Tampilkan postingan dengan label Australia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Australia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Desember 2011

Pangkalan Militer Darwin dan Politik Hegemoni AS


Pangkalan Militer Darwin dan Politik Hegemoni AS
Tjipto Subadi, DOSEN FKIP DAN PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
Sumber : REPUBLIKA, 2 Desember 2011


Pernyataan Presiden AS Barack Obama di depan Parlemen Australia di Canberra, Kamis (17/11) lalu, yang akan menjadikan wilayah Asia Pasifik menjadi prioritas utama politik luar negeri dan pertahanan AS menjadi kekhawatiran tersendiri bagi wilayah damai tersebut. Apalagi, setelah Presiden Obama mengatakan militer AS akan menyebar di Asia, terutama Asia Tenggara, di mana AS akan membangun pangkalan militer di Darwin, Australia, yang disusul dengan mendatangkan pasukan marinir, kapal perang, dan pesawat tempur yang dimulai tahun depan. Meskipun, Obama berdalih pangkalan militer di Darwin dimaksudkan hanya untuk operasi bantuan kemanusiaan, bukan operasi militer.

Tahun depan baru 250 marinir yang ditempatkan di Darwin, namun pada 2016 jumlah tersebut naik 10 kali lipat menjadi 2.500 marinir. Padahal, jarak Darwin dengan Nusa Tenggara Timur hanya 820 km, yang bisa dicapai oleh pesawat tempur kurang dari satu jam. Sedangkan, perusahaan tambang raksasa AS Freeport Mc Moran memiliki tambang emas terbesar di dunia, PT Freeport Indonesia, di Timika, Papua Barat, yang hanya "selemparan batu" dari Darwin.

Tentu saja rencana AS untuk mendirikan pangkalan militer di Darwin mengkhawatirkan Cina, meski AS sudah mempunyai pangkalan militer di Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Thailand. Sementara itu, bekas pangkalan udara  Clark dan laut Teluk Subik di Filipina ternyata masih sering digunakannya untuk melakukan operasi antiteroris di Asia Tenggara.

Cina khawatir sebab merasa negara kuning itu selama ini paling berkuasa di Laut Cina Selatan, tempat gugusan Kepulauan Paracel dan Spratly yang kaya akan minyak bumi sedang diperebutkan Cina, Vietnam, Filipina, Brunei, Malaysia, dan Taiwan. Keenam negara itu mengklaim ratusan pulau kecil di gugusan Paracel dan Spratly adalah milik mereka. Sehingga, dapat menimbulkan konflik bersenjata. Kehadiran AS di kawasan itu tentu saja membuat Cina khawatir, sebab politik hegemoninya akan mendapat saingan berat dari politik hegemoni AS.  

AS selalu berdalih bahwa negara adidaya itu termasuk negara Pasifik karena mempunyai wilayah di Hawaii dan Guam yang masuk kawasan Pasifik. Jadi, sah-sah saja jika AS memiliki perhatian geopolitik dan geostrategis terhadap wilayah Asia Pasifik, termasuk Australia dan Laut Cina Selatan. Apalagi, hampir 100.000 pasukan AS ditempatkan di Jepang, Korsel, Taiwan, Singapura, dan Thailand, bahkan masih tersisa di Filipina, yang kesemuanya berada di kawasan Asia.

Asia Pasifik
Sebagaimana dikatakan Presiden Obama, AS mulai berpaling ke Asia Pasifik seiring perang yang sudah berakhir. Jelas yang dimaksud Presiden Obama adalah berakhirnya perang di Irak dan rencana penarikan pasukan AS dan NATO secara menyeluruh dari Afghanistan pada 2014 nanti.

Sebenarnya, AS telah gagal dalam membangun politik hegemoninya di Timur Tengah dan Asia Selatan. Dalam kasus Irak, AS mengalami kegagalan total untuk menguasai Negeri Seribu Satu Malam itu setelah melakukan invasi untuk menggulingkan Saddam Husein pada 2003 lalu. Sedangkan, di Afghanistan, meski dibantu pasukan NATO, AS juga gagal mengusai negara bergolak tersebut. Bahkan, hampir 2.500 nyawa prajurit terbaiknya hilang di Afghanistan. Boleh dikatakan Taliban saat ini masih menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan ketika malam hari, namun ketika siang hari digantikan oleh pasukan NATO dan Afghanistan.

Kegagalan politik AS di Timur Tengah semakin nyata setelah rezim Mubarak, Ben Ali, dan Ali Abdullah Saleh yang selama ini menjadi pendukung kuatnya bertumbangan satu persatu dan digantikan rezim yang kurang bersahabat dengan AS dan Israel. Bahkan, Partai An Nahdhah yang memenangkan Pemilu Parlemen di Tunisia jelas anti-Israel, sementara kekuatan partai pendukung Ikhwanul Muslimin yang tergabung dalam Aliansi Demokrat dan Aliansi Islam Partai Nour diprediksi akan memenangkan Pemilu Parlemen Mesir yang akan digelar pada Senin (28/11) nanti. Jika kedua aliansi kekuatan politik Islam itu menang, tamatlah sudah pengaruh AS dan Israel di Mesir. 
      
Meski politik hegemoni AS di Timur Tengah semakin goyah, namun AS tetap berusaha menguasai berbagai sumber minyak di wilayah Timur Tengah dengan mengandalkan sekutu setianya, Arab Saudi. Sebab, bagi AS, tersedianya pasokan minyak secara aman dan lancar dari Timur Tengah sangat vital bagi kehidupan negara superpower yang berpenduduk 320 juta orang tersebut. Krisis minyak di AS pascaperang Timur Tengah pada 1973 lalu menjadi pelajaran sangat berharga akan pentingnya persediaan minyak bumi bagi negara adidaya itu.    

Apalagi, negara-negara Islam di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, UEA, Qatar, Bahrain, dan Libya saat ini menguasai 75 persen cadangan minyak dunia yang mencapai 685,6 miliar barel. Sedangkan, cadangan minyak lainnya ada di negara-negara Amerika Tengah dan Selatan (98,6 miliar barel), Eropa dan Eurasia (97,5 miliar barel), Afrika (77,4 miliar barel), Amerika Utara, termasuk AS dan Kanada (49,9 miliar barel), dan Asia Pasifik, termasuk Indonesia (38,7 miliar barel). 

Strategi AS untuk menguasai cadangan minyak dunia adalah dengan berusaha mengooptasi geopolitik dan geostrategis sumber-sumber minyak di Timur Tengah. Semua cara dilakukan AS untuk menguasai negara-negara Islam penghasil minyak dunia itu, seperti operasi intelijen, pengintaian, penyusupan melalui pasukan khusus, hingga invasi militer dalam skala penuh, seperti Afghanistan dan Irak.

Sementara itu, di Asia Selatan, para geolog AS sudah lama mengetahui melalui pengamatan satelit, jauh dibawah bumi Afghanistan yang terlihat tandus dan gersang itu terdapat cadangan minyak bumi luar biasa besarnya yang diperkirakan tidak kalah dengan Arab Saudi. Jika AS mampu menguasai Afghanistan dengan mengalahkan para pejuang Taliban, ke depannya Afghanistan akan menjadi rebutan berbagai perusahaan minyak raksasa AS. Sementara, perusahaan minyak Eropa hanya akan mendapat sebagian kecil meski negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO turut mengirim pasukannya ke Afghanistan.  

Selain itu, untuk melanggengkan penguasaannya atas cadangan minyak dunia yang sangat strategis, sampai 2003 tercatat AS telah menempatkan 75 persen kekuatan militernya yang total berjumlah 1,5 juta pasukan pada 730 basis militernya di lebih dari 50 negara di dunia, dan yang terbaru yaitu di Darwin Australia tahun depan.

Penempatan basis-basis militer tersebut memang disengaja tidak jauh dari sumber-sumber minyak, terutama di Timur Tengah dan wilayah strategis di Asia Pasifik. Untuk itu, dari tahun ke tahun AS terus menambah anggaran militernya. Sementara, anggaran tahun ini mencapai tiga triliun dolar.

Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kiblat politik luar negeri AS semakin diarahkan ke kawasan Asia Pasifik? Pertama, jelas untuk membendung kekuatan militer Cina yang semakin dominan di kawasan strategis itu. Kedua, AS merasa gagal dengan politik hegemoninya di Timur Tengah untuk membendung pengaruh Iran yang semakin kuat secara militer dan diplomasi. Ketiga, AS memiliki banyak pasukan dan pangkalan militer strategis di kawasan Asia Pasifik, bahkan Asia Tengah.

Selain membendung pengaruh Cina, AS diam-diam juga berusaha menghalangi pengaruh Rusia yang kembali bangkit pascaruntuhnya komunisme awal 1990 lalu. Keempat, perhatian AS terhadap Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia semakin besar. AS memandang Indonesia yang kaya akan barang tambang secara geopolitik dan geostrategi semakin penting untuk mendukung politik hegemoninya di kawasan Asia Pasifik, terutama untuk menghadapi pengaruh Cina yang diprediksi akan menjadi negara superpower baru pada pertengahan abad ini menggantikan AS.

Rabu, 30 November 2011

View Point: Enter the dragon; exit the eagle?

View Point: Enter the dragon; exit the eagle?

Yulia Suryakusuma, THE AUTHOR OF JULIA’S JIHAD
Sumber : JAKARTA POST, 30 November 2011


When European and Western hegemony was at its peak in the 1980s and 1990s, my late husband, Ami, often asked why people studied European languages instead of Chinese or Japanese. “Asia,” he said, “is where the future will lie.” If Ami were still alive, he would be justified in saying, “I told you so” (although Hindi, Korean and Indonesian would have been on his list now too!).

Even the US has cottoned-on now, shifting its gaze from the Middle East (where the Arab Spring is starting to look more like autumn) to Asia. The stable societies in our region continue to enjoy booming economic growth despite Europe and America’s financial crisis (which is not global at all, folks!).

That’s why US President Barack Obama hailed the decade-old “Asia-Pacific century” two weeks ago in Australia. He also announced that the US would establish a new foothold in the most dynamic part of the world by strengthening military ties with its longtime ally Down Under. It will deploy 2,500 Marine Air-Ground Task Force in Darwin by 2017 for the first time since World War II.

This generated speculation, controversy and anxiety. Some viewed it negatively, accusing the US of aggressive imperialist ambitions. They said that the move undermined efforts to make the region more peaceful and could tear ASEAN apart. Another analyst said the US had its sights on Timor Leste’s oil reserves and its troubled Freeport interests in Papua. Even our smooth-as-silk foreign minister, Marty Natalegawa, questioned American motives, hoping the deployment wouldn’t create tensions in the region. Given the US’ reputation as a bullying Globocop, these reactions were not surprising, but were they right?

The Darwin base seems to me to be more recognition of American weakness than a statement of ambition. Surely it is really about the US trying to maintain its dwindling power as China rises? It seems to me that if China thinks the US is trying to encircle them, they’d be dead right.

And you can see why: China is currently the second-largest economy after the US, contributing 30 percent of global wealth. Even by conservative estimates, it’s projected to overtake the US as world economic leader by 2027. China is also the US’ banker as well as the world’s factory floor, with global markets flooded with Chinese goods — and takeovers.

In 2005, MG Rover became the last domestically-owned mass-production car manufacturer in Britain, snapped up by the Nanjing Automobile group. Imagine — the quintessential British sports car is now Chinese, or half-Chinese at least. (Well, better Chinese than belly-up, like the eurozone.)

The point is that almost everyone else in Asia expects China’s financial invasion to be followed by military expansionism. Their shared heebie-jeebies are driving them to band together to contain the dragon. Even Vietnam is burying the hatchet of the Vietnam War and getting cosy with America. Politics do make for strange bedfellows, but is their China-phobia justified?

Maybe — history suggests that every rising imperial power has expressed itself with military force: the Greeks, the Romans, the Ottomans, Russia, Germany, Britain, Japan and America. Why would China be different?

As China builds its military and buys more of the world’s resources to fuel its growth, it is less willing to hear Americans telling it what to do (on the US’ quandary re China, read http://money.cnn.com/2010/05/06/news/international/china_america_full.fortune/). It continues to back its pariah buffer state, North Korea;
it continues to incarcerate dissidents; its threats to invade Taiwan have not been withdrawn. And now, it is making serious claims in the South China Sea.

But while China may be a rising power, the US is still a great power — in fact, for all its many faults and failings, still the dominant global power. It still has the stronger military as well as global reach, with allies and bases all over the world, particularly in regions surrounding China (Japan, Taiwan, Korea, India, etc.).

It is determined to keep China hemmed in if it can. So, like it or not, there is a real possibility of eventual conflict in the Pacific between the eagle and the dragon, as many fear.

Like Indonesia, Australians know that if an attack comes, it will be from the North as in World War II (invasion via Antarctica might be a bit tricky). This means that a “love triangle” between the US, Australia and Indonesia has its own natural geopolitical logic.

Indonesia is of increasing strategic importance to the US because it’s the obvious leader of a regional neutral block. It also controls three vital deep-water passages between the South China Sea, the Indian Ocean and the Pacific: the Lombok, Malacca and Sunda Straits.

Australia is also a natural ally of Indonesia because of the similarities between them — yes, that’s right, I did say similarities. Unlike China, both are multiparty democracies and both have open economies (and have signed free-trade deals with each other).

And whatever misgivings Indonesians and Australians may have about the US, it’s still an open society and a genuine democracy, and China is neither of those things. Shared anxieties about China will make these similarities matter more than differences.

My Chinese calendar says 2012 will be the year of the Dragon. By the looks of it, so will be many other years to come. So Ami was right — start learning Chinese, folks! ●

Senin, 21 November 2011

Marinir Amerika di Australia


Marinir Amerika di Australia

Chappy Hakim,PENULIS BUKU PERTAHANAN INDONESIA, ANGKATAN PERANG NEGARA KEPULAUAN
Sumber : SINDO, 22 November 2011



Penempatan pasukan marinir Amerika Serikat (AS) dan pesawat tempurnya di Australia merupakan salah satu isu sensitif yang dibicarakan Perdana Menteri Australia Julia Gillard dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dijelaskan bahwa penempatan tersebut adalah dalam rangka tanggap darurat bencana alam. Alangkah naifnya bila kita serta-merta percaya saja dengan apa yang dijelaskan Australia dan AS tentang penempatan Marinir AS di Darwin. Sederhana saja, di sepanjang sejarah dunia,tidak pernah ada kewaspadaan terhadap bencana alam sampai pada tingkat perkuatanpasukantempurdari negara lain yang digeser. Deployment dari satuan atau unit tempur yang combat ready dari satu negara di negara lainnya,tidak dapat dipungkiri, pastimemilikialasanyangkuat. Alasan kuat itu tidaklah pernah terjadi berupa ancaman dari bencana alam.

Sejarah Kelam

Bila kita melihat agak mundur ke belakang, AS sebenarnya memiliki sejarah kelam dari tingkat kewaspadaan (combat readiness) dari unit tempurnya di Pasifik. Penyerangan besar-besaran Jepang terhadap kedudukan armada laut terbesar AS di Pearl Harbor dipercaya telah membuat banyak perubahan cara pandang AS terhadap perang. Bersamaan dengan tenggelamnya armada laut di Pasifik, tenggelam pula seluruh cara berpikir bangsa AS tentang perang.

Ini pulalah yang merupakan salah satu pemicu dari AS untuk mengembangkan bom atom atau yang akan dikenal kemudian sebagai senjata pemusnah massal (a weapon of mass destruction). Jadi hal yang sangat mendasar adalah prinsip perang yang selama itu (sampai sebelum Jepang menyerang Pearl Harbor) dipahami AS ternyata keliru besar. Baru sejak itulah AS sangat yakin bahwa war might come at any moment and at any place (perang dapat terjadi pada kesempatan apa saja dan di mana saja).

AS tidak mengira sama sekali bahwa serangan udara besar-besaran armada udara Jepang tanpa “pernyataan perang” sebagai satu konvensi dari hubungan politik antarnegara yang selama ini dianut bersama.AS sama sekali tidak mengira dan bahkan menganggap serangan udara Jepang ke Pearl Harbor sebagai sesuatu yang sangat tidak masuk akal sehat, jauh dari logika berpikir di era itu.

Serangan Jepang terhadap Pearl Harbor tidak hanya memakan begitu banyak korban, tetapi yang lebih penting dari itu,penyerangan tersebut juga telah mengubah semua prinsip- prinsip perang yang selama ini dianut seluruh para pemikir militer di bidang pengkajian penyebab perang.Penyerbuan Jepang ini benar-benar telah dicatat dalam sejarah AS sebagai “The Origins of American Military Failure”.

Pelajaran pahit yang juga disebut sebagai “the turning point”dari pemahaman perang konvensional menuju perang modern atau perang udara. Pil pahit kedua yang dialami AS adalah peristiwa 9/11. Penyerangan terselubung terhadap menara kembar di New York dan upaya menembus Pentagon dan Gedung Putih di siang bolong.

Tidak hanya unsur “surprise” yang harus ditelan mentah-mentah,tetapi juga lokasi yang berada di pusat pemerintahan dan pusat perdagangan AS dengan korban yang begitu besar telah membuat AS menjadi “paranoid” dalam seketika.Tahap kegiatan security check untuk masuk ke Amerika telah berubah menjadi mirip dengan kisah-kisah dalam bullying stories(perploncoan).

Kepentingan AS

Berikutnya adalah sejarah dari kehadiran pasukan Amerika di Korea, di Vietnam, dan perkembangan serta pengakhiran dari keberadaan pangkalan- pangkalan Amerika Serikat di berbagai tempat seperti di Okinawa, Subic, dan Clark tentunya memiliki catatan- catatan khusus tersendiri. Filipina sudah tidak lagi memfasilitasi pangkalan-pangkalan AS.Itu sebabnya antara lain AS tidak akan pernah puas hanya bersandar pada kedudukan armada laut dan udara yang telah digelar sepanjang tahun dalam jajaran United States Pacific Command (USPACOM) sejak 1947.

Tidak tanggungtanggung, panglimanya adalah seorang admiral berbintang empat dan Pacific Air Forcenya selalu dijabat oleh Jenderal Air Force berbintang empat pula.Itu sekadar gambaran bagaimana pentingnya Pasifik dilihat oleh Amerika Serikat dan ada perasaan untuk tidak ingin kecolongan yang kesekian kalinya. Belum lagi bila kita mengikuti perkembangan strategis yang terjadi di kawasan Pasifik seperti tensi yang meningkat di Laut China Selatan, posisi Timor Leste dengan aneka masalah perbatasan dan sumber daya alamnya,

serta demikian tersebarnya imigran gelap yang mengalir ke Australia bercampur dengan kegiatan nelayan tradisional yang sangat membingungkan para penjaga pantai. Dan last but not least,mogoknya karyawan Freeport serta aneka penembakan yang seakan tiada henti di Papua.Kesemuanya itu telah mengusik kenyamanan Paman Sam!

Maka kiranya sekali lagi harus dikatakan bahwa alangkah naifnya bila kita menerima dengan hati riang gembira bahwa penempatan US Marine dan pesawat tempurnya di Darwin adalah dalam rangka tanggap darurat bencana alam.Kesimpulannya adalah: “Tolong dicarikan alasan yang agak pantas untuk deployment unit tempur Amerika di Australia”. Biar bagaimanapun, itulah Amerika Serikat yang angkatan perangnya memiliki tagline Global Reach-Global Power.
 

Sabtu, 19 November 2011

Sindrom Australia


Sindrom Australia

James Luhulima, WARTAWAN KOMPAS
Sumber : KOMPAS, 19 November 2011


Situasi di sekitar KTT ASEAN ini menarik untuk diamati, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara. Sebelum hadir di KTT Ke-19 ASEAN yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton berkunjung ke Filipina. Sementara Presiden Amerika Serikat Barack Obama singgah di Australia.

Di Filipina, di atas kapal perang USS Fitzgerald, Clinton berjanji akan mendukung Filipina secara militer. Dalam kunjungan ke bekas negara jajahannya itu, Clinton juga menandatangani sebuah deklarasi untuk menandai 60 tahun perjanjian keamanan antara Amerika Serikat dan Filipina.

Janji Clinton ini menjadi menarik karena Filipina dan beberapa negara anggota ASEAN lain tengah bersoal dengan China di Laut China Selatan. Menghadapi China yang raksasa, Filipina merasa perlu untuk mendapatkan dukungan Amerika Serikat, negara raksasa lain.
Dengan jumlah penduduk sebesar 1,35 miliar orang, China memang merupakan negara raksasa apabila dibandingkan dengan Filipina yang penduduknya hanya 93,6 juta orang.

Alasan Filipina meminta perlindungan Amerika Serikat mungkin bisa dipahami mengingat ketegangan di Laut China Selatan, akhir-akhir ini, memang meningkat. Laut China Selatan menjadi perairan tumpang tindih klaim wilayah banyak negara, seperti Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei, dan China.

Di Australia, Presiden Obama mengumumkan kesepakatan keamanan baru dengan Australia, yang dianggap banyak kalangan sebagai tanggapan atas perilaku China yang akhir-akhir ini semakin agresif.

Lewat perjanjian keamanan baru itu, Amerika Serikat akan memperbesar kehadiran militernya di Australia. Sekitar 250 personel marinir Amerika Serikat akan memulai rotasi di Australia utara, tahun depan, hingga total personel militer di wilayah itu nantinya mencapai 2.500 orang.

Bagi Amerika Serikat, kawasan Asia Tenggara, yang merupakan bagian dari Asia Pasifik, kawasan yang lebih luas, sangat penting. Lebih dari 80 persen ekspor dan impor Amerika Serikat diangkut melalui kawasan ini. Itu sebabnya, Amerika Serikat menjaga kawasan ini dengan mengoperasikan Armada VII Amerika Serikat yang bermarkas di Yokohama, Jepang, dan rentang garis operasinya dari Diego Garcia (Lautan Hindia) hingga Guam (Lautan Pasifik).

Pada masa Perang Dingin lalu antara Barat dan Timur, Amerika Serikat memiliki pangkalan militer di Thailand dan Filipina, yang kemudian ditutup seiring dengan pudarnya Perang Dingin dan runtuhnya komunisme. Pada saat ini, Armada VII menggunakan fasilitas pelabuhan di Singapura untuk kepentingan logistik dan pertukaran personel. Secara terbatas, militer Amerika Serikat juga hadir di Australia.

Lalu, pertanyaannya, mengapa Australia memerlukan Amerika Serikat untuk menjamin keamanannya? Sebagai negara benua yang berbatasan dengan Benua Antartika di selatan, Australia sejak awal selalu memersepsikan musuh bagi negaranya akan datang dari utara.

Namun, jika disebutkan potensi ancaman terhadap Australia akan datang dari utara, Indonesia tidak perlu merasa tersinggung karena Australia memang tidak pernah menganggap Indonesia sebagai ancaman bagi keamanan negaranya.

Dr Paul Dibb, akademisi dari Lembaga Pertahanan, Australian National University, yang pada tahun 1980-an diminta membuat laporan tentang peninjauan pertahanan Australia, sama sekali tidak mencantumkan Indonesia sebagai ancaman.

Australia selalu menganggap China sebagai ancaman. Dalam ceramahnya di Jakarta, Dr David Walker, dosen tamu di Universitas Indonesia tahun 1986, mengatakan, anggapan itu tidak didasarkan atas sejarah berdirinya Australia. Kekhawatiran itu lebih bersumber dari sedikitnya penduduk yang berdiam di negara benua yang wilayahnya sangat luas. Ia menyebut kekhawatiran itu sebagai sindrom Australia.

Australia yang penduduknya sangat sedikit apabila dibandingkan dengan luas wilayah negaranya khawatir melihat China yang penduduknya sangat padat. Kekhawatiran itu, menurut David Walker, bertambah karena di masa lalu China menjadi motor dari komunisme internasional di Asia.

Gerakan tentara Jepang ke selatan pada Perang Pasifik (1942-1945), hingga mencapai Papua Niugini, membuat Australia merasa bahwa negaranya tidak benar-benar aman terhadap serangan dari utara. Walaupun di utara Australia ada Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Itu sebabnya Australia memperluas rentang garis pertahanan keamanannya hingga 3.000 kilometer. Bahkan, lewat kerja sama pertahanan lima negara dengan Malaysia, Singapura, Australia, Inggris, dan Selandia Baru, Australia menempatkan pesawat tempur di Butterworth, di utara Kuala Lumpur.  

Minggu, 04 Juli 2010

Coober Pedy, Kota Yang Di Bawah Gurun Australia

Coober Pedy, Kota Yang Di Bawah Gurun Australia


Coober Pedy

Coober Pedy merupakan sebuah kota yang terletak di bagian utara Australia Selatan dan dikenal sebagai ibukota opal dunia, karena hampir 95 persen dari pasokan opal dunia berasal dari tambang setempat. Ini kota kecil dengan penduduk sekitar 3000 memiliki cara hidup yang unik - hampir setengah dari mereka hidup di bawah tanah.

Kembali pada tahun 1916 ketika orang-orang pindah ke Coober Pedy untuk tambang opal, suhu musim panas yang keras mengusir mereka ke dalam gua-gua yang digali ke lereng bukit. Ketika suhu di luar mengamuk lebih dari 40 derajat Celcius, suhu di bawah tanah tetap nyaman dan hampir terus-menerus sepanjang tahun. Bahkan saat ini, orang kota lebih memilih untuk membangun rumah mereka di gua-gua bawah tanah. Bahkan, banyak dari rumah yang ditinggali sekarang adalah sisa dari jalur tambang opal.

Coober Pedy

Coober Pedy

Coober Pedy

Coober Pedy

Coober Pedy

Membangun rumah baru di Coober Pedy jauh lebih murah dan lebih cepat dibandingkan dengan metode pembangunan konvensional. Rumah modern bukan dalam gua seperti yang orang-orang bayangkan namun digali ke sisi bukit. Pintu masuk biasanya di tepi jalan, dan kamar digali jauh kesamping arah bukit.

Coober Pedy

Ada lapangan golf lokal - kebanyakan bermain di malam hari dengan lampu menyala, untuk menghindari suhu siang hari. Ini benar-benar bebas dari rumput dan pegolf mengambil sepotong kecil "rumput" di gunakan untuk teeing off. Kurangnya rumput tidak mematahkan semangat mereka untuk memasang tanda ini di lapangan golf.

Coober Pedy

Coober Pedy

Coober Pedy

Coober Pedy

Coober Pedy