Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2011

Haji dan Sikap Antikorupsi


Haji dan Sikap Antikorupsi

Lamlam Pahalam,DIREKTUR BANDUNG INTELLECTUAL CIRCLE
Sumber : KORAN TEMPO, 19 November 2011



Setelah dua bulan lamanya, perhelatan pelaksanaan haji tuntas dilaksanakan. Anggota jemaah haji sudah kembali ke kampung halamannya masing-masing untuk kembali berkumpul dengan sanak saudara, handai taulan, maupun teman sejawat setelah sekian lama menunaikan ibadah haji dengan segala macam rukun yang terkandung di dalamnya.Tentu orang mendoakan bagi para hujaj (orang-orang yang melaksanakan haji) agar mereka mendapatkan predikat mabrur, adanya kualitas diri yang baik dari sebelumnya. Mabrur dimaknai dengan adanya perubahan sikap serta orientasi hidup ke arah yang lebih benar, mendasar, baik, dan tepat. Hasil ini poin penting bagi orang yang telah bersusah payah melaksanakan ibadah haji. Perubahan ini adalah pesan berharga bagi orang yang telah melaksanakan rukun Islam kelima.

Perubahan kualitas individu bagi hujaj tidaklah disimbolkan dengan perubahan kopiah dari warna hitam ke warna putih. Secara simbolis, ini bagus. Namun yang terpenting adalah adanya perubahan karakter yang mendasar, yang menyasar dan membersihkan karakter tercela. Di antara perubahan karakter yang mendasar tersebut ialah adanya perubahan sikap dan mindset hidup dari sifat rakus dunia menjadi moderat, dari hedonis ke sederhana. Sebab, karakter hedonis inilah yang menjadi penyebab orang melakukan korupsi.

Nalar Ihram

Makna ini bisa terbaca secara cermat dari pakaian ihram yang senantiasa dipakai oleh hujaj, bahwa pakaian ihram berwarna putih tak berjahit. Semua yang melaksanakan ibadah haji, pakaian ihram-nya sama, tidak membeda-bedakan antara si kaya dan si miskin. Pakaian ihram, yang melambangkan kesederhanaan, menunjukkan gaya hidup yang tawadhu, tidak lagi mempertontonkan pakaian yang mencerminkan gaya hidup hedonis, bermegah-megah, dan berfoya-foya. Pakaian ihram memberi pelajaran kesetaraan dan kesamaan manusia di hadapan Sang Pencipta. Bahwa pakaian yang bagus bukanlah pakaian baru dengan model yang perlente maupun dengan harga yang
mahal. Pakaian baru pun bukanlah baju bermodel fashion Prancis ataupun baju berbahan sutra. Namun pakaian bagus adalah pandangan hidup yang jelas terhadap
dunia dan segala isinya. Pandangan yang didasarkan pada keyakinan dan nilai luhur yang dianut.

Demikian juga dalam pelaksanaan ibadah haji. Orang melakukan wukuf di Arafah dengan segala tuntutan perbuatan yang dilakukan. Bermunajat, berdoa, dan melakukan muhasabah (introspeksi diri). Wukuf berfungsi membongkar sikap keserakahan dan ketamakan hidup yang kerap dilakukan.Wukuf di Arafah menunjukkan evaluasi kritis terhadap episode kehidupan yang telah kita lalui. Paradigma wukuf memberikan pendidikan kontrol diri terhadap godaan hidup yang semakin keras dan kencang.

Tak ketinggalan melakukan jumrah (melempar batu), yang dimaknai dengan pelemparan terhadap setan yang menjadi sumbu kejelekan. Ia mengandung pesan
yang mendalam untuk senantiasa mampu melemparkan gaya hidup yang berlebihlebihan, yang bermuara pada gaya hidup hedonis. Jumrah dimaknai dengan sikap mengusir rasa rakus dan tamak yang mengendap di dalam jiwa dengan batu
keimanan. Rayuan setan maupun godaan iblis yang melahirkan perilaku korupsi sepantasnya dilempari oleh batu ketakwaan.

Gaya hidup yang hedonistik maupun permisif hanya akan melahirkan karakter korupsi di negeri ini. Pandangan kehidupan yang mengajarkan keserakahan dan budaya serba boleh akan bermuara pada pengerukan harta kekayaan sebanyak-banyaknya. Mengeksploitasi keuangan dengan cara apa pun, mengabaikan prinsip halal dan haram. Pola pikir seperti inilah salah satu motif yang paling dominan saat orang melakukan korupsi. Semua pandangan dan gaya hidup di atas dikoreksi oleh cara berpakaian ihram.

Demikian juga perilaku korupsi yang senantiasa dilakukan berulang-ulang, yang menunjukkan tidak adanya evaluasi diri secara cerdas. Mengunyah perilaku minus dan terus minus, mencerminkan lemahnya kontrol terhadap kualitas hidup. Rajinnya menggarong uang negara tiap tahun, lagi dan lagi, memperlihatkan hilangnya perenungan nalar terhadap kesadaran diri. Deretan perilaku bejat ini seharusnya bisa diredam dengan karakter wukuf. Sebab, sejatinya wukuf adalah pengevaluasian diri secara total terhadap rekam jejak kehidupan masa lampau yang suram.

Pelengkap dari semua itu, menghardik sikap keganasan terhadap harta haram adalah nilai etis yang diserap dari nalar jumrah. Melemparkan keserakahan, mengusir hedonisme, dan menghardik ketamakan merupakan “mata kuliah”jumrah dengan “bobot SKS”tiga hari.Tentu semoga para politikus yang telah menunaikan ibadah haji menerjemahkan nalar jumrah ini secara pintar dalam lingkaran kekuasaan mereka. Sebab, karakter hedonis, permisif, maupun sikap oportunis adalah bensin yang melahirkan percikan api korupsi.

Bagi para politikus yang telah berhaji, predikat haji mereka dituntut untuk dibuktikan
dalam perilaku politiknya dengan sikap sederhana tapi anggun.Tidak lagi mendemonstrasikan kekayaan maupun memamerkan kelebihan harta demi penilaian yang semu dan lucu. Para politikus yang telah berhaji dimohon dengan hormat untuk melonggarkan gaya kehidupannya secara wajar, patut, dan etis. Sebab, mereka telah mendapatkan pendidikan haji, yang mengajarkan tentang kesederhanaan dan sikap integritas yang tinggi. Amat bertolak belakang jika sikap dan karakter para politikus yang telah melaksanakan ibadah haji tidak berubah. Boleh jadi gelar haji mereka patut dipertanyakan sekaligus gelar mabrurnya bisa diragukan.  

Jumat, 04 November 2011

Ketika Malaikat Bicara Haji


Ketika Malaikat Bicara Haji
Syafiq Basri Assegaff, PENELITI DI PUSAT STUDI ISLAM DAN KENEGARAAN, UNIV. PARAMADINA
Sumber : KOMPAS, 05 November 2011



Alkisah, pada suatu musim haji, dua malaikat bercakap-cakap di dekat Kabah di Masjidil Haram.

- Berapa jumlah orang yang naik haji tahun ini?
- Enam ratus ribu.
- Berapa yang diterima hajinya?
- Hanya dua orang, salah satunya bahkan tidak menunaikan hajinya ke sini.

Kisah bernuansa sufi itu dinisbatkan kepada ulama Abdullah bin Mubarak yang bermimpi bertemu dua malaikat saat ia tidur di dekat Kabah. Dalam mimpi itu, malaikat menyatakan, seorang yang tidak pergi, tetapi diterima hajinya itu adalah Ali bin Al-Mufiq, orang Damaskus.

Belakangan, Abdullah pun mencarinya. Ternyata Al-Mufiq adalah tukang semir sepatu yang menyerahkan 3.000 dinar hasil jerih payah yang ditabungnya untuk bekal haji kepada seorang tetangga dengan anak-anak yang sudah tiga hari kelaparan.

Esensi haji

Itu dulu. Itu di Damaskus. Di Indonesia, yang terjadi sekarang ini berbeda. Di media sosial Twitter terbetik pembicaraan bahwa meski tiap tahun jumlah jemaah haji kita terus meningkat, agaknya banyak di antara mereka adalah para koruptor yang menganggap bisa mencuci uang haramnya di Masjidil Haram.

