Jumat, 28 Januari 2011

EGYPT

There are so many updates circulating right now, it is hard to keep up.

Here are a few briefs that are both current and provide the most germane news:

Military takeover in Egypt aired as army holds fire against curfew violators

The possibility of the military taking control of the regime on the back of the popular uprising to end Hosni Mubarak's 30-year rule was actively discussed Friday night, Jan. 28, after security forces failed to control anti-government riots for four days.

Protesters in Cairo, Alexandria and Suez ignored the nationwide curfew imposed until 0700 Saturday and the soldiers who were called in to enforce it held their fire. Protesters overturning and burning security forces vehicles welcomed the military APCs.

The transfer of rule to the military even for an interim period would shake the entire Middle East to its foundations. The US stands to lose its senior Arab ally, whereas a new government in Cairo might modify or abandon Egypt's epic 1979 peace treaty with Israel and turn away from the close relations between the two governments.


Its almost a guarantee that a new government is unlikely to recognize the peace treaty with Israel. Its all coming together now, prophetically.

Egyptian protesters tried to storm the foreign ministry in Cairo Friday night, Jan. 28 in defiance of nationwide curfew imposed on the capital, Alexandria and Suez, until 0700 hours Saturday. President Hosni Mubarak called in the army to back the security forces facing swelling numbers of protesters and enforce the curfew.

Gunshots were heard near the parliament and thousands of protesters remained out in the streets. At least 10 people were killed and more than a thousand wounded in Cairo during the day. In Suez, 13 are reported dead, 75 injured.

The protesters later set fire to parliament, the national museum and the ruling National Democratic Party whose offices were later looted.
Some soldiers and policemen instead of confronting the rioters reportedly shed their uniforms and joined them.


Finally, and as expected, we see the Muslim brotherhood making their presence known.

During the day in Cairo, the protesters' ranks swelled to tens of thousands when Muslim worshippers poured out of the mosques, many heading for the Nile bridges and fighting to cross over to the government district and Tahrir (Liberation) Square on the other side. Security forces firing rubber bullets and tear gas, using water cannons and charging them with batons, injured hundreds but failed to halt the current.


Mubarak: "There will be a new government tomorrow"

Egyptian President Hosni Mubarak made his first public statement since anti-government protests began four days ago. He said he is aware of the problems faced by Egyptian people, called for order and announced that the government will be replaced on Saturday.

"In my capacity as president of the republic, I always stressed and continue to reiterate that sovereignty belongs to the people." However, he continued, "There is a fine line separating freedom from chaos."

The head of the Egyptian opposition Wafd party on Friday called for a period of transitional rule in Egypt, new parliamentary elections and amendments to the constitution limiting presidential terms, Reuters reported.

As protests continued into the night, Egyptian authorities were reportedly holding talks to establish a "transitional government," following the series of deadly protests against President Hosni Mubarak's regime.


An even more recent update (5:55 EST) is now in:

Egypt's Mubarak fires Cabinet but refuses to resign

Egyptian President Hosni Mubarak on early Saturday said he had ordered the Cabinet to resign and said he would name a new one 'tomorrow'.

Egypt plunged into chaos on Friday when tens of thousands of people took to the streets in Cairo and other major cities to demand the resignation of President Hosni Mubarak. Some of them clashed with security forces, killing at least 20 people and injuring more than 1,100 others.

The Egyptian leader, who has ruled the African nation since October 1981, said he would name a new Cabinet 'tomorrow' but gave no indication if he was referring to Saturday or Sunday.


Meanwhile....

Number of dead rises to 18, 13 in Suez, in Egypt protests

The number of people killed in the latest day of anti-government protests in Egypt rose to 18 on Friday, with 13 people killed in the port city of Suez, al-Jazeera reported.

Nearly 20 people were also reportedly injured in the protests in Suez, with over 900 people injured throughout the country.

Earlier, five people were confirmed dead in protests in Cairo.

As night fell, several government officials and businessmen fled Egypt in private jets, reported Reuters.

Meanwhile, Egyptian authorities were reportedly holding talks to establish a "transitional government," following the series of deadly protests against President Hosni Mubarak's regime.

Earlier Friday, Egyptian state television said Mubarak imposed a curfew on Cairo, Alexandria, and Suez after violent demonstrations there.

Egypt's military was also deployed on the streets of Cairo for the first time since the protests began four days ago.

Parts of the ruling party headquarters in Cairo were going up in flames apparently set by enraged protesters demanding Mubarak's ouster.

Mubarak has not said yet whether he will stand for another six-year term as president in elections this year. He has never appointed a deputy and is thought to be grooming his son Gamal to succeed him despite popular opposition. According to leaked US memos, hereditary succession also does not meet with the approval of the powerful military.


This situation is evolving rapidly. More to follow - that much is certain.

Ketika Para Tokoh dan Pemimpin Kita "Berbohong"


Semula saya kira isu tentang kebohongan-kebohongan pemerintahan SBY yang disampaikan para tokoh lintas agama di kantor PP Muhammadiyah Senin lalu (10-01-2011) sungguh merupakan hal yang sangat gawat. Buktinya, pada hari yang sama Menkopolhukam Djoko Suyanto merasa harus memberikan keterangan pers untuk meluruskan berita yang ditulis dalam editorial di salah satu media kita bahwa sudah terlalu banyak kebohongan yang dilakukan pemerintah kepada rakyat.  Nampaknya dalam hal ini pemerintah tidak mau gegabah dengan bereaksi secara langsung kepada para tokoh lintas agama. Presiden SBY telah memerintahkan Daniel Sparringa, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik, untuk meminta konfirmasi kepada sejumlah tokoh agama yang hadir pada pertemuan tersebut.  Hasilnya? Apa yang semula saya rasakan cukup menegangkan tersebut ternyata konon hanya merupakan masalah perbedaan bahasa komunikasi yang digunakan. Tetapi, benarkah itu semua hanya merupakan masalah bahasa?
Mengapa Pemerintah Resah?
Setelah membaca 18 butir kebohongan yang dipublikasikan di sejumlah media, nampaknya pemerintah tidak bisa menerima kalau soal janji-janji pemerintah yang tidak atau belum terpenuhi, penggunaan parameter jumlah orang miskin yang digunakan pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan fakta di lapangan, dan kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memihak kepada publik disebut sebagai suatu kebohongan.  Kebohongan tidaklah identik dengan kegagalan.  Kebohongan adalah ucapan yang tidak sesuai dengan keadaan/tindakan yang sebenarnya.  Keadaan/tindakan mendahului ucapan, bukan sebaliknya, kecuali kalau niat untuk melakukan suatu tindakan sengaja disembunyikan.  Kebohongan adalah kalau kegagalan, misal dalam menyelesaikan kasus Gayus atau skandal Century, diakui sebagai keberhasilan.  Bagi pemerintah, kebohongan merupakan suatu perbuatan disengaja yang sangat tercela karena menyangkut integritas, kredibilitas dan kehormatan seseorang.  Pemerintah resah karena dituduh telah melakukan banyak kebohongan kepada rakyatnya.  Bagi pemerintah, tuduhan tersebut merupakan, meminjam istilah Ketua MK Mahfud MD, proses demoralisasi.

Kedua, selain soal bahasa, hal lain yang membuat pemerintah resah adalah karena konon para tokoh lintas agama tersebut berjanji akan mengajak umat untuk melawan kebohongan yang dilakukan oleh (pemerintahan) SBY.  Artinya, paling tidak dalam benak pemerintah, akan ada mobilisasi massa yang bertujuan untuk memerangi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memihak kepada publik.  Nampaknya pemerintah khawatir proses demoralisasi terhadap pemerintah dan ajakan kepada umat tersebut akan dimanfaatkan oleh sejumlah politisi dan jenderal purnawirawan yang sudah tidak sabar lagi untuk melihat Presiden SBY dilengserkan sebelum masa jabatannya berakhir.  Itulah sebabnya Presiden SBY segera mengirim Daniel Sparringa, staf khusus bidang komunikasi politik, untuk melakukan komunikasi politik dengan para tokoh agama tersebut.
Ketiga, kehadiran para aktivis LSM di kantor PP Muhammadiyah yang menyampaikan 18 kebohongan pemerintah (Detik.Com, 10/01/2011) tersebut nampaknya telah mengundang kecurigaan pemerintah.  Skenario macam apa di balik kerjasama antara tokoh lintas agama dan para aktivis tersebut?  Benarkah 18 kebohongan yang disampaikan oleh para aktivis tersebut merupakan pernyataan murni dan bulat dari sembilan tokoh lintas agama yang hadir dalam pertemuan tersebut?  
Keempat, barangkali yang membuat Presiden SBY merasa sangat terpukul adalah karena tuduhan  kebohongan yang ditujukan kepadanya tersebut disampaikan oleh para tokoh agama, penjaga moral yang dipercaya oleh masyarakat dan tidak mungkin bermain-main dengan ucapan mereka. Kalau seruan bohong itu disampaikan oleh para aktivis LSM yang sedang berdemo, itu sudah lumrah dan karenanya pemerintah tidak resah.  Pemerintah juga tidak resah ketika tahun lalu para aktivis Gerakan Indonesia Bersih (GIB) dan kelompok petisi 28 menuntut Presiden SBY untuk mundur.  Demikian pula pemerintah tidak merasa resah ketika 25 Agustus 2010 lalu sejumlah Jenderal purnawirawan menyampaikan keresahan serupa yang disampaikan oleh para tokoh lintas agama dan meminta Ketua MPR Taufik Kiemas untuk menggelar Sidang Istimewa MPR apabila presiden terus menerus mengingkari UUD 1945 (asli). Tetapi nampak secara jelas pemerintah tak mampu lagi menutupi kegelisahannya ketika mendengar berita tentang pernyataan sembilan tokoh lintas agama bahwa (pemerintahan) SBY telah melakukan banyak kebohongan kepada rakyatnya.  Komunikasi politik dan dialog pun lalu digelar untuk mencegah meluasnya konflik terbuka antara pemerintah dan para tokoh lintas agama.  
Pernyataan yang Belum Bulat?           
Dari hasil komunikasi politik yang dilakukan oleh Daniel Sparringa dengan sejumlah tokoh lintas agama akhirnya ditemukan sejumlah fakta, antara lain bahwa pernyataan tentang 18 kebohongan yang konon disampaikan oleh sejumlah aktivis LSM yang tergabung dalam GIB tersebut masih berbentuk draf dan belum ditandatangani oleh sembilan tokoh lintas agama. Pemerintah juga merasa lega ketika salah seorang tokoh lintas agama, Franz Magnis Suseno, menyampaikan klarifikasi bahwa para tokoh lintas agama tidak bermaksud mengatakan bahwa Presiden SBY telah berbohong.  Selain itu, ketegangan antara pemerintah dan tokoh lintas agama semakin mencair ketika para tokoh lintas agama "meralat" pernyataan tentang 18 kebohongan pemerintah tersebut menjadi tujuh pernyataan sikap para tokoh lintas agama yang dibacakan secara langsung dalam pertemuan mereka dengan pemerintah pada tanggal 17 Januari 2011 malam hari.      
Benarkah Sikap Tokoh Lintas Agama Melunak?
Adalah menarik untuk melihat tujuh butir pernyataan para tokoh lintas agama yang disampaikan kepada pemerintahan SBY-Boediono karena bagaimanapun dialog-dialog yang akan dilakukan oleh pemerintah dan tokoh lintas agama harus mengacu pada butir-butir pernyataan tersebut.  Butir pertama merupakan pernyataan syukur karena setelah 66 tahun merdeka NKRI masih bisa bertahan utuh, walaupun harus diakui bahwa belum semua warganya menikmati kemerdekaan yang utuh. 

Mengacu pada cita-cita para pendiri bangsa sebagaimana tertulis dalam pembukaan dan batang tubuh UUD 45, yakni kemerdekaan sejati  yang mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi setiap anak bangsa, butir kedua menggarisbawahi masih terjadinya kekerasan atas nama agama dan kelompok terhadap terhadap umat beragama dan berkeyakinan, terhadap kebebasan berpendapat dan insan pers yang masih tampak dibiarkan oleh negara.  Dalam hal ini saya kira pemerintah harus menjelaskan mengapa kekerasan atas nama agama dan kelompok tersebut masih terus terjadi dan, ini mungkin yang terpenting, masih tampak dibiarkan terjadi.  Dalam jangka panjang pemerintah mungkin sulit untuk mencegah terjadinya kekerasan dimaksud, tetapi pemerintah harus menjamin bahwa kekerasan tersebut tidak akan dibiarkan terjadi dan frekuensi kejadiannya harus semakin menurun. Barangkali tantangan yang tidak mudah diatasi oleh pemerintah adalah terkait dengan praktik-praktik ajaran sesat yang meresahkan masyarakat di sekitarnya.  Tetapi saya percaya dengan bantuan dan dukungan penuh dari para tokoh lintas agama pemerintah pasti akan mampu mengatasinya.  Hal lain yang ingin saya tambahkan di sini adalah tentunya pemerintah juga tidak boleh membiarkan terjadinya kekerasan-kekerasan lain yang tidak disebutkan dalam pernyataan tokoh lintas agama tersebut.    
Butir ketiga pernyataan tokoh lintas agama menyampaikan, antara lain yang pokok adalah, masih banyaknya rakyat miskin yang tidak mendapatkan layanan kesehatan dan layanan pendidikan yang memadai dari pemerintah sehingga banyak yang meninggal dunia dan putus sekolah.  Di sini secara tidak langsung tokoh lintas agama bermaksud mengingatkan pemerintah agar pertambahan atau penurunan kemiskinan jangan hanya dilihat dari angka prosentase, tetapi juga dilihat dari angka absolut jumlah orang miskin.  Jangan hanya melihat orang miskin yang berada di bawah garis kemiskinan, tetapi juga orang miskin yang berada di atas garis kemiskinan yang setiap saat rentan berubah menjadi berada di bawah garis kemiskinan.  Dalam konteks inilah kita bisa memahami mengapa jumlah orang miskin yang menerima layanan bantuan beras untuk rakyat miskin (70 juta) dan jumlah orang miskin yang menerima layanan jaminan kesehatan masyarakat (76, 4 juta) lebih banyak dari jumlah orang miskin yang berada di bawah garis kemiskinan (31,02 juta). 
Mengenai masalah banyaknya orang miskin yang meninggal karena kelaparan atau karena tidak mendapatkan layanan kesehatan gawat darurat dari rumah sakit, saya kira Kementerian Kesehatan atau unit pemerintah lainnya yang menanganinya seharusnya melakukan monitoring, sosialisasi dan tindakan-tindakan preventif agar supaya jumlah kasus-kasus tersebut dapat dikurangi.  Barangkali dapat juga dipertimbangkan untuk mendirikan semacam rumah-rumah pengaduan yang selain menerima pengaduan dari masyarakat tentang kasus tersebut juga dapat memberikan jasa konsultasi tentang layanan kesehatan pemerintah untuk kelompok masyarakat miskin.  Dalam hal ini diharapkan anggota badan pekerja tokoh lintas agama dapat berpartisipasi untuk menyampaikan data dan informasi dalam rangka meningkatkan layanan kesehatan bagi kelompok masyarakat miskin. Kecuali kalau mereka mempunyai misi dan agenda kerja lain yang lebih penting dan mendesak.          
Dalam butir keempat tokoh lintas agama menggarisbawahi pendapat banyak ahli ekonomi yang menyatakan bahwa kebijakan ekonomi saat ini bertentangan dengan amanat pembukaan dan batang tubuh UUD.  Sumber daya alam belum dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan perusakan terhadap lingkungan hidup terus terjadi. 
Dari sekian banyak kebijakan ekonomi pemerintahan SBY-Boediono yang ada saat ini saya yakin yang dimaksud oleh tokoh lintas agama adalah kebijakan ekonomi neoliberal yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat jelata sesuai dengan amanat pasal 33 UUD 1945.  Saya kira merupakan hal yang masih dapat diperdebatkan tentang sejauhmana Indonesia saat ini telah menerapkan ekonomi pasar bebas.  Dalam beberapa kali kesempatan kita mendengar pernyataan dari beberapa pengamat ekonomi kita bahwa Indonesia bahkan lebih liberal dibandingkan dengan Amerika Serikat yang notabene merupakan negara yang paling vokal dalam mengkampanyekan ekonomi pasar bebas.  Namun Index of Economic Freedom 2010 yang disusun oleh lembaga think-thank Heritage Foundation dan The Wall Street Journal menempatkan Indonesia pada peringkat ke-116 dari seluruh negara di dunia, sementara Amerika Serikat berada pada peringkat ke-9.  Meskipun demikian, lagi-lagi keprihatinan yang disampaikan oleh tokoh lintas agama tentang bencana bagi rakyat yang ditimbulkan dari penerapan ekonomi pasar bebas dan keberpihakan pembangunan pada segelintir orang kaya adalah fakta yang tak terbantahkan yang menuntut penyelesaian.  Bahkan meskipun indikator statistik telah memperlihatkan kinerja yang lebih baik.
Butir kelima pernyataan tokoh lintas agama menyatakan bahwa meskipun konstitusi menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara hukum tetapi dalam pelaksanaannya hukum ternyata masih bisa dibeli dengan uang. Perang melawan korupsi hanya akan berhasil apabila prinsip pembuktian terbalik diterapkan secara penuh. 
Saya kira dalam hal ini pemerintah harus menyampaikan penjelasan secara jujur kepada publik tentang kompleksitas permasalahan korupsi, termasuk penanganannya, dan apa strategi yang akan dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah penegakan hukum dan korupsi yang telah menggurita dan saling mengkait tersebut.  Harus diakui bahwa perang melawan korupsi memang membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan mungkin tidak akan pernah selesai.  Meskipun demikian pemerintah, unit-unit lembaga penegak hukum dan unit-unit pemerintah lainnya, harus menyampaikan time-frame dan indikator kinerja yang jelas dan secara berkala menyampaikan laporan akuntabilitas kinerjanya kepada publik.         
Mengenai penerapan prinsip pembuktian terbalik, meskipun masih ada pro-kontra, hal tersebut memang bisa menangkap lebih banyak koruptor secara lebih cepat.  Sayangnya hingga kini pembuktian terbalik masih dibiarkan terus-menerus hanya sebagai wacana.  Kalau kita serius dalam pemberantasan korupsi semestinya RUU Pembuktian Terbalik yang pernah diajukan pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur harus segera kita tindaklanjuti.  Satu hal yang perlu saya ingatkan terkait dengan kalimat terakhir dalam butir 5 adalah hendaknya kita jangan berharap secara berlebihan bahwa penerapan prinsip pembuktian terbalik akan dapat menuntaskan perang melawan korupsi. Karena para koruptor akan selalu memikirkan cara-cara lain yang lebih efektif untuk menghilangkan jejak korupsinya.         
Butir keenam menyatakan bahwa pemerintah tidak memberi perhatian memadai terhadap korban pelanggaran HAM yang berat. Selain itu, pemerintah tidak mampu dan tidak menunjukkan niat untuk membela begitu banyak buruh migran yang mendapat perlakuan buruk di berbagai negara.  Padahal pembukaan UUD 45 mewajibkan pemerintah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia. 
Pada umumnya kasus-kasus pelanggaran HAM yang berat terjadi di masa pemerintahan Orde Baru, antara lain kasus Trisakti dan Semanggi, tragedi 27 Juli, penghilangan paksa aktivis 1997-1998, DOM Aceh, dan kasus 1965-1966. Lamanya waktu kejadian dan banyaknya para korban dan pelaku yang terlibat merupakan faktor penghambat utama mengapa kasus-kasus tersebut sulit diteruskan ke pengadilan.  Meskipun demikian, memang benar seharusnya pemerintah di era reformasi memberi perhatian yang memadai terhadap korban pelanggaran HAM tersebut.  Permasalahannya, sejauhmana dan dalam bentuk apa perhatian pemerintah tersebut harus diberikan kepada para korban?  Saya percaya para tokoh lintas agama pasti dapat memberikan masukan yang berharga kepada pemerintah.         
Perihal minimnya upaya pemerintah untuk membela para buruh migran yang mendapatkan perlakuan buruk, menurut saya, pemerintah seharusnya merespon dengan memberikan penjelasan secara transparan sejauhmana perlakuan buruk terhadap buruh migran tersebut telah dibelanya dan mengapa pemerintah tidak melakukan tindakan-tindakan pembelaan sebagaimana yang diharapkan, misalnya, oleh Migrant Care.  Sekali lagi saya ingin menambahkan bahwa pemerintah juga semestinya melindungi nasib para buruh kita di dalam negeri, antara lain melalui upaya penetapan upah minimum yang lebih baik dan upaya pembelaan terhadap para buruh yang mendapatkan perlakuan buruk dari perusahaannya.
Butir ke tujuh yang merupakan butir terakhir dari pernyataan tokoh lintas agama menegaskan bahwa kenyataan yang telah disampaikan pada butir-butir sebelumnya adalah bentuk pengingkaran terhadap UUD 45.  Oleh sebab itu kita harus mendesak pemerintah untuk menghentikan pengingkaran itu.  Apabila pemerintah menolak atau mengabaikan desakan tersebut, berarti pemerintah melakukan kebohongan publik.
Ada beberapa hal yang menarik dalam butir terakhir pernyataan tokoh lintas agama tersebut.  Pertama, apabila benar pernyataan tokoh lintas agama bahwa pemerintah telah mengingkari, melanggar atau mengkhianati amanat UUD 45, maka hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk menuju ke arah pemakzulan. Secara terpisah Syafii Maarif pernah secara tegas mengatakan bahwa kebijakan pemerintah saat ini yang cenderung pada neoliberalisme (pasar bebas yang tidak terkendali) adalah sebuah pengkhianatan yang harus cepat dihentikan.  Walaupun salah salah satu tokoh lintas agama Franz Magnis Suseno mengingatkan para pengkritik pemerintah yang sering menggunakan wacana neoliberalisme sebagai alat pemukul agar berhati-hati memahami dan mencermati kompleksitas permasalahan yang terkait dengan kebijakan ekonomi pemerintah tersebut. Terkait dengan isu upaya pemakzulan atau kemungkinan tokoh lintas agama ditunggangi oleh kelompok tertentu secara tegas telah dibantah oleh para tokoh lintas agama.  Meskipun awal tahun 2010 lalu para aktivis GIB, organisasi yang mendukung dan bekerjasama dengan gerakan tokoh lintas agama, pernah menuntut Presiden SBY untuk mundur.  Sebagaimana kita ketahui, GIB dimotori antara lain oleh Adhie Massardi, Ray Rangkuti, Yudi Latif, dan Efendi Gazali.
Kedua, kalau kita cermati pernyataan butir 1 sampai 6 yang disampaikan oleh tokoh lintas agama nampaknya sebagian besar dari ha-hal yang disebut sebagai "pengingkaran terhadap UUD 45" tersebut sebenarnya lebih merupakan kegagalan pemerintah untuk mencapai cita-cita sebagaimana tersebut dalam UUD 45, perbedaan pandangan ideologi, atau perbedaan penafsiran terhadap amanat UUD 45 antara pemerintah dan tokoh lintas agama.  Kalau memang demikian, barangkali sejak rezim Presiden Soekarno sampai rezim Presiden Megawati belum ada satu rezim pun di Indonesia yang telah berhasil bebas dari "pengingkaran terhadap UUD 45". Lalu, mengapa tokoh lintas agama memilih kata "pengingkaran terhadap UUD 45" yang lebih bersifat provokatif yang notabene merupakan bahasa politik, dan bukan bahasa yang biasa-biasa saja yang mudah dicerna oleh publik seperti "masalah-masalah serius yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah"?.  Apakah karena pilihan kata tersebut mengandung makna persoalan yang substantif, atau sekadar untuk menarik perhatian publik?    
Ketiga, pada kalimat terakhir butir 7 disebutkan bahwa jika pemerintah menolak atau mengabaikan desakan (tokoh lintas agama) untuk segera mengakhiri 6 butir "pengingkaran terhadap UUD 45" sebagaimana tersebut di atas, berarti pemerintah melakukan kebohongan publik. Kalimat pengandaian tersebut dapat pula dimaknai bahwa kalau pemerintah bersedia menerima desakan tersebut, berarti pemerintah tidak melakukan kebohongan publik.  Terlepas apakah pada saat perumusan pernyataan tersebut para tokoh lintas agama dipengaruhi oleh suasana pro-kontra di masyarakat yang cukup menegangkan dan pertimbangan bahwa pernyataan tersebut akan dibacakan secara langsung di hadapan Presiden SBY dan para anggota kabinetnya di Istana Negara, bagi saya pernyataan tersebut merupakan sikap yang lebih melunak dari para tokoh lintas agama, terutama bila dibandingkan dengan pernyataan mereka sebelumnya tentang 18 kebohongan pemerintahan SBY
Hal lain yang menarik adalah jika pada pernyataan sebelumnya yang disampaikan di kantor PP Muhammadiyah lebih ditekankan pada butir-butir kebohongan pemerintah, dimana sebagian besar disebutkan secara eksplisit merupakan kebohongan Presiden SBY, pada pernyataan tokoh lintas agama yang dibacakan di Istana Negara lebih ditekankan pada butir-butir pengingkaran terhadap UUD 45, walaupun butir 1 dan butir 3 tidak disebutkan secara eksplisit keterkaitannya dengan UUD 45.  Selain itu, jika pernyataan 18 kebohongan pemerintahan SBY nampaknya telah berhasil "menampar" Presiden SBY, maka kalimat pengandaian tentang kebohongan pemerintah tersebut di atas dan pernyataan tokoh lintas agama bahwa mereka tidak bermaksud mengatakan Presiden SBY berbohong secara tidak sengaja telah "mempermalukan" para tokoh lintas agama itu sendiri.                    
Dapatkah Dialog Menjadi Solusi?
Setelah konflik antara pemerintahan Presiden SBY dan tokoh lintas agama telah memasuki ruang publik, lalu apa yang harus mereka lakukan?  Ketika konflik muncul biasanya komunikasi, dialog, atau diplomasi merupakan salah satu cara untuk menyelesaikannya.  Dalam dialog biasanya ada proses klarifikasi untuk meluruskan kemungkinan kesalahpahaman dan mungkin dilanjutkan dengan penandatanganan beberapa kesepakatan atau kerjasama yang harus dipatuhi atau ditindaklanjuti oleh kedua pihak.  Sejauh ini kita sama sekali belum melihat adanya kesepakatan yang telah dibuat oleh Presiden SBY dan para tokoh lintas agama.  Sementara sejumlah aksi para aktivis GIB telah dilakukan untuk mencari simpati dan menarik perhatian publik.  
      
Dialog bisa saja gagal mencapai tujuan karena kandas di tengah jalan.  Kepentingan ego, ketidakjujuran, dan perbedaan latar belakang pendidikan biasanya merupakan faktor utama yang dapat menghambat upaya untuk menemukan titik temu di antara kedua pihak.  Untuk berdiskusi tentang masalah-masalah kebijakan politik, ekonomi dan hukum pasti tidak akan efektif kalau dilakukan oleh Presiden SBY dan para tokoh lintas agama.  Dalam hal ini saya menyarankan agar kelompok badan pekerja tokoh lintas agama dapat melakukan diskusi dengan mereka yang mewakili pemerintah sesuai dengan bidang dan kompetensinya. 
Selain itu, diskusi atau dialog yang mereka lakukan tidak akan mampu meredam konflik apabila dialog tersebut tidak menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang mengikat kedua pihak, termasuk pengenaan sanksi apabila dilakukan pelanggaran.  Saya menyarankan agar semua hasil kesepakatan tersebut juga disampaikan kepada publik.  Maksud saya, agar masyarakat dapat berperan sebagai saksi dan sekaligus dapat mengawasi pelaksanaan kesepakatan yang dilakukan oleh kedua pihak.  Kita tunggu saja apakah dialog antara pemerintah dan tokoh lintas agama akan menghasilkan sejumlah kesepakatan atau berujung pada jalan buntu.  Hasil dari dialog yang mereka lakukan akan menentukan apakah konflik akan dapat dihentikan atau berlanjut dalam eskalasi yang mungkin lebih mencekam.
Akankah Konflik Berubah Menjadi Bola Salju?
Konflik yang kita saksikan antara para tokoh lintas agama dan Presiden SBY tersebut telah mendorong saya untuk memberikan beberapa catatan sebagai berikut.  Pertama, pemerintah resah karena para tokoh lintas agama resah.  Padahal apa yang mereka resahkan tersebut sesungguhnya bukanlah suatu kondisi yang sudah sangat gawat bagi kelangsungan hidup bangsa sebagaimana yang mereka bayangkan, atau bukanlah merupakan substansi permasalahan yang sebenarnya.  Kedua, konflik terbuka yang seharusnya tidak perlu terjadi tersebut patut disesalkan karena dilakukan oleh para tokoh dan pemimpin kita yang seharusnya memberikan contoh sikap dan perilaku yang baik kepada masyarakat.  Bagaimana kita bisa berharap supaya semua kelompok masyarakat kita yang berbeda suku, strata, budaya dan agama bisa hidup rukun berdampingan kalau sikap dan perilaku para tokoh dan pemimpin kita tidak layak untuk dijadikan sebagai panutan.  Ketiga, apabila tidak dapat dikendalikan secara efektif, eskalasi konflik yang melibatkan para tokoh dan pemimpin kita tersebut dapat berkembang menjadi bola salju yang dapat meruntuhkan sendi-sendi tatanan kenegaraan dan demokrasi kita yang telah dengan susah payah kita bangun dan pelihara. 

Menurut duo "Faisal dan Chatib" Basri, tahun 2011 adalah kesempatan emas bagi Indonesia.  Kita tentu tidak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut dengan membuang-buang waktu dan energi kita secara percuma untuk mengatasi kegaduhan politik yang penuh dengan intrik, sebagaimana yang terjadi pada tahun sebelumnya. Diperlukan strategi dan langkah-langkah antisipasi yang efektif untuk secara cepat menghentikan kegaduhan politik yang akan terjadi pada tahun ini yang, menurut seorang pengamat politik, mungkin akan lebih ganas dari tahun sebelumnya. Sebelum terlambat, kita harus segera menghentikan suara gaduh yang ditimbulkan oleh "nyanyian kebohongan" para tokoh dan pemimpin kita.

    

Jembatan Terpanjang di Dunia Hubungkan 3 Kota Sekaligus

Jembatan Terpanjang di Dunia Hubungkan 3 Kota Sekaligus


Jembatan Terpanjang di Dunia

Jembatan terpanjang di dunia selesai dibangun di Cina setelah empat tahun pengerjaan. Jembatan sepanjang 42,5 kilometer yang memiliki persimpangan tersebut menghubungkan tiga kota di Cina. Jembatan itu menghubungkan Kota Qingdao di sebelah timur Provinsi Shandong dengan Distrik Huangdao. Panjang jembatan tersebut mencapai 42,5 kilometer atau sekitar delapan kali lebih panjang dari jembatan Suramadu di Jawa Timur, Indonesia, yang memiliki panjang 5,4 kilometer.

Jembatan bernama Qingdao Haiwan tersebut dibangun dua tim berbeda yang mengerjakan sejak 2006. Pembangunan selesai pada Senin (27/12). Jembatan menghubungkan tiga kota pantai di Provinsi Shandong. Salah satu teknisi mengatakan, “Contoh dari komputer dan perhitungannya semua sangat bagus. Tapi Anda tidak bisa bersantai sampai kedua sisi menyatu. Kerenggangan beberapa sentimeter saja bisa memicu bencana.”


Jembatan Terpanjang di Dunia

Jembatan Terpanjang di Dunia

Jembatan terpanjang di dunia ini dibangun salah satu tujuannya ternyata hanya untuk menyingkat jarak tempuh 20 menit dari 2 kota yang berhubungan

Jembatan Qingdao Haiwan menyisihkan jembatan Lake Pontchartrain Causeway di Louisiana, Amerika Serikat. Lake Pontchartrain Causeway memiliki panjang 38,42 kilometer.
 

Pohon Baobab, Pohon Besar Yang Kelihatan Terbalik

Pohon Baobab, Pohon Besar Yang Kelihatan Terbalik



Pohon Baobab, Pohon Besar Yang Kelihatan Terbalik



Adansonia Digitata , atau pohon Baobab adalah pohon yang tampak aneh yang tumbuh di dataran rendah di Afrika dan Australia. Baobab juga disebut pohon yang terbalik karena minim daun, cabang-cabang Baobab seperti mencuat ke udara, seolah-olah telah ditanam terbalik.

Legenda menyatakan bahwa dewa Thora tidak menyukai Baobab tumbuh di kebunnya, sehingga ia melemparkannya dari atas dinding surga ke bumi di bawah, dan meskipun pohon itu mendarat terbalik namun pohon itu terus tumbuh. Cerita lain bahwa ketika Baobab ditanam oleh Dewa, tapi pohon itu terus berjalan ,sehingga Tuhan menarik pohon itu ke atas dan menanannya terbalik untuk menghentikannya bergerak.

Pohon Baobab ini diakui oleh orang Afrika karena semua bagiannya dapat dimanfaatkan. Selain menjadi sumber penting kayu, batang-batang berongga oleh orang-orang sering digunakan untuk tempat berlindung, penyimpanan biji-bijian atau sebagai reservoirair.


Pohon Baobab dapat tumbuh mencapai ketinggian 5 sampai 30 meter dan memiliki diameter batang 7 sampai 11 meter. Satu Baobab di Provinsi Limpopo, Afrika Selatan, sering dianggap contoh pohon Baobab terbesar yang masih hidup. Pohon itu memiliki keliling 47meter - diameternya diperkirakan sekitar 15,9 meter. Baru-baru ini pohon itu terbagi menjadi dua bagian dan sangat mungkin bahwa pohon stoutest sekarang adalah Sunland Baobab, juga di Afrika Selatan dengan diameter 10,64 m dan keliling perkiraan 33,4 meter. Baobabs juga dapat mencapai usia ribuan tahun.

pohon baobab


pohon baobab

Batang cekung juga berfungsi sebagai tempat pemakaman. Beberapa produk yang paling penting berasal dari kulit pohonnya, yang mengandung serat yang digunakan untuk membuat jaring ikan, tali, karung dan pakaian.

pohon baobab


pohon baobab

Kulit kayunya juga dapat tanah menjadi bubuk untuk aroma makanan. Daun baobab yang secara tradisional digunakan untuk ragi tetapi juga digunakan sebagai sayuran. buah-buahan dan bijijuga dimakan bagi manusia dan hewan.isi dari buah, ketika dikeringkan dapat dicampur dengan air, membuat minuman yang rasanya mirip dengan limun. Benihnya, yang rasanya seperti creamtartar dan merupakan sumber vitamin C, secara tradisional ditumbuk ke dalam makanan ketika makanan lainnya langka. Produk lain seperti sabun, kalung, lem, obat karet, dan kain dapat dihasilkan dari berbagai bagian dari pohon baobab.

At.mosphere, Restoran Tertinggi di Dunia

At.mosphere, Restoran Tertinggi di Dunia





Sebuah restoran tertinggi di dunia "At.mosphere" yang berada di bangunan tertinggi di dunia Burj Khalifa, Dubai, dibuka, Minggu, menurut laporan media setempat.

Restoran itu berlokasi di ketinggian 442 meter di lantai 122 bangunan Burj Khalifa, yang berketinggian lebih dari 800 meter di atas tanah.  At.mosphere dapat menampung hingga 210 tamu, yang mendapat akses lift khusus untuk mencapai ketinggian itu. Perjalanan ke lantai restoran itu hanya memakan waktu 57 detik.

Menu yang ditawarkan di restoran tersebut adalah makanan Eropa yang dipanggang, sementara itu para tamu disarankan untuk melakukan pemesanan sebelum datang ke restoran. "Kami ingin menghadirkan pengalaman khusus di restoran sehingga orang akan datang kembali ke sini," kata CEO perusahaan Emaar Hospitality Group, Marc Dardenne, yang mengelola restoran tersebut.

The Coming Famine

"A quart of wheat for a day's wages, and three quarts of barley for a day's wages" (Revelation 6:6).

That verse, which comes from Revelation 6 is a description of the famine which comes early in the Tribulation. According to the NIV study Bible, we read:

"Wheat...barley. One quart of wheat would be enough for only one person. Three quarts of the less nutritious barley would be barely enough for a small family. Famine had inflated prices to at least ten times their normal level."

According to Jesus: "There will be famines and earthquakes in various places" (Matthew 24:7)

"There will be great earthquakes, famines and pestilences in various places, and fearful events and great signs from heaven" (Luke 21:11)

This leads to yet another article predicting this scenario:

Food prices rocket by 50% as global hunger epidemic causes riots and famines

The increase will be triggered by the exploding world population, rising cost of fuel and increased competition for water, according to a leading Government think-tank.

Spiralling food prices will push hundreds of millions of people into hunger, trigger mass migration and spark civil unrest, the report warned.

Global food prices are already at a record high. Last month the price of cereals, sugar and meat soared on the world’s markets after a series of crop failures caused by bad weather.

At the same time, climate change will increase the risk of droughts, floods and crop failures – creating a ‘perfect storm’ of food shortages and above-inflation rises in prices.

Professor John Beddington, the Government’s chief scientific adviser, said the food system was failing.

‘Firstly it is unsustainable, with resources being used faster than they can be naturally replenished,’ he said.

‘Secondly a billion people are going hungry with another billion people suffering from “hidden hunger”, whilst a billion people are over-consuming.’


Worsening famine will be coming on the earth, exactly as predicted by biblical prophecy. Just like the other signs, this one too is marching along - right into the Tribulation.

Snow Men?

This article may mean absolutely nothing, but it is interesting that this story is not being widely discussed or reported.

Is there something going on that we should know about?

Snow Men

The scene: Near midnight, January. Wednesday


Times Square, NYC. One of the world's busiest crossways. A fresh blanket of heavy, wet, billowing snow across the most populous city in the U.S., the city's sixth major snowstorm in the still-young winter season. Even though we are muffled and layered, furred and gloved, booted and hatted, the wind whips compact particles of ice and stinging snow into our faces at a curt clip. The temperature is below freezing.

We pass in front of the AMC movie theatre on 42nd and 8th, hard by the glimmering, somber New York Times building, one block south, and across the street from the often hive-busy Port Authority. Even with the 19th century daguerrotype-look of tonight's diorama, this is a happening and vibrant part of the city. Not any kind of backwoods culvert.


This is where the story takes a turn:

We notice a knot of men dressed all in black. They are outfitted in full Kevlar regalia, their clothing tight to their fit forms, with black half face-masks covering their noses, chins and lips. They have full black, big machine guns, which are not resting by their sides in a relaxed stance. The weapons are held at the ready. The frogmen-like special forces eye everyone who passes. Look up, scan down, watch warily.

It's New York, in the middle of the arctic night, but this is, after all, Hollywood East-are they actors, hired to promote a new flick? We're pretty savvy, but the presence of these military in gear that spells Trouble stops us in our tracks.

"Are you guys real? Or...maybe actors? Are you promoting something?" I ask, my usual reticence and shy Ms. Demeanor not fretting during the usual doh-si-doh indulged in by citizens when faced with constabulary of any kind. Aren't most people discreetly guilty until relieved by business as usual restores itself?

One guy graciously speaks to me from behind his face-mask. "We're real." He holds the firearm at an angle, skywards, but not at rest. He does not stop panning the street with his eyes as we speak. His fingers lightly stroke the long black gun.


Here, the story becomes more interesting:

Why are you here?" I pursue, baffled. I am well aware that the Big Apple is in major debt in the multi-billions, and these men--who, I notice, are up and down the street -- do not come cheap. Actually, this is the first time I have seen such military troop-type men on the street since 2001.

"Uh, you know," says the tall military guy with a huge black rifle and the restless eyes. "Um, 9-11..."

I am taken aback. "Do you mean there was some kind of alert--you're here in response to some kind of...current intelligence?" I am not being charming. No need to worry about this woman. She's not wearing a mask, she's smiling, and she's being just, you know, charming as all get-out. She's in a long mink, and a funky hat, now entirely white.

He nods. Yep.


An alert?

The other Kevlar'ed men nearby also nod, watching me, my companion, and the street, as the snow swirls down and the wind buffets us all with flurries and flakes of ice and snon

It's not by accident these men in their serious gear are here, this late, this cold, in this area. With our mental calculators ever more sharply attuned to the grimace of imminent city bankruptcy, the reality of a threat this impending, this live, is a sudden concussive realization. They know something the mayor has not announced to the residents of the city. People can go about their usual business, unaware of the evident risk these men have been told about. I listen to two or three radio news shows all day, keep my BlackBerry

But the threat is right here. Men in black dotting our wide white streets. Men with no-BS weapons. Pretty much aiming at anything untoward.

Net-net takeaway: They wouldn't be here if there was nothing to worry about.


Hmmmm. Perhaps we will hear more about this "threat" in the near future. For now, we are left to ponder what we currently don't know and what may be on the horizon.