that it does not happen.
More News On Iranian President Hassan Rouhani Stating That he Wants To End His Country's Isolation
Rouhani urges end to Iran's isolation -- Reuters
Iran's president says nuclear negotiations a matter of 'heart' not centrifuges -- AP
Iran's Rohani Says International Isolation Harming Economy -- Radio Free Europe
Hassan Rouhani Hopes Iran Nuclear Deal Will Lift Sanctions In 2015 -- IBTimes
Iran, West want nuclear deal, but each expects the other to make most concessions -- Paul Pillar, Tehran Times
Jumat, 25 November 2011
Iran di Tengah Tekanan
Iran di Tengah Tekanan
Faisal Ismail, DUTA BESAR RI UNTUK KUWAIT, GURU BESAR UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Sumber : SINDO, 26 November 2011
Mahmoud Ahmadinejad sejak masih muda sudah aktif dalam kancah gerakan politik praktis. Bersama para pengunjuk rasa lainnya, ia terlibat dalam gelombang gerakan menentang Shah Reza Pahlevi, penguasa represif Iran yang sangat pro-AS dan Barat.
Gerakan penggulingan Shah dilancarkan secara sengit oleh Ayatullah Ruhullah Khomenei yang menentang pemerintahan sekuler Shah. Revolusi Iran pun meletus pada 1979.Terjadi demonstrasi masif yang pada akhirnya berhasil mendepak Shah dari singgasana kekuasaannya.Terjadi pula penyanderaan dan penyekapan terhadap 52 diplomat AS di Kedubes AS di Iran selama 444 hari.
Demonstrasi masif dan unjuk rasa sengit rakyat Iran itu mencerminkan perasaan anti-Shah dan anti- AS.Ahmadinejad terlibat langsung dalam gerakan penggulingan Shah ini.Rezim sekuler Shah rontok dan digantikan dengan berdirinya Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomenei. Di pentas politik Iran, Ahmadinejad dikenal sebagai sosok konservatif dan penganut garis keras.
Dia lebih suka menyebut dirinya sebagai “prinsipalis” ketimbang disebut konservatif. Darah mudanya mudah memijar dan retorikanya sering membakar. Pada 2005,Ahmadinejad yang diusung oleh kubu konservatif memenangkan pilpres. Dia mengalahkan dan menggantikan Presiden Mohamad Khatami yang beraliran reformis.
Segera setelah mengambil alih tampuk kekuasaan, Presiden Ahmadinejad menghidupkan kembali program nuklir Iran yang telah dihentikan oleh pendahulunya (Khatami) karena tekanan keras AS dan sekutu Baratnya. Ahmadinejad berargumen bahwa pengembangan ilmiah dlam bidang nuklir adalah hak setiap bangsa,apalagi pengembangan program nuklir itu untuk tujuan damai. Di tengah-tengah perseteruan dengan rezim Zionis Israel, Ahmadinejad mengeluarkan pernyataan keras agar ”Israel dihapus dari peta bumi dunia”.
Sanksi dan Isolasi
“Pembangkangan” Ahmadinejad yang tidak mau menghentikan program nuklir Iran memicu kemarahan AS, Barat, dan Israel.AS dan sekutu Baratnya serta Israel menuduh Iran sedang mengembangkan program nuklir, yang pada nantinya akan digunakan untuk membuat bom nuklir.Tuduhan seperti ini dilontarkan secara berulang-ulang terhadap rezim Ahmadinejad. Terhadap tuduhan AS, Barat, dan Israel itu, Iran menolaknya.
Iran mengklaim program nuklirnya bertujuan damai dan untuk kepentingan sipil (sebagai reaktor pembangkit tenaga listrik).Dispute di seputar nuklir Iran sampai saat ini terus memicu perseteruan dan ketegangan Iran dan AS-Barat-Israel. Karena Iran tidak mau tunduk terhadap tekanan AS dan sekutunya untuk menghentikan program nuklirnya,AS dan sekutu Baratnya merasa geram dan “menggencet”Iran dari sektor ekonomi.
Negeri Mullah itu dijatuhi sanksi ekonomi sebanyak empat kali oleh DK PBB dan beberapa aset banknya di Barat dibekukan. “Pembangkangan” Ahmadinejad terus menggelegar, dia tidak kapok.Akibat sanksi ini, ekonomi Iran agak sesak napas, tetapi masih tetap survive. Justru rezim Mullah di Iran menyatakan ”berterima kasih”kepada AS yang telah mengisolasi dan menggencetnya karena,dengan gencetan AS itu,Iran lebih bisa mandiri secara ekonomi.
AS, Barat, dan Israel menghendaki Ahmadinejad kalah dan tersingkir dari pentas politik Iran dalam pertarungan pilpres 12 Juni 2009,karena pemimpin konservatif dan penganut garis keras itu tidak mau tunduk kepada negara-negara adikuasa Barat dan AS. Namun, ternyata Ahmadinejad masih survive. Pascapilpres Iran 12 Juni 2009, yang dimenangi oleh Ahmadinejad untuk menjabat presiden periode keduanya, ketegangan Iran dan AS-Barat memuncak. Kedua belah pihak melancarkan perang pernyataan.
AS dan sekutu Baratnya mengutuk Iran yang menggunakan caracara keras dalam menangani para demonstran dari kelompok oposisi (para pendukung capres Mousavi yang kalah), yang menuduh telah terjadi kecurangan dalam penghitungan suara pilpres. Pemerintah Iran yang diwakili oleh Dewan Pengawas menepis tuduhan adanya kecurangan dalam penghitungan suara. Sementara itu, Iran menolak keras segala bentuk intervensi AS dan Barat dalam urusan internal politik Iran. Iran dan Inggris saling usir diplomat. Hubungan Iran dan AS-Barat menegang.Selama 32 tahun tidak ada hubungan diplomatik antara AS dan Iran.
Tidak Mau Tunduk
Belum lama ini mencuat isu bahwa AS dan Israel akan menyerang lokasi-lokasi yang dicurigai sebagai pusat-pusat program nuklir Iran. Sudah sejak lama Israel mempunyai niatan seperti itu. Sampai sekarang, negara Zionis itu belum mencabut pernyataannya ”all options are still on the table”. Artinya, jika terpaksa, Israel akan melakukan serangan. Sementara Israel sangat bersemangat akan menyetop program nuklir Iran, tapi negara Zionis itu sendiri mengembangkan dan mempunyai senjata nuklir.
Israel tidak hanya menolak menandatangani perjanjian non-proliferasi nuklir (NPT), tetapi juga mengembangkan dan membuat senjata nuklir.Inilah sikap ambigu Israel.Iran masih mau menandatangani NPT. Sama seperti Israel,AS juga diisukan akan menyerang program nuklir Iran.Tak pelak lagi, isu itu membuat Sang Ayatullah Ali Khomenei, Ahmadinejad, dan Kepala Pasukan Garda Revolusi Iran sangat berang.
Mereka menyatakan akan membalas setiap serangan. Rusia dan China memperingatkan AS dan Israel agar dapat menahan diri dan jalan diplomasi terus ditempuh. China meminta Iran agar tetap bekerja sama dengan IAEA (Badan Pengawas Atom Internasional). Di tengahtengah isu serangan militer terhadap Iran, Negeri Mullah itu terus digencet dari sektor ekonomi. Inggris memutuskan hubungan finansial dengan Iran.Tampaknya,selama masih diperintah oleh kubu konservatif dan garis keras, Iran tidak mau tunduk dan tidak mau didikte oleh Israel dan negara-negara adikuasa AS dan Barat. ●
Minggu, 20 November 2011
Jadikah Serangan AS-Israel-Inggris ke Iran?
Jadikah Serangan AS-Israel-Inggris ke Iran?
Sayidiman Suryohadiprojo, MANTAN GUBERNUR LEMHANAS
Sumber : KOMPAS, 21 November 2011
Sudah sejak beberapa tahun lalu Israel amat berambisi menyerang Iran untuk menghancurkan usaha negara itu membangun kemampuan nuklir.
Israel amat khawatir Iran—dengan kemampuan nuklir strategisnya—akan mengakhiri dominasi Israel atas dunia Arab. Para pemimpin Israel garis keras yang sekarang memimpin negara itu berpikir bahwa lebih baik menyerang Iran secepat mungkin sebelum ia mampu membangun senjata nuklir. Namun, hingga belum lama berselang, AS selalu menahan Israel karena khawatir akan menyebabkan reaksi internasional yang merugikan. Semua pihak tahu, AS tidak dapat pisah dari Israel dan melihat serangan Israel sebagai usaha AS juga.
Belakangan ini tampak amat berkurang penolakan AS terhadap kehendak Israel. Malah sekarang Inggris turut bicara tentang serangan ke Iran. Laporan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) minggu ini makin memperkuat keyakinan mereka bahwa memang Iran sudah pada tahap mampu membuat senjata nuklir. Namun, pemimpin negara-negara Eropa seperti Rusia dan Jerman mengeluarkan pernyataan yang sangat tak setuju dengan serangan militer.
Menggarap Masyarakat
Meski serangan militer terbuka belum terjadi, sebenarnya telah lama terjadi serangan nonmiliter. Ini terjadi dengan menggarap masyarakat Iran agar melawan dan menggulingkan pemerintahnya. Pemberitaan tentang kemungkinan serangan militer AS-Israel-Inggris mendorong masyarakat Iran bangkit dan menggulingkan pemerintahnya mencegah serangan militer itu.
Sejak 2007 dilakukan serangan intelijen berupa pembunuhan atas pakar nuklir Iran dengan ca- ra bom mobil, tembakan langsung, dan peracunan. Tentu pihak AS dan Israel menolak bahwa pembunuhan itu perbuatannya.
Memang tidak dapat dibuktikan. Namun, dengan cara demikian, timbul kegelisahan di kalangan pakar nuklir Iran yang khawatir akan menjadi korban berikutnya. Hingga kini telah empat pakar nuklir terbunuh, sedangkan Kepala Badan Nuklir Iran Fereydoon Abbasi dapat menyelamatkan diri dari serangan bom mobil.
Selain itu, dilakukan serangan virus atas instalasi nuklir Iran. Virus bernama Stuxnet buatan AS pada Juni 2010 telah berhasil menimbulkan kerusakan signifikan di instalasi nuklir Iran.
Sebenarnya berbagai pihak menilai AS dan Inggris bersikap tak adil. Mengapa Iran dilarang, sedangkan Israel dibenarkan bahkan dibantu membangun kemampuan nuklir strategis yang juga melanggar Persetujuan Proliferasi Nuklir? Memang semula Presiden AS John F Kennedy tak setuju dengan usaha Israel itu sehingga, menurut dugaan banyak pihak, ia dibunuh karena sikapnya itu. Memang di AS kuat sekali dukungan terhadap Israel sampai orang mengatakan: tak mungkin ada politik AS tanpa persetujuan Israel.
Sebab itu, ada pendapat bahwa Iran membangun kemampuan nuklir justru untuk menangkal serangan AS-Israel. Orang berkata AS tak menyerang Korea Utara yang terang-terangan menyatakan sudah berhasil membuat senjata nuklir. Andai kata Irak tadinya benar-benar punya senjata nuklir, belum tentu AS menyerangnya. Tak mustahil Iran memang membangun kemampuan nuklir strategis untuk menangkal serangan AS-Israel.
Iran menyatakan kesiapannya terhadap kemungkinan serangan AS-Israel-Inggris: antara lain akan menutup Selat Hormus dan mengacaukan suplai minyak internasional. Ia dapat menyerang lawannya di wilayah negaranya dengan menyelundupkan orang- orang yang bikin kehancuran.
Belum tentu negara yang besar kepentingannya atas Iran, seperti Rusia dan China, akan tinggal diam kalau AS-Israel-Inggris melakukan serangan militer. Terutama China besar sekali kepentingannya di Iran dan dapat menimbulkan kerugian kepada AS secara tak langsung tetapi dengan dampak yang besar.
Di pihak AS, tak mustahil dalam kondisi yang sedang penuh persoalan, baik persoalan politik, ekonomi, maupun sosial yang cukup gawat, para pemimpinnya yang berambisi perang dan dekat dengan Israel akan mendominasi keadaan. Apalagi di kalangan ekonominya ada yang berpikir: hanya satu perang besar akan dapat mengakhiri krisis ekonomi secara tuntas, sebagaimana dulu Perang Dunia II berhasil mengakhiri krisis dan depresi ekonomi tahun 1933.
Maka timbul pertanyaan: jadikah AS-Israel-Inggris menyerang Iran? ●
Selasa, 06 Juli 2010
Senin, 30 Juli 2007
Iran, Iraq, the U.N. 598 Resolution, and Chemical Weapons
Yesterday the Persian Journal published a very succinct but insightful article on the 1980-1988 Iran-Iraq War, who helped to end it and how. Read more .....
Langganan:
Postingan (Atom)