Namun, ulama bilang, ”Mereka beranggapan sepulang haji akan bersih dari dosa, padahal haji yang dibiayai uang haram sama sekali tak akan diterima.” Bahkan, seorang yang pergi haji, tetapi membiarkan tetangganya yang kelaparan pun tidak akan mabrur sekalipun uang yang dipakai berhaji itu uang halal.

Mungkin saja mereka lupa pada salah satu esensi ajaran Islam berupa Tauhid al-Ibadah, sebagaimana dicontohkan Ibrahim AS (’Alaihis Salam) dan keluarganya. Mungkin mereka lupa haji itu sebuah cermin pernyataan tekad tentang kesiapan menghamba hanya kepada Tuhan, bukan kepada uang atau kekuasaan, yang secara tegas diwujudkan dalam kalimat talbiyah: Labbaik Allahumma Laka Labbaik. Haji itu sebuah penelusuran sejarah pengabdian Ibrahim dan keluarganya, sebuah ”tapak tilas” pengorbanan bagi orang lain, demi ibadah kepada satu Tuhan Yang Mahaagung.

Al Quran menggambarkan secara tegas bahwa Ibrahim, istri dan putranya, Ismail, adalah orang-orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sehingga perintah apa pun akan mereka jalani meski hal itu bertentangan dengan perasaan atau pikiran mereka. Kata Ibrahim dalam doanya, ”Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidup, dan matiku kepunyaan Allah Rab al-Alamin....” Ismail juga demikian: siap disembelih sesuai dengan perintah Allah. Bagi Ibrahim dan keluarganya, penyerahan total, Tauhid al-Ibadah, itu adalah siap mengorbankan nyawa Ismail di meja sembelihan.

Namun, belakangan Allah gantikan nyawa Ismail dengan ”Penyembelihan Agung” (bi dzibhin ’adziim). Ahli tafsir memaknai frase ”Penyembelihan Agung” dalam Al Quran bukan sekadar penukaran Ismail dengan seekor domba (mana mungkin kambing lebih agung dari nyawa seorang nabi?), melainkan berupa pemenggalan anak-cucu Ismail, yakni Al-Husain AS.

Sejarah mencatat, pada 10 Muharam 61 Hijriah (8 Januari 680 M) Al-Husain mati syahid dengan kepala terpenggal akibat penentangannya terhadap penguasa Bani Umayyah yang tiran, Yazid bin Muawiyah. Al-Husain adalah cucu Nabi Muhammad SAW. Ia dan abangnya, Al-Hasan AS, adalah anak-anak putri Nabi, Siti Fatimah AS, yang menikah dengan khalifah ke-4, Ali bin Abi Thalib. Berhubung Nabi Muhammad SAW adalah cucu Nabi Ismail AS, dalam sebuah hadisnya, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa, ”Husain dari aku dan aku dari Husain.”

Lama sebelum itu, Husain mengetahui bahwa mayoritas Muslimin menentang kekuasaan Yazid. Tak kurang dari 12.000 surat diterima Husain dari penduduk Irak, Yaman, dan negeri lain; semua menolak kepemimpinan Bani Umayyah yang penuh korupsi, kolusi, dan nepotisme itu.

Sesudah dicincang tentara yang dipimpin Shimr Bin Dziljawshan, kepala Husain dipermainkan bagai bola, digiring bersama putranya (yang sakit) Ali Zainal Abidin—yang jadi kakek moyang para sayid di dunia, termasuk para habib di Indonesia—dan para tawanan wanita keluarga Nabi Muhammad SAW, menuju istana Yazid di Damaskus, tempat ia biasa mabuk-mabukan dan bercengkerama dengan monyetnya.

Sebetulnya Husain telah berada di Mekkah sekitar tiga bulan sebelum musim haji, tetapi ia membatalkan hajinya. Itu dilakukannya untuk menunjukkan, memerangi penguasa zalim, memperjuangkan keadilan, dan melepaskan rakyat yang lemah (al-mustadz’affin) dari penderitaan sebagai sebuah tindakan yang lebih penting.

Sekiranya Husain bersama 72 pengikutnya tak memerangi pasukan Yazid saat itu, barangkali brand Islam bakal berantakan, menjadi ”Islam” yang ditentukan oleh diktator dan koruptor. Bukan Islam yang penuh akhlak mulia, yang menjunjung keadilan dan kekuatan pembebas manusia dari belenggu kemiskinan, kebodohan, dan kezaliman.

Kesyahidan Husain pada 10 Muharam—lazim disebut ’Asyura’—itu kini jadi legenda di dunia, baik di kalangan penganut Syiah maupun Sunni. Di Indonesia, misalnya, orang tabu mengadakan pesta (perkawinan, misalnya) pada bulan Syura. Saat itu, di banyak tempat seperti di Pariaman, Sumatera Barat, masyarakat memperingatinya dengan acara Tabot atau Tabuik, sementara anak-anak yatim—mulai dari Aceh, Jawa, hingga Kalimantan dan Sulawesi—dijamu makanan semacam bubur merah-putih.

Berkorban untuk sesama

Keteladanan Husain itu jadi relevan untuk dikenang saat memperingati hari raya (Kurban) sekarang ini. Pertama, menjadikannya salah satu cermin beragama di ”jalan lurus”. Kedua, mengajarkan, berkorban diri untuk menggembirakan orang lain merupakan budi pekerti yang utama dalam Islam. Kata Nabi Muhammad SAW, ”Aku diutus menyempurnakan akhlak.”

Kepergian Husain untuk berperang melawan 4.000-an pasukan bersenjata (bukan seperti teroris yang membunuh kaum sipil tak berdosa dan tanpa senjata), sebagaimana kesiapan Ismail untuk mati, jadi teladan bahwa berkorban untuk orang lain sangat utama nilainya dibandingkan dengan ibadah ritual.

Nabi Muhammad SAW sendiri mengajarkan, orang yang menyantuni janda dan orang miskin, misalnya, mendapat pahala seperti pejuang di jalan Allah, seperti halnya orang yang terus-menerus shalat malam dan terus-menerus puasa. Demikian pula mencari ilmu satu hari lebih utama nilainya dibandingkan dengan puasa tiga bulan. Sebaliknya, tidaklah beriman orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan.

Walhasil, kita jadi bertanya, apakah koruptor yang berhaji masih bisa merasa tenang ketika masyarakat di sekeliling mereka, yang miskin dan terpinggirkan, akan menuntut hak mereka kepada Tuhan-nya orang lemah (Rabb al-Mustadz’affin)? Islam menegaskan, doa kaum mustadz’affin atau tertindas sangat mustajab, apalagi jika para malaikat mengamini doa mereka.

Mana “Ismail” Kita?


Mana “Ismail” Kita?
Syafiq Basri Assegaff, PENELITI DI PUSAT STUDI ISLAM DAN KENEGARAAN, UNIV. PARAMADINA
Sumber : KORAN TEMPO, 05 November 2011



Alkisah, putri Nabi SAW, Fatimah, dan keluarganya berpuasa. Kala itu ia, suaminya, Ali bin Abi Thalib, dan kedua putra mereka, Hasan dan Husain, berpuasa tiga hari berturut-turut—sebagai pelunasan nazar yang dilakukan setelah kesembuhan kedua putra mereka itu dari sakit. Mereka berempat dikenal sebagai ahlulbait Nabi SAW yang dijamin kesuciannya dalam Al-Quran.

Hari pertama, persis menjelang saat buka puasa, datang seorang pengemis yang kelaparan. Mereka berikan sedikit roti gandum yang mereka siapkan kepada sang
pengemis, dan malam itu mereka hanya berbuka dengan minum air. Hari kedua
mereka puasa, datang seorang anak yatim memohon makanan. Melihat anak kecil
yang lapar, ahlulbait Nabi itu merelakan makanan mereka. Pada hari kedua itu mereka
kembali berbuka hanya dengan air. Hari ketiga, datang seorang tawanan. Ia juga meminta makan. Untuk ketiga kalinya, keluarga Ali dan Fatimah hanya berbuka dengan air.

Atas perilaku mulia itu, menurut Ibnu Abbas, Malaikat Jibril turun membawa wahyu—dan termaktub kisahnya dalam Al-Quran. Itulah rupanya akhlak sempurna atau “jalan lurus”yang diajarkan agama. Tanpa pamrih, keluarga Ali dan Fatimah  menunjukkan bahwa mereka berkorban demi orang lain, semata-mata karena Tuhan. Kata mereka,“Kami tidak mengharap dari kalian balasan ataupun terima kasih. Kami takutkan dari Tuhan kami hari yang kelabu dan penuh duka.”

Keteladanan berkorban demi orang lain itu amat penting sebagai cermin beragama
di “jalan yang lurus”.Keluarga Nabi SAW mencontohkannya. Nabi Ibrahim dan Ismail
juga memberikan keteladanannya. Ibrahim berkomitmen mengorbankan nyawa
anaknya. Sang putra sendiri, Ismail, siap sedia di meja sembelihan.

Saat itu Ibrahim telah menjadi tua dan sendirian. Di tengah kenabiannya, ia tetap seorang “lelaki”yang, sebagaimana manusia lainnya, sangat menginginkan anak laki-laki. Ismail sendiri adalah pemuda yang cerdas, berbudi, dan kuat. Ia adalah upah kehidupan yang penuh perjuangan. Ia membawa kebahagiaan bagi Ibrahim. Ia juga harapan, cinta, dan penerus keturunan Ibrahim—yang silsilahnya belakangan mengalir hingga Nabi Muhammad SAW dan anak cucunya.Tapi kini Tuhan memintanya mengorbankan “milik”yang paling dicintainya itu. Sekiranya pengorbanan yang diminta Tuhan adalah nyawanya sendiri, mungkin itu lebih mudah bagi Ibrahim.

Maka Ibrahim membawa anaknya ke Mina. Di situ Ibrahim masuk ke panggung untuk berevolusi, tempat idealisme diunggah, tempat kebebasan absolut yang disertai
penyerahan total diwujudkan. Kalau Ibrahim mengorbankan putranya, kita patut bertanya,“siapa”atau “apa”-kah Ismail kita? Jabatan? Kehormatan? Uang? Cinta?
Keluarga? Ilmu? Hidup kita? Tak ada yang tahu, kecuali diri kita sendiri.Tapi, menurut
intelektual Iran, Dr Ali Shariati, tandatanda “Ismail”kita adalah segala hal yang
melemahkan keyakinan (iman), segala yang menyebabkan kita mementingkan diri
sendiri, apa pun yang membuat kita tidak bisa mendengar pesan dan mengakui
kebenaran, serta segala hal yang mendorong kita mencari pembenaran demi kenyamanan”.

Itu sebabnya, satusatunya cara mematuhi perintah Tuhan, sebagaimana dilakukan
Ibrahim, adalah dengan melakukan “perang besar”melawan bisikan “setan” dalam ego sendiri. Maksudnya, agar manusia tidak merasa aman dan terlindungi dari pengaruh musuh itu: masih banyak jeratan kemegahan artifisial yang bisa membutakan. Manusia harus terus berusaha, dan minta kepada Allah, agar selalu bisa “diamankan”di jalan yang lurus—shiratal mustaqiim.

Lewat pengorbanan itu,Tuhan seperti mengingatkan Ibrahim agar tidak berpikir bahwa “urusan”-nya dengan Allah sudah selesai setelah ia mengabdikan diri selama lebih dari 100 tahun sebagai nabi. Sebagai pendiri agama monoteisme (tauhid), pembangun jalan bagi Musa,Yesus, dan Muhammad SAW, serta simbol kemenangan manusia, harga diri, dan kesempurnaan—tugas Ibrahim dalam “pengabdian”sejati adalah jauh lebih sulit.Tuhan seperti berpesan,“Engkau harus ‘bebas total’, dan jangan terlalu yakin serta bangga pada dirimu, sebab selalu ada kemungkinan untuk ‘jatuh’ pada setiap ‘puncak’.”

Jalan lurus

Singkat cerita, sesudah mengetahui komitmen Ibrahim dan putranya, emudian Tuhan menggantikan nyawa Ismail dengan “Penyembelihan Agung”. Belakangan banyak
ahli tafsir yang memaknai “Penyembelihan Agung”itu bukanlah seekor kambing —mana mungkin domba lebih agung daripada seorang nabi—melainkan saat disembelihnya
cucu Nabi Muhammad SAW, Husain, yang namanya disinggung di atas.

Baik  sejarawan Sunni maupun Syiah mencatat, Husain gugur sebagai syahid dalam
upayanya menentang penguasa tiran, Yazid bin Muawiyah. Pada 10 Muharram
61 H, kepala Husain dipenggal bala tentara Yazid dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karbala, Irak. Berhubung Nabi Muhammad SAW adalah cucu Nabi Ismail
AS, dan Husain adalah cucu Nabi, menjadi sebuah keniscayaan bahwa “berkat pengorbanan Husain menggantikan pemenggalan Ismail itulah, Nabi SAW “terselamatkan”. Itu sebabnya, dalam sebuah hadisnya, Nabi SAW menyatakan,“
Husain dari aku dan aku dari Husain.”

Sebelum menuju Karbala, sebenarnya Husain sudah siap berhaji—bahkan ia telah berada di Mekah sejak Ramadan tahun 60 H.Tapi belakangan ia tinggalkan hajinya demi menunjukkan bahwa memerangi penguasa zalim dan memperjuangkan keadilan merupakan sebuah tindakan yang lebih penting daripada berhaji. Perjuangan demi keadilan, penentangan terhadap “berhala-berhala” simbol kehidupan fana, kekuasaan, nafsu, egoisme, dan kebanggaan diri, semuanya harus digapai lewat perjuangan serius serta pengorbanan diri—demi mewujudkan sebuah penyerahan total kepada Tuhan.
Itulah makna hakiki penghambaan (ibadah) kepada Allah SWT. Itulah shiratal mustaqiim, sebagaimana yang selalu diminta muslimin dalam salat.

Barangkali bisa kita analogikan bahwa shiratal mustaqiim dalam surat Al-Fatihah
itu semacam jalan tol, jalan bebas hambatan. Jalan yang lurus itu adalah juga jalur
yang paling dekat. Ilmu ukur membuktikan bahwa “jarak terpendek dari dua buah
titik adalah garis lurus yang menghubungkan keduanya”. Maka, kalau jaraknya terpendek, berarti jalan lurus itu adalah jarak yang terdekat.

Secara spiritual sejatinya Tuhan telah memberitahukan bahwa Dia memang dekat.
Dan jalan terdekat mencapai-Nya adalah lewat jalan lurus. Karena itu, Dia menyuruh sang hamba menyeru-Nya.Tuhan pun menjamin akan menjawab seruan itu, kecuali bila sang hamba bersikap “arogan” dalam beribadah kepada-Nya. Sebab, ketika ada keangkuhan, muncullah jarak yang menganga lebar antara sang hamba dan Tuhannya, sehingga ia berada di tempat yang jauh “tak terjangkau”—dan akan dimurkai oleh Dia. Al-Quran sendiri memandang arogansi sebagai sumber kemusyrikan (politeisme), yang menyebabkan munculnya kezaliman; dan menganggap kezaliman sebagai kesesatan. Arogansilah yang menghancurkan penguasa seperti Namrud, Firaun, dan Yazid.

Mereka yang di jalan lurus itu, dalam surat Al-Fatihah, adalah mereka yang “telah mendapat nikmat”Tuhan; bukan mereka yang mendapat murka-Nya (al-maghdzuubi
‘alaihim) ataupun orang-orang yang tersesat (adh-dhalliien). Para ulama menegaskan
bahwa “nikmat”yang dimaksud tentulah bukan sekadar “kesenangan”duniawi yang rendah dan fana seperti harta atau takhta dan kekuasaan yang dimiliki Firaun, Yazid, atau Abu Jahal.Yang dimaksud mereka “yang diberi nikmat”adalah orang-orang yang dekat dengan Allah, seperti Nabi SAW, sahabat Nabi yang baik, dan ahlulbaitnya —yang berseberangan total dengan dua golongan lainnya.

Sedikitnya 17 kali sehari muslimin mengulangi permohonan itu dalam salat guna menunjukkan kerendahan hati kita bahwa kita bukan hamba yang arogan—karena kapan saja manusia bisa terjerumus ke jurang kezaliman atau tersesat. Di tengah jalan lurus yang penuh kerendahan hati itulah seorang hamba tunduk kepada Rabb-nya, semata-mata karena cinta kepada-Nya. Rupanya kedekatan antara kita dan Yang Kita Cintai hanya bisa terwujud lewat perjuangan keras (“jihad”) membersihkan hati dari kotoran akibat memperturutkan nafsu duniawi, dan dengan menjalin cinta dengan sesama manusia sebagaimana dicontohkan di atas. Kisah di atas juga mengingatkan kita akan firman Tuhan kepada Nabi Musa AS, ketika Dia mengatakan,“ Satu-satunya ibadah yang Aku hitung sebagai benar-benar ibadah kepada-Ku adalah membahagiakan orang-orang yang hancur hatinya.”

Itulah sesungguhnya makna Islam yang ditegaskan Nabi.“Sesungguhnya makna agama adalah mengenal Allah (ma’rifatullah), dan ma’rifatullah hakikatnya adalah bertingkah laku dengan akhlak yang baik. Akhlak adalah menghubungkan tali silaturahmi (kasih sayang), dan silaturahmi adalah ‘memasukkan rasa bahagia di hati saudara kita’.”

Hajinya Orang Jawa


Hajinya Orang Jawa
M Bambang Pranowo, DIREKTUR LEMBAGA KAJIAN ISLAM DAN PERDAMAIAN
Sumber : SINDO, 05 November 2011



Haji bagi orang Jawa merupakan puncak kesempurnaan iman seorang Muslim. Karena itu, ibadah haji merupakan perjalanan spiritual paripurna untuk seorang kawula.

Persiapan untuk mencapai kesempurnaan iman itu demikian sakral, sehingga orang Jawa yang mau menunaikan ibadah haji mempersiapkan dirinya untuk lebur, mati, dan nyawiji dalam sifat-sifat Allah. Haji dalam “bahasa kultural orang Jawa” disebutkan sebagai “kaji” yang maknanya tekad wis nyawiji yaitu suatu niat sungguhsungguh untuk manunggaling kawula Gusti dengan segenap rasa dan jiwa.

Dengan latar belakang inilah, kita memahami, kenapa orang Jawa yang mau menunaikan ibadah haji butuh persiapan panjang, khususnya persiapan mental, hati, dan jiwa. Orang yang akan menunaikan haji harus mempunyai hati yang sumeleh, ikhlas, rendah hati,dermawan,dan penuh kasih. Persiapan ini bagi orang Jawa yang benar-benar memahami makna hakiki haji tidak gampang sampai-sampai Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) hingga akhir hayatnya (1988) belum sempat menunaikan haji.

Kenapa demikian? Menurut cerita KH Wardan Dipodiningrat,penasihat Keraton Yogya dan salah seorang Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah, HB IX pernah menyatakan bahwa dirinya belum mampu dan pantas secara rohani untuk menunaikan ibadah haji. HB IX merasa masih banyak kotoran jiwa dan dosa yang harus disucikan sebelum benar-benar memutuskan untuk menunaikan ibadah haji.

Sampai akhir hayatnya, beliau pun rupanya masih terus mempersiapkan hati dan jiwanya untuk menunaikan ibadah haji. Betapa nilai spiritual haji dalam pandangan seorang raja Jawa. Gambaran tersebut menunjuk kan kerendah-hatian HB IX dalam memandang dirinya di hadapan Allah, sehingga beliau masih merasa malu untuk menunaikan ibadah haji.

Peneliti LP3ES Jakarta Dr Ignas Keleden dalam tulisannya tentang HB IX mengungkapkan arak-arakan awan ikut mengiringi jasad Sultan ke peristirahatan terakhir. Matahari yang panas langsung redup dan angin berhembus semilir seakan ikut mengantarkan HB IX untuk menemui Tuhannya.Dalam bahasa santri, apa yang dikatakan Ignas menggambarkan bahwa HB IX meninggal dengan khusnul khatimah sesuai harapan semua orang Islam.

Proses Spiritual

Kisah bagaimana kebesaran Allah dalam melihat niat suci ibadah haji, misalnya, pernah diungkapkan seorang ulama bernama Abdullah bin Mubarok di Arab Saudi. Saat itu Abdullah sedang melaksanakan ibadah haji.Entah bagaimana, sang ulama tibatiba tertidur di lantai Masjidilharam, Mekkah dan bermimpi melihat dua orang malaikat sedang berdialog. Salah satu malaikat bertanya kepada temannya, berapa orang yang ibadah hajinya diterima Allah?

Sang Malaikat yang ditanya menjawab, hanya satu orang, namanya Muwaffaq dari Damsyik (Damaskus). Abdullah kaget! Setelah ibadah hajinya selesai, dia mencari Muwaffaq,orang yang hajinya diterima Allah tersebut. Setelah bertemu, sang ulama makin kaget lagi karena Muwaffaq ternyata adalah orang miskin dan tidak pernah sampai ke Mekkah.Dengan penasaran, Abdullah bertanya, “Kenapa malaikat menyebutkan hanya Anda yang ibadah hajinya mabrur?”

Muwaffaq pun bercerita bahwa dia memang pernah berniat menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Tapi bekalnya habis di perjalanan karena melihat banyak sekali orang miskin dan dia membagikan bekalnya kepada mereka sampai habis. Kisah-kisah di atas–Muwaffaq dan HB IX–menggambarkan bahwa ibadah haji sebetulnya lebih merupakan suatu proses perjalanan spiritual ketimbang fisikal.

Itulah sebabnya, orang Jawa akan mempersiapkan hati dan rohaninya sebelum menunaikan ibadah haji agar mereka mendapat pengalaman spiritual. Makin banyak pengalaman spiritual yang dialaminya selama menunaikan ibadah haji, makin besar pula harapan orang Jawa untuk menjadi muslim yang baik. Pinjam tesis MC Ricklefs dalam Mystic Synthesis in Java, ibadah haji merupakan salah satu tahapan akhir proses transformasi keislaman orang Jawa.

Dengan menunaikan ibadah haji,atribut kultural orang Jawa yang sebelumnya berbau Hinduism dan politeisme berubah menjadi monoteisme dan Islam. Melalui haji inilah, orang Jawa akhirnya melihat diri mereka secara alamiah memiliki identitas pokok yang didefinisikan Islam (Azra,2009). Untuk menggambar kan bagaimana kuatnya proses Islamisasi orang Jawa melalui ibadah haji ini, misalnya, bisa kita lihat dalam perjalanan hidup Pak Harto.

Peneliti sosiologi Islam dari Barat yang terjebak kategorisasinya Geertz dalam melihat Islam di Jawa (abangan, priyayi, dan santri) nyaris tidak bisa memahami perjalanan spiritual Pak Harto— orang yang disebut Allan A Samson sebagai an abangan military general—yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bangsa Indonesia (Army and Islam in Indonesia,1972). Bagaimana mungkin seorang presiden yang lahir dari kultur Jawa abangan, di masa tuanya membangun 999 masjid di seluruh Indonesia melalui yayasan Amal Bhakti Pancasila yang digagasnya?

Kenapa itu terjadi? Jawabnya karena orang Jawa dalam proses transformasi budayanya—sejak zaman pra- Islam,Hindu,dan Buddha—kini telah sampai pada penemuan identitas dirinya, yaitu Islam. Meski demikian, orang Jawa tidak meninggalkan sejarah dan budaya masa lalunya yang dianggapnya sebagai warisan nenek moyang yang tetap harus dihormati secara kultural. Dari gambaran inilah,kenapa ibadah haji bagi orang Jawa mempunyai makna yang sangat penting.

Tidak seperti orang kaya di kota metropolitan di mana ibadah haji dilakukan dengan sangat mudah melalui ONH Plus dengan penekanan mempunyai cukup uang, bagi orang Jawa ibadah haji butuh persiapan mental, hati, dan jiwa. Ibadah haji adalah manifestasi dari kaji yaitu tekad wis nyawiji (tekadnya sudah menjadi satu)—yaitu usaha tanpa lelah secara fisikal dan spiritual demi membersihkan hati dan menyucikan rohani untuk menuju ke haribaan Allah (manunggaling kawula Gusti).