Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2014

TNI Kebut Persiapan Skadron Pesawat tanpa Awak


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivXE7H8TFLEizJGvBRdcMDa-dZxkHa3MJEEUbMxqnrlNRM-jziRVGbiZXaO7Mhg0PjJdx6CG_HcojUjn1Qn3qlQJcIxduZ8rsQBdL0K0WP3ZJuzWjm7zMEKodjbBjGGl_-wm5ky2r3qL-g/s320/puna-wulung-mampu-terbang-200-km.jpg
Jakarta Panglima Komando Operasi Angkatan Udara Satu Marsekal Muda Muhammad Syaugi mengaku tidak sabar untuk segera memiliki skadron khusus pesawat tanpa awak yang rencananya berlokasi di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Karena itu, Angkatan Udara saat ini sedang mempercepat persiapan infrastruktur pendukung skadron tersebut.

"Targetnya tahun ini jadi," kata Syaugi kepada wartawan di Markas Komando Operasi Angkatan Udara Satu, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat, 24 Januari 2014.
Selain infrastruktur, TNI AU juga mempersiapkan sisi teknologinya. Para teknisi TNI AU sudah mulai mempelajari teknologi dan seluk-beluk pesawat tanpa awak.

"Ternyata tak mudah, kami pun mempelajari (teknologi) tersebut dari negara tetangga yang sudah bisa," kata dia. "Tak perlu malu, yang penting kami belajar."

Saat disinggung soal pesawat tanpa awak jenis apa yang bakal digunakan TNI AU, Syaugi belum mau menjawab detail. Dia hanya menyebutkan pesawat tanpa awak hasil riset dari Kementerian Riset dan Teknologi serta Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi, yakni PUNA Wulung. "Selain itu, Kementerian Pertahanan yang tahu," ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan membeli belasan unit pesawat tanpa awak dari Filipina, selain buatan dalam negeri, yang akan dialokasikan untuk TNI Angkatan Udara.

Skadron pesawat nirawak ini diharapkan mampu mengemban misi mata-mata dan pengamatan jarak jauh. Pesawat ini ditargetkan mampu memberikan gambaran awal suatu daerah di Tanah Air setelah terjadinya bencana alam.

  Tempo  

Sabtu, 11 Januari 2014

Wulung UAV: Pesawat Tanpa Awak Pengawal Perbatasan RI


202598_puna-wulung_663_382


Kepadatan lalu lintas penerbangan di lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, boleh jadi bakal meningkat. Pasalnya di pangkalan udara yang landasannya juga digunakan bersama PT. Angkasa Pura untuk melayani penerbangan sipil, sebentar lagi akan ketempatan skadron pesawat baru. 


Saat ini, lanud Supadio bisa disebut sebagai pangkalan strategis TNI AU, karena wilayahnya relatif dekat dengan perbatasan RI – Malaysia, hingga lanud Supadio dipercaya sebagai home base dari Skadron Udara 1 yang berisi jet tempur Hawk 100/200.


Nah, bila tak ada aral melintang, jadwalnya pada kisaran awal tahun ini akan ditempatkan satu skadron baru di lanud Supadio. Dan, skadron baru ini terbilang unik, dan belum ada tandingannya di Indonesia, yakni skadron Pesawat Udara Nirawak (PUNA) atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Kepastian akan hadirnya skadron UAV merupakan jawaban yang cukup lama, setelah ide pembentukannya dicetuskan pada tahun 2000-an

Meski belum diketahui label resmi skadron UAV TNI AU ini, tapi disebutkan skadron ini akan dilengkapi pesawat dengan komposit, yakni terdiri dari dua tipe. Berbeda dengan skadron tempur TNI AU, yang umumnya tiap skadron menggunakan satu jenis pesawat. Maka skadron UAV TNI AU nantinya akan diperkuat pesawat tipe Wulung dan Heron. Yang jadi andalan utama di skadron ini adalah Heron. UAV buatan Malat, divisi dari IAI (Israel Aerospace Industries) ini tergolong canggih, Heron dapat terbang sejauh 350 km dan mampu terbang terus menerus hingga 52 jam. Dengan kecepatan maksimum 207 km/jam, Heron dengan ketinggian terbang hingga 10.000 meter memang layak menjadi spy plane. Rencananya, TNI AU akan memboyong 4 unit Heron ke lanud Supadio.

n00226703-b

PUNA-Wulung

Lain halnya dengan Wulung, UAV ini teknologinya jangan disamakan dengan Heron yang telah dipakai oleh banyak negara. Wulung tidak lain adalah buatan Dalam Negeri yang dibangun secara gotong royong oleh PT. Dirgantara Indonesia, LEN (Lembaga Elektronik Nasional), dan BPPT. Dalam proyek Wulung, PT DI bertanggung jawab atas produksi pesawat dan Lembaga Elektronik Nasional (LEN) yang mengerjakan sistem komunikasi dan elektroniknya.

Secara teknologi, LEN menyiapkan Wulung untuk misi pemantau untuk obyek permukaan, termasuk di dalamnya kelengkapan GPS dan kamera/video intai. Untuk sistem kendalinya, LEN menempatkan moda auto pilot surveillance dan on board system untuk kendali terbang. Dengan jarak jelajah hingga 200 km, Wulung akan di dukung oleh mobile ground station, sehingga data yang sedang diamati dapat terpantau secara real time.

timthumb

wulung_kompas

Setelah resmi hadir di Indonesia, besar kemungkinan Heron dan Wulung belum diberi beban untuk misi patroli yang berbau tempur, alias hadir tanpa senjata. Kedua UAV ini lebih dikedepankan untuk misi pengamatan wilayah di perbatasan, penanganan kebakaran hutan, dan pembuatan hujan buatan. Tapi tetap ada peluang jika suatu waktu dibutuhkan, UAV ini berubah menjadi UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle), seperti halnya Northrop Grumman Global Hawk dan General Atomics MQ-9 Reaper yang wara wiri melepaskan rudal memburu Al Qaeda dan Taliban di Afghanistan – Pakistan. Peluang terbesar untuk menjadi UCAV di kemudian hari jelas ada di Heron, pesawat buatan Israel ini pasalnya dapat menggotong ‘sesuatu’ hingga bobot 250 kg. Sementara si Wulung hanya bisa menggotong beban 25 kg.

Penggunaan UAV untuk jangka pendek, lebih ditekankan sebagai langkah meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam memantau wilayah-wilayah di perbatasan. Bandingkan dengan pola pengawasan perbatasan selama ini yang mengandalkan tenaga ribuan personel. Sedangkan jika menggunakan pesawat reguler, tetap membutuhkan konsumsi bahan bakar yang tidak sedikit, alhasil pengawasan tidak maksimal. Merujuk pada kemampuan Heron yang bisa mengudara 52 jam non stop sambil mengintai, tentu ini merupakan suatu solusi. Sebagai perbandingan, Wulung bisa mengudara non stop selama 4 jam.


Inspeksi perangkat sensor Wulung oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro
Inspeksi perangkat sensor Wulung oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro

Presiden SBY saat meninjau Wulung.
Presiden SBY saat meninjau Wulung.

Tampilan baling-baling Wulung
Tampilan baling-baling Wulung. Foto: Antaranews.com

Bila Heron akan datang 4 unit, maka untuk Wulung nantinya akan ada 8 unit, menjadikan total 12 unit, yang mencirikan jumlah pesawat standar dalam satu skadron. Untuk tahap awal, PT DI akan memproduksi tiga unit. Untuk pengadaan 3 unit Wulung, Kementrian Pertahanan telah menyiapkan dana Rp29 miliar. Kemenhan berharap kisaran jumlah produksi yang bakal mereka gunakan mencapai 16 hingga 24 unit.

Masih Terlalu Bising
 
Meski adopsi Wulung ke dalam jajaran sista asal produk Dalam Negeri sangat membanggakan. Tapi menurut Menristek Gusti Muhammad Hatta, Wulung suaranya terlalu bising. “Seharusnya pesawat nirawak tidak mengeluarkan suara. Bisa-bisa ditembak musuh kalau pesawat nirawak kita suaranya seperti itu,” kata Gusti.


Wulung dapat membawa beban seberat 25 kg yang ditempatkan dibawah sayap.
Wulung dapat membawa beban seberat 25 kg yang ditempatkan dibawah sayap.


Ia berharap Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan Kementerian Pertahanan bisa melakukan pengembangan yang lebih baik jika pesawat tanpa awak tersebut ditujukan sebagai alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia. “Awalnya, pesawat tanpa awak memang diprioritaskan untuk keperluan sipil seperti memantau wilayah di Indonesia. Namun dalam perkembangannya pesawat tersebut bisa dijadikan sebagai alat utama sistem persenjataan TNI. Untuk itu pesawat ini harus canggih, dan saya yakin BPPT bisa membuatnya,” tambah Menristek.

Selain dari segi suara, Menristek juga mengkritik mengenai bahan dasar badan pesawat yang terbuat dari serat fiber. Ia berharap bisa diganti dengan bahan dasar lain yang lebih kuat, “Layaknya pesawat intai tanpa awak milik negara lain,” ujarnya. (Gilang Perdana|IM)

Inilah Heron, UAV canggih andalan TNI AU, jenis yang sama juga telah digunakan oleh negara tetangga, yaitu Singapura dan Australia.
Inilah Heron, UAV canggih andalan TNI AU, jenis yang sama juga telah digunakan oleh negara tetangga, yaitu Singapura dan Australia.

Predator, salah UCAV tercanggih milik AS, mampu melepaskan rudal seperti Hellfire. Kelak kemampuan seperti ini yang ingin juga dimiliki Indonesia.
Predator, salah UCAV tercanggih milik AS, mampu melepaskan rudal Hellfire. Kelak kemampuan seperti ini yang ingin juga dimiliki Indonesia.


Spesifikasi Wulung UAV
 
Tipe/konfigurasi : Low Boom, High Wing, T-tail
Bentang sayap : 6,34 meter
Berat kosong/struktur : 60 kg
Berat muatan : 25 kg
Berat lepas landas : 130 kg
Kecepatan jelajah : 55 knot (minimal)
Ketahanan terbang : empat jam
Jarak jelajah : 200 km
Ketinggian terbang : 12.000 feet (sekitar 3.657,6 meter)
Jarak lepas landas : 300 meter
Pendaratan : darat
Sistem propulsi : mesin bensin 2 tak, maksimal 22 HP
Muatan : kamera video/kamera digital
Sistem kendali : manual/auto pilot/auto nav.

Senin, 25 November 2013

TNI Manfaatkan UAV Produksi Dalam Negeri Sebagai Pasukan Pengintai Taktis

Betapa pun sederhana, alutsista buatan sendiri punya deterrent tinggi. Ke depan TNI akan banyak menggunakan UAV buatan dalam negeri untuk intai taktis.

UAV jenis LSU-02 buatan Lapan yang diluncurkan dari korvet KRI 368 Frans Kaisiepo (photo : Kaskus)
Aaron Cross harus putar otak “mengalahkan” kelincahan MQ-9 Reaper yang dikirim dinas intelijen AS untuk menghabisi nyawanya. Eksekutor untuk operasi terselubung ini harus dimatikan, tapi ia tahu kelemahan pesawat nirawak bersenjata itu. Adegan saling telikung ala negara yang sudah maju ini pun jadi bagian paling seru dalam The Bourne Legacy – sekuel ke-4 dari petualangan Jason Bourne, salah satu film laris besutan Holywood  tahun 2012.

Benarkah kini pesawat nirawak alias Unmanned Aerial Vehicle bisa dikerahkan untuk misi pembunuhan? Meski kebenaran kisah dalam film kerap dipertanyakan,  nyatanya dinas intelijen AS memang sudah menyerahkan misi pemusnahan ke pundak pesawat  yang cukup dikendalikan via satelit ini. Kepercayaan kian meninggi karena teknologi telah memungkinkan  UAV kian presisi dengan jangkauan terbang  yang makin jauh.


Meski tidak bisa menggantikan seluruh fungsi pesawat tempur dan pesawat pengintai berawak, faktanya UAV kian banyak dioperasikan berbagai angkatan bersenjata. Seperti dilansir Popular Science, kini di dunia setidaknya ada 7.000 UAV yang dioperasikan untuk misi kombatan. UAV memang bisa dikerahkan untuk membunuh, tetapi sebagian besar masih diandalkan untuk tugas pengintaian.

Dengan demikian memang menarik mendengar kabar bahwa TNI juga memiliki minat tinggi mengakuisisi alut sista modern ini. Desas-desus ke arah ini sudah terdengar sejak 1996, setelah Kopassus menggunakannya dalam operasi pembebasan sandera di Mapenduma, Papua. Sejak itu usaha untuk membeli pesawat yang cukup dikendalikan dari jarak jauh ini terus menggelinding. Ketertarikan ini secara tak langsung ikut memacu litbang dan industri untuk menggubah buatan sendiri.

Wulung dan LSU-02

Salah satu yang kemudian ditawarkan kepada TNI adalah Wulung.  Pesawat Udara Nir Awak dengan panjang badan 4,32 meter dan bentang sayap 6,34 meter yang mampu menjelajah sampai 200 kilometer ini adalah primadona dalam ajang Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-18, 29 Agustus – 1 September lalu di TMII, Jakarta. Kementerian Pertahanan dikatakan tertarik membeli, dan BPPT-PT LEN-PT Dirgantara Indonesia dilaporkan sedang berkolaborasi menuntaskan model BPPT01A-200-PA7 yang dianggap cocok untuk keperluan TNI. (Angkasa)

Jumat, 18 Oktober 2013

Pesawat Intai Bagian dari Operasi Intelijen





Ilustrasi UAV Searcher-II
Akhir-akhir ini media banyak membahas soal pengadaan pesawat intai untuk TNI yang berita awalnya dirilis oleh Ketua Komisi I DPR Mahfud Sidik. Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat itu, mengatakan, bahwa pada pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) yang akan berlangsung hingga 2014 salah satu yang akan dibeli adalah pesawat intai tanpa awak. "Secara kebutuhan itu memang kebutuhan TNI cuma waktu itu pernah dibahas terkait dengan sumber pengadaannya," kata Mahfud di Gedung DPR, Rabu 1 Februari 2012.

Komisi I menolak rencana pengadaan pesawat dari Israel. "Seingat saya ada dua pesawat yang dibutuhkan. Pesawat itu kan dibutuhkan untuk patroli di daerah perbatasan," kata Mahfud. Namun, katanya TNI akan membeli dari Filipina. "Infonya dari Filipina, tapi yang perlu didalami apakah itu produk Filipina atau buatan Israel," kata dia.

Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro belum mendengar rencana pembelian pesawat intai dari Israel. "Saya belum ada informasi soal itu. Itu apa sih? dari mana info itu?" ucap Purnomo, saat ditemui di kompleks Istana, Jakarta, Kamis (2/2/2012). 


Bersamaan dengan Purnomo, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menampik kabar rencana pembelian pesawat intai dari Israel. “Enggak, enggak ada itu,” bantahnya. Panglima TNI, mengakui bahwa pesawat intai tanpa awak memang dibutuhkan. Alasannya, Indonesia masih belum memilikinya. “Kalau pesawat intai tanpa awak ya kita butuh, kan kita belum punya,” jelasnya.

Nampaknya berita yang dilansir Ketua Komisi I menjadikan kedua petinggi tadi menjadi kurang nyaman, karena disebutnya nama Israel. Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel, tetapi memang sejarah pernah menyebutkan bahwa Indonesia pernah mendapatnya dari Israel melalui saluran intelijen.


 Sebenarnya apa yang disebut pesawat intai ? 


Indonesia, TNI dan khususnya TNI AU memiliki pesawat intai maritim Boeing 737 dan CN-235, yang di operasikan untuk melakukan pengintaian / pemantauan udara terkait dengan maritim. Dalam prakteknya informasi dari jajaran TNI AU disalurkan ke Gugus Tempur TNI AL.


Selain pesawat intai maritim, TNI AU memang merencanakan pembentukan satu skadron pesawat intai tanpa awak terdiri dari enam pesawat, yang dikenal di dunia internasional sebagai UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Negara-negara maju kini lebih memodernisir UAV menjadi mesin pembunuh udara yang paling efektif, efisien dan aman. Penulis menuliskan dalam artikel "UAV mesin pembunuh paling mematikan"


Keberadaan UAV yang pada umumnya dioperasikan oleh Angkatan Udara selalu terkait dengan jaringan intelijen. AS dalam mengoperasikan beberapa macam jenis UAV, dalam praktek pertempuran memberikan wewenang kepada CIA untuk mengendalikannya. Operasi intelijen (Pulbaket, pengumpulan bahan keterangan) yang dilakukan AS di Afghanistan, Pakistan, Yaman, Iran dan bahkan di Korea Utara dilakukan dengan beberapa type UAV/drones seperti Predator, Sentinel dan Shadow. Kelebihan pesawat intai tanpa awak ini selain mampu terbang berjam-jam, dapat menyadap saluran telpon, dan bahkan dengan teknologi terbarunya Sentinel dapat memonitor dan menterjemahkan gerakan manusia dibawahnya.


UAV dapat dioperasikan dari jarak beberapa puluh km dan bahkan dari jarak ribuan kilometer. Type terakhirnya yang paling modern adalah RQ-170 Sentinel yang termasuk berkemampuan anti radar (teknologi stealth). Selain dilengkapi dengan kamera video, pesawat hampir dipastikan membawa peralatan komunikasi untuk menyadap, serta dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi sejumlah kecil isotop radioaktif dan bahan kimia lainnya yang dapat memberikan petunjuk adanya kegiatan penelitian nuklir.


 Untuk apa sebetulnya pesawat intai tanpa awak itu ? 



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivXE7H8TFLEizJGvBRdcMDa-dZxkHa3MJEEUbMxqnrlNRM-jziRVGbiZXaO7Mhg0PjJdx6CG_HcojUjn1Qn3qlQJcIxduZ8rsQBdL0K0WP3ZJuzWjm7zMEKodjbBjGGl_-wm5ky2r3qL-g/s320/puna-wulung-mampu-terbang-200-km.jpg
PUNA BPPT
Pesawat intai tanpa awak kini merupakan alutsista (alat utama sistim senjata) terpopular dari negara-negara maju, dimana negara yang menerapkan sistem demokrasi, maka nilai nyawa manusia di negara mereka sangatlah tinggi. Apabila pesawat tersebut ditembak jatuh, tidak menyebabkan korban jiwa. Pola dan metoda serta strategi perang negara maju telah bergeser dari pengerahan kekuatan baik perangkat perang dan manusia digantikan dengan teknologi perang.

Perang sipil di Libya misalnya, AS dan NATO tidak menggelar pasukan dalam jumlah besar untuk terlibat dalam perang campuh. Tetapi mereka memainkan kekuatan udara (air power) untuk menghancurkan dan mendikte militer loyalis Kolonel Khadafi.

Yang bertempur langsung di darat adalah para pejuang pemberontak bersenjata. Kemenangan demi kemenangan diraih pemberontak, karena alutsista militer Khadafi terus dihancurkan.


Perang pada masa mendatang bagi Amerika kini lebih terinspirasi perang melawan teroris Al-Qaeda yang melakukan aksi teror. Karena itu AS dengan tegas mengklasifikasikan ancaman terhadap negaranya sesuai dengan intensitas ancaman. Bila ancaman besar dan kuat, maka mereka akan mengerahkan kekuatan dalam jumlah besar, bisa ancaman kecil, maka yang akan dijadikan sasaran hanyalah tokoh-tokoh utamanya saja. Penyerangan dilakukan dengan dukungan penuh pesawat intai tanpa awak yang canggih itu. Prinsip preemtive strike atau menyerang lawan jauh digaris belakang pertahanannya tetap menjadi pegangan negara-negara besar tersebut.


 Bagaimana Indonesia ? 


Ancaman terhadap Indonesia masa kini dan masa mendatang diperkirakan masih berkisar dengan konflik perbatasan. Perkiraan strategis yang berupa ancaman langsung terhadap kedaulatan negara belum nampak. Yang menonjol, terjadinya gangguan dari kelompok bersenjata dalam skala kecil dengan pola teror. Kemungkinan beberapa tahun mendatang, Indonesia akan terkena imbas dari konflik dua kekuatan besar dunia AS dengan China yang kemungkinan bisa terjadi di kawasan Laut China Selatan dan kawasan Pasifik.

 
Oleh karena itu, untuk menghadapi kondisi baik keamanan maupun pertahanan di dalam negeri memang TNI membutuhkan pesawat intai tanpa awak tersebut. Baik type maupun kemampuan pesawat sangat tergantung dengan anggaran yang tersedia. Operasi pesawat intai tanpa awak akan memberikan data-data intelijen udara (air intelligence) yang sangat penting untuk kepentingan pertahanan dan keamanan. Dengan memiliki pesawat intai tersebut, memonitor teroris yang bersembunyi didalam hutanpun bukan pekerjaan yang sulit. Yang terpenting kini, dibutuhkan kesamaan pendapat bahwa kebutuhan tersebut memang sangat mendesak.


Mengenai sumber pesawat, dengan penolakan jenis pesawat buatan Israel, ya tidak usah dibeli, masih banyak negara lain yang memproduksinya dan teknologinya juga tidak kalah. Kenapa mesti ribut, kata Gus Dur (Alm) "Begitu saja kok repot." Semoga bermanfaat.



Jumat, 30 Agustus 2013

UAV Buatan BPPT Diminati Militer dan Perusahaan Swasta

TNI Pesan 3 UAV Buatan BPPT

Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) berhasil mengembangkan pesawat tanpa awak canggih buatan dalam negeri. Sebanyak 3 pesawat yang diberi nama Puna Wulung itu telah dipesan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk keperluan pengawasan.


UAV Buatan BPPT Diminati Militer dan Perusahaan Swasta

Chief Engineer BPPT Muhammad Dahsyat menjelaskan, pesawat ini bisa bertahan terbanga selama 4 jam dengan radius hingga 120 Km, dan mencapai ketinggian hingga 12.000 kaki. Pesawat tersebut dikendalikan dengan sensor remote kontrol yang canggih.


"Tahun depan kita mampu sampai 6 jam, kita berinovasi terus," kata Dahsyat saat ditemui detikFinance di Pameran Hari Teknologi Nasional, di Taman Mini Indonesia Indah, Kamis (29/8/2013).

Menurutnya, pesawat ini bisa digunakan untuk keperluan pengawasan daerah perbatasan dengan negara tetangga.

"Dibuat untuk hujan buatan juga bisa. Di sayapnya masing-masing dipasang 2 kg flare yang setara dengan 1 ton NACL (Natrium Chlorida) garam. Jadi 4 kantong flare bisa dipasang maksimum," katanya.

Selain itu, BPPT terus mengembangkan pesawat tanpa awak dengan teknologi yang lebih canggih. Dahsyat mengatakan suatu hal yang membanggakan bagi Indonesia, anak bangsa terus mampu berinovasi terhadap teknologi.

"Nanti pun bisa dibuat autopilot, auto take off dan auto landing," jelasnya.



Perusahaan Minyak Minat Beli Pesawat Tanpa Awak Made in RI


Pesawat tanpa awak hasil pengembangan Badan Pengembangan dan Penelitian Teknologi (BPPT) diminati banyak orang. Perusahaan swasta dalam negeri hingga instansi dari luar negeri meminati pesawat tersebut.

Hal tersebut dikemukakan oleh Chief Engineer BPPT, Muhammad Dahsyat kepada detikFinance di Pameran Harteknas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Kamis (29/8/2013).

"Kalau kita pameran teknologi di Kemayoran, ada yang berminat dari luar negeri, tapi saya belum bisa menyebutkan dari mana. Instansi (bukan perorangan)," kata Dahsyat.

Dahsyat mengatakan, pesawat nirawak tersebut dibuat masih untuk memasok kebutuhan di dalam negeri, seperti yang sudah dipesan oleh TNI sebanyak 3 unit untuk keperluan surveilance (pengawasan). Pesawat ini pun belum boleh dijual untuk umum.

"Kalau dijual umum kan kita harus ada perjanjian dan persyaratan dulu termasuk pelatihannya juga," katanya.

Selain TNI, perusahaan minyak swasta di dalam negeri pun tergiur untuk memesan pesawat ini. Namun sayangnya dia tidak menyebutkan berapa harga dan siapa pemesannya tersebut.

"Oil company banyak yang minta untuk off shore, on shore. Mereka untuk mengamati kilang apakah ada permasalahan atau nggak," tutupnya.  (Detik)